Minggu, 28 Maret 2010

ALL ABOUT KEJUJURAN

Kejujuran

Oleh: Albert Hendra Wijaya dikutip dan diedit lagi: JONI RASMANTO SKM MKES

Arti jujur

Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya.

Kenapa harus jujur?

Saya sering mendengar orang tua menasehati anak supaya harus menjadi orang yang jujur. Dalam mendidik dan memotivasi supaya seorang anak menjadi orang yang jujur, kerap kali dikemukakan bahwa menjadi orang jujur itu sangat baik, akan dipercaya orang, akan disayang orang tua, dan bahkan mungkin sering dikatakan bahwa kalau jujur akan disayang/dikasihi oleh Tuhan. Tapi setelah mencoba merenungkan dan menyelami permasalahan kejujuran ini, saya masih merasa tidak mengerti: "Kenapa jadi orang harus jujur?"

Umumnya jawaban yang saya dapat adalah bahwa kejujuran adalah hal yang sangat baik dan positif, dan kadang saya juga mendapat jawaban bahwa "Pokoknya jadi orang harus jujur!"

Jawaban-jawaban tersebut sampai saat ini memang sudah saya anggap "benar", tapi saya masih selalu tergelitik untuk terus mempertanyakan: "Kenapa orang harus jujur? Apakah baik dan positifnya? Lalu bagaimana juga jika dikaitkan dengan proses Siu Tao ( ) kita?"

Bagaimana bersikap jujur

Selain pertanyaan - pertanyaan diatas, selanjutnya dalam benak saya timbul pertanyaan: " Bagaimanakah kejujuran itu dapat dipraktekkan dalam sehari-hari, serta bagaimanakah sikap kita sebagai (dibaca: agar dapat menjadi) seorang Tao Yu ( ) yang jujur?"

* Apakah kita sama sekali tidak boleh berbohong?
* Dan mungkinkah kita selalu jujur dalam kehidupan sehari-hari ini?
* Ataukah masih ada toleransi bagi kita untuk berbohong dalam hal-hal tertentu atau demi kepentingan tertentu?

Nah, sekali lagi saya mengajak para pembaca untuk merenungkannya bersama!

Contoh yang "Lucu" (dibaca: tidak jujur)

Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering melihat (bahkan juga ikut terlibat) dalam berbagai macam bentuk aktivitas interaksi sosial dimasyarakat, yang justru kebanyakannya adalah wujud realisasi dari sikap tidak jujur dalam skala yang sangat bervariasi, seperti:

Sering terjadi, orang tua bereaksi spontan saat melihat anaknya terjatuh dan berkata "Oh, tidak apa-apa! Anak pintar, enggak sakit, kok! Jangan nangis, yach!".

Menurut saya, dalam hal ini secara tidak langsung si-anak diajarkan dan dilatih kemampuan untuk dapat "berbohong", menutup-nutupi perasaannya (sakit) hanya karena suatu kepentingan (supaya tidak menangis).

Selain itu saya juga sering melihat dan mengalami kejadian seperti: Saat seseorang bertamu kerumah orang lain, ketika ditanya: " Sudah makan, belum?", walaupun saya yakin tawaran sang tuan rumah "serius" biasanya dengan cepat saya akan menjawab "Oh, sudah!! Kita baru saja makan ", padahal sebenarnya saya belum makan.

Dalam lingkungan usaha / dagang, kejujuran sering disebut-sebut sebagai modal yang penting untuk mendapatkan kepercayaan. Akan tetapi sangat kontroversial dan lucunya kok dalam setiap transaksi dagang itulah justru banyak sekali kebohongan yang terjadi. Sebuah contoh saja: penjual yang mengatakan bahwa dia menjual barang "tanpa untung" atau "bahkan rugi" hampir bisa diyakini pasti bohong.

* Nah, jika demikian, lalu dimanakah letaknya kejujuran itu?
* Atau bagaimanakah kejujuran yang dimaksud tersebut dapat diaplikasikan dalam dunia sehari-hari?

Dalam Siu Tao

* Apakah belajar Tao () mengejar Kesempurnaan harus tidak pernah berbohong sama sekali?
* Lalu bagaimanakah kita dapat menjalani hidup ini yang juga mau tidak mau "harus" bertopeng?
* Apakah mungkin, kita bisa tidak pernah berbohong sama sekali dalam hidup ini?

Pernah saya mencoba meyakinkan diri bahwa saya memang sudah "Jujur", tapi kemudian akhirnya saya kesulitan menjawab pertanyaan: "Apakah saya tidak membohongi diri sendiri?"

Lalu bagaimanakah sebenarnya? Nah, semoga para pembaca budiman bisa memberikan jawabannya (tentunya jawaban yang jujur , lho!).

Ada beberapa aspek JUJUR dalam Islam:

Pertama, Jujur dalam kehidupan sehari-hari; merupakan anjuran dari Allah dan Rasulnya. Banyak ayat Al Qur'an menerangkan kedudukan orang-orang jujur antara lain: QS. Ali Imran (3): 15-17, An Nisa' (4): 69, Al Maidah (5): 119. Begitu juga secara gamblang Rasulullah menyatakan dengan sabdanya: "Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)

Kedua, kejujuran dan kebohongan dalam kehidupan politik; ada hadits yang menyatakan dengan tegas bahwa Rasulullah bersabda: "Ada tiga kriteria manusia yang tidak dilihat dan disucikan Allah swt. di hari akherat bahkan bagi mereka adzab yang pedih adalah: Orang sudah tua yang berzina, Pemimpin yang berdusta, dan Orang sombong.

Adapun kebohongan yang diperbolehkan dalam kaitan untuk kegiatan berpolitik, yaitu apabila kebohongan itu bisa meredam keributan sosial agar tidak terjadi perpecahan. Dalam hal ini Rasulullah saw. memberi keringanan seperti dalam hadis dari Ummi Kaltsoum: "Saya tidak mendengar Rasulullah saw. memberi keringanan pada suatu kebohongan kecuali tiga masalah: Seseorang yang membicarakan masalah dengan maksud mengadakan perbaikan (Islah); seseorang membicarakan masalah pada saat konflik perang (agar selamat), dan seseorang yang merayu istrinya begitu juga istri merayu suami.(HR. Muslim) Ada juga hadits yang menyatakan, Rasulullah bersabda: "Bukanlah pendusta orang yang ingin melerai konflik sesama, hingga orang tersebut berkata: semoga baik dan menjadi baik" (HR. Mutafaq Alaih)

Begitulah batas kejujuran dan kebohongan secara dasar yang berkaitan dengan keseharian dan politik. Dan sudah jelas bahwa tujuan dari keduanya adalah untuk sebuah kedamaian.

Namun dalam kaitan politik kontemporer yang lebih pelik lagi dan kompleks, Anda sendiri bisa memilah-milah bagaimana kehidupan politik para penguasa sekarang sangat tidak memperhatikan nilai kejujuran. Namun kita menyadari bahwa sistem negara Islam sendiri juga masih dalam perselisihan hingga sebaiknya yang perlu kita lihat adalah person atau oknum dalam memimpin kepemerintahan tersebut. Selanjutnya kita berdoa agar sistem yang memberi peluang terhadap kebohongan bisa diminimalisir. Dan itu berangkat dari sistem kepribadian kita.

Menurut Robert T.Kiyosaki,aset adalah apa yang dapat memasukkan uang ke kantong anda dan bisa dijual.Sedang menurut saya,aset adalah sesuatu yang berharga,atau bahkan sangat berharga yang bisa menghasilkan sesuatu.

Agak mirip ya?

Tidak juga! Kalau pendapat Kiyosaki,segalanya menyangkut uang,sedangkan pendapat saya lebih dari itu,lebih luas daripada sekedar mendapatkan uang.Yang didapatkan bisa hubungan baik dengan orang lain,persahabatan,kebahagiaan,dan lain-lain yang menurut saya lebih berharga dari uang.

Saya tidak mengesampingkan fungsi uang dalam kehidupan.Uang memang sangat penting.Tapi,mengaitkan segala sesuatu dengan uang adalah sifat orang yang materialistis.Orang semacam ini,akan sulit sekali mempunyai sifat tulus dan mungkin akan kehilangan hal-hal berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Salah satu aset berharga yang kita sungguh beruntung apabila memilikinya adalah kepercayaan orang lain kepada kita.Kepercayaan bisa menghasilkan sesuatu yang berharga kepada kita,termasuk uang.Untuk mendapatkan kepercayaan,banyak hal yang harus kita miliki,misal tanggung jawab,dedikasi,dan kejujuran.Yang menjadi pembahasan kita kali ini adalah tentang kejujuran,bagaimana perannya sebagai aset yang harus kita jaga,agar aset lainnya,yaitu kepercayaan bisa terjaga.

Kejujuran merupakan sifat yang sangat baik.Bahkan saya berani mengatakan orang yang baik pasti jujur.Orang yang jujur akan mendapat tempat yang baik pada hati manusia.Sifat jujur harus dimiliki oleh setiap pedagang,pengusaha,pegawai,apalagi seorang pemimpin.Tapi kenyataan sekarang,sering kita lihat orang-orang semacam mereka yang mengorbankan kejujuran hanya untuk meraup keuntungan yang sedikit.Mereka tidak segan-segan merugikan orang lain untuk itu.Saya berpikir,bagaimana kalau kepercayaan orang lain hilang sementara dia sangat membutuhkan,pastinya dia akan sangat kesulitan.

Apabila anda ditipu oleh seseorang,apakah anda mau lagi mempercayakan sesuatu kepada dia? Jawabannya pasti anda tidak mau,kecuali anda mempunyai alasan tertentu.Sebaliknya,ketika anda mempercayakan sesuatu kepada orang yang ternyata jujur,membeli kepada pedagang yang anda lihat jujur,rasa cinta anda kepada kejujurannya bisa menjadikan keinginan untuk ‘kembali kepada dia’.Ini salah satu dampak kejujuran.Dan selain itu banyak sekali dampak positifnya.

Cara Menumbuhkan Kejujuran

Segala sesuatu bila dibiasakan,niscaya akan menjadi sebuah kebiasaan.Entah itu yang baik ataupun yang buruk.Membiasakan diri untuk selalu jujur,walaupun dalam hal yang dalam pandangan kita kecil,akan membuat kejujuran menjadi kebiasaan kita.Jangan meremehkan yang kecil,sebab,sesuatu yang besar bermula dari yang kecil.Terkadang,tanpa sadar kita mengajarkan bohong kepada anak kita.Misalnya,karena malas untuk menemui tamu,kita meminta tolong kepada anak kita untuk mengatakan kepada tamu bahwa kita tidak ada.Sebagai orang tua kita harus menjadi contoh yang baik.Berlakulah jujur agar anak anda jujur.

Bergaulah dengan orang jujur agar anda ‘tertular’ sifat mereka.Pergaulan sangat berpengaruh terhadap kepribadian kita.Orang yang terbiasa bergaul dengan orang yang tidak jujur,dikhawatirkan lambat laun meniru sifatnya.Awal korupsi yang besar berasal dari hal-hal seperti ini.

Menjaga Kepercayaan

Apabila kita sudah diberi kepercayaan karena orang lain menganggap kita jujur,maka jangan sia-siakan kepercayaan mereka.Rawatlah kepercayaan mereka dengan selalu bersikap jujur.Kita taburkan benih-benih kejujuran kepada orang lain,dengan harapan dia mengikuti kita. Kekuatan doa juga sangat berpengaruh terhadap hal ini.Semoga saja,anda semakin dicintai orang lain dan mendapatkan hal-hal yang lebih daripada yang anda inginkan.

Jujur adalah sebuah ungkapan yang acap kali kita dengar dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.

Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,

“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.”

Definisi Jujur

Jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.

Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).

Allah berfirman,

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah: 119)

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)

Keutamaan Jujur

Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi,

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”

Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.

Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.

Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,

“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”

Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.

Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.

Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya -dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruf), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.

Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. al-Maidah: 119)

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)

“Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad: 21)

Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”

Macam-Macam Kejujuran

1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.
2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (QS. al-Ahzab: 23)

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

“Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS. at-Taubah: 75-76)
4. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”
5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hujurat: 15)

Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.

Khatimah

Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran sebagaimana firman Allah,

“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’: 80)

Allah juga mengabarkan tentang Nabi Ibrahim yang memohon kepada-Nya untuk dijadikan buah tutur yang baik.

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. asy-Syu’ara’: 84)

Hakikat kejujuran dalam hal ini adalah hak yang telah tertetapkan, dan terhubung kepada Allah. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan akhirat. Allah telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat, baik berupa keimanan, sedekah ataupun kesabaran. Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Allah berfirman,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintai kepada karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 177)

Di sini dijelaskan dengan terang bahwa kebenaran itu tampak dalam amal lahiriah dan ini merupakan kedudukan dalam Islam dan Iman. Kejujuran serta keikhlasan keduanya merupakan realisasi dari keislaman dan keamanan.

Orang yang menampakkan keislaman pada dhahir (penampilannya) terbagi menjadi dua: mukmin (orang yang beriman) dan munafik (orang munafik). Yang membedakan diantara keduanya adalah kejujuran dan kebenaran atas keyakinannya. Oleh sebab itu, Allah menyebut hakekat keimanan dan mensifatinya dengan kebenaran dan kejujuran, sebagaimana firman Allah,

“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al-Hasyr: 8)

Lawan dari jujur adalah dusta. Dan dusta termasuk dosa besar, sebagaimana firman Allah,

“Kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali Imran: 61)

Dusta merupakan tanda dari kemunafikan sebagaimana yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga perkara, yaitu apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mungkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianati.” (HR. Bukhari, Kitab-Iman: 32)

Kedustaan akan mengantarkan kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan akan menjerumuskan ke dalam neraka. Bahaya kedustaan sangatlah besar, dan siksa yang diakibatkannya amatlah dahsyat, maka wajib bagi kita untuk selalu jujur dalam ucapan, perbuatan, dan muamalah kita. Dengan demikian jika kita senantiasa menjauhi kedustaan, niscaya kita akan mendapatkan pahala sebagai orang-orang yang jujur dan selamat dari siksa para pendusta. Waallahu A’lam.

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. az-Zumar: 32-35)

Referensi:

1. Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
2. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.
3. Mukhtarat min Al-Khutab Al-Mimbariah, karya Syaikh Shalih ibn Fauzan ; cet. Ke – 1, Jam’iayah Ihya’ At-Turats Al-Islamy.
4. Syarh Riyadhus As-Shalihin, karya Syaikh Mahammad ibn Shalih Al-Utsaimin ; cet – 1 ; Dar- Wathan, Riyadh, KSA.

(Diambil dari majalah Fatawa)

Minggu, 21 Maret 2010

Informed Consent

Ethics, audit, and research: all shades of grey
Derick T Wade BMJ 2005;330:468-471 , doi:10.1136/bmj.330.7489.468
[Extract] [Full text] [PDF]
patients may be less risk averse than committees
Shirley Nurock BMJ 2005;330:471-472 , doi:10.1136/bmj.330.7489.471
[Extract] [Full text] [PDF]
Research ethics committees deserve support
John Alexander BMJ 2005;330:472-473 , doi:10.1136/bmj.330.7489.472
[Extract] [Full text] [PDF]
ethical review and ethical behaviour John McMillan and Mark Sheehan BMJ 2005;330:473 , doi:10.1136/bmj.330.7489.473
[Extract] [Full text] [PDF]

Use and offering of chaperones by general practitioners: postal questionnaire survey in Norfolk Shaun Conway and Ian Harvey BMJ 2005;330:235-236, doi:10.1136/bmj.38320.472986.8F [Full text] [PDF]
Concealment of drugs in food and beverages in nursing homes: cross sectional study
Øyvind Kirkevold and Knut Engedal BMJ 2005;330:20, doi:10.1136/bmj.38268.579097.55
[Abstract] [Abridged text] [Abridged PDF] [Full text] [PDF]
Use and offering of chaperones by general practitioners: postal questionnaire survey in Norfolk Shaun Conway and Ian Harvey BMJ, doi:10.1136/bmj.38320.472986.8F (published 16 December 2004) [Online First PDF]
Concealment of drugs in food and beverages in nursing homes: cross sectional study
yvind Kirkevold and Knut Engedal BMJ, doi:10.1136/bmj.38268.579097.55 (published 23 November 2004) [Abstract] [Online First PDF]
Iranian national thalassaemia screening programme Ashraf Samavat and Bernadette Modell BMJ 2004;329:1134-1137 , doi:10.1136/bmj.329.7475.1134
[Full text] [PDF]
Surgeon found liable for not warning of partial paralysis risk Clare Dyer
BMJ 2004;329:938 , doi:10.1136/bmj.329.7472.938-a [Extract] [Abridged text] [Abridged PDF] [Full text]

Most recent content (26 Feb 2005):
Ethics, audit, and research: all shades of grey Derick T Wade
BMJ 2005;330:468-471 , doi:10.1136/bmj.330.7489.468 [Extract] [Full text] [PDF]
patients may be less risk averse than committees Shirley Nurock
BMJ 2005;330:471-472 , doi:10.1136/bmj.330.7489.471 [Extract] [Full text] [PDF]
Research ethics committees deserve support John Alexander
BMJ 2005;330:472-473 , doi:10.1136/bmj.330.7489.472 [Extract] [Full text] [PDF]
ethical review and ethical behaviour John McMillan and Mark Sheehan
BMJ 2005;330:473 , doi:10.1136/bmj.330.7489.473 [Extract] [Full text] [PDF]
Past content (since Jan 1998): Use and offering of chaperones by general practitioners: postal questionnaire survey in Norfolk Shaun Conway and Ian Harvey
BMJ 2005;330:235-236, doi:10.1136/bmj.38320.472986.8F [Full text] [PDF]
Concealment of drugs in food and beverages in nursing homes: cross sectional study
Øyvind Kirkevold and Knut Engedal BMJ 2005;330:20, doi:10.1136/bmj.38268.579097.55
[Abstract] [Abridged text] [Abridged PDF] [Full text] [PDF]
Use and offering of chaperones by general practitioners: postal questionnaire survey in Norfolk Shaun Conway and Ian Harvey BMJ, doi:10.1136/bmj.38320.472986.8F (published 16 December 2004) [Online First PDF]
Concealment of drugs in food and beverages in nursing homes: cross sectional study
yvind Kirkevold and Knut Engedal BMJ, doi:10.1136/bmj.38268.579097.55 (published 23 November 2004) [Abstract] [Online First PDF]
Iranian national thalassaemia screening programme Ashraf Samavat and Bernadette Modell BMJ 2004;329:1134-1137 , doi:10.1136/bmj.329.7475.1134 [Full text] [PDF]
Surgeon found liable for not warning of partial paralysis risk Clare Dyer
BMJ 2004;329:938 , doi:10.1136/bmj.329.7472.938-a [Extract] [Abridged text] [Abridged PDF] [Full text]

This blog has moved


This blog is now located at http://jonirasmanto.blogspot.com/.
You will be automatically redirected in 30 seconds, or you may click here.

For feed subscribers, please update your feed subscriptions to
http://jonirasmanto.blogspot.com/feeds/posts/default.

Jumat, 09 Mei 2008

human being or being human

menjadi manusia atau menjadikan seseorang menjadi manusia sebenarnya adalah koneksivitas antara 2 makhluk ciptaan tuhan yang berakal dan berbudi terhadap sesamanya dan juga dapat terhadap diri sendiri,.... tetapi jika itu ingin diberlakukan secara komprehensif maka manusia sebagai makhluk bio-fisik-psiko-sosial-spritual tidak dapat dipisah-pisahkan.
pepatah cina yang menggambarkan human being or being human:
1. jangan buka toko jika tidak mampu tersenyum
2. bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering
3. "halgailah olang lain sepelti kamu menghalhai dili sendili"
4. takut sama ulal jangan berdili dihadapannya
5. and banyak lagi,......
materi saduran ini juga dapat mendukung pernyataan saya ini tentang apa yang saya nyatakan:
"Menembak" 1 Sel Telur dengan 1 Sperma
Teknologi reproduksi kini telah menembus berbagai metode canggih untuk menolong pasangan yang kesulitan mendapatkan keturunan. Gebrakan pertama terjadi saat metode "bayi tabung" pertama melahirkan Louise Brown asal Inggris pada 1978. Setelah itu, banyak teknik lain yang lebih mengagumkan berturut-turut ditemukan, termasuk metode penyuntikan satu sperma terhadap satu sel telur secara in vitro.


Cikal bakal manusia.

Setelah menunggu delapan tahun, akhirnya Rina (nama samaran) berhasil melahirkan seorang bayi mungil berkat bantuan teknologi rekayasa reproduksi in vitro atau lebih populer disebut "bayi tabung".
Ia bahagia sekali saat diberi tahu dirinya berhasil mengandung. Semula suaminya sempat putus asa karena hasil laboratorium menunjukkan, pada cairan maninya tidak ditemukan sperma. Namun, berkat kecanggihan teknologi reproduksi, pasangan ini berhasil menimang bayi laki-laki sehat melalui penyuntikan sel mani suami ke sel telur istrinya secara in vitro.


Sel telur yang telah terbuahi.

Seorang wanita Inggris bahkan mengalami kasus yang lebih unik. Suaminya dinyatakan menderita kanker pada testisnya dan organ ini harus dibuang. Padahal, keduanya sangat ingin mendapatkan keturunan. Betapa cemasnya mereka, sebab lima tahun sebelumnya, testis yang satu sudah dibuang karena penyakit yang sama. Karena tak sempat mengekstraksi sperma menjelang operasi kedua, maka testis yang sudah dipotong segera dikirim ke klinik pelayanan fertilitas di Aldridge untuk diambil spermanya dan dibekukan.
Berkat teknik yang sama, akhir Juni lalu wanita itu dikabarkan berhasil mengandung. Calon bayinya bahkan diduga kembar. Kebahagiaan bertambah ketika suaminya dinyatakan sembuh dari kanker.
Dengan semakin meningkatnya jumlah pasangan tidak subur pada 30 tahun terakhir, khususnya di negara-negara industri, para ahli di negara-negara seperti Amerika, Inggris, dan Australia, terus mencari teknik yang dapat membantu pasangan tak subur. Jumlah kasus pasangan tak subur diperkirakan sekitar 15% di dunia maupun di Indonesia.


2 pro inti.

Penyebab infertilitas bermacam-macam, bisa akibat tersumbatnya saluran sel telur pada istri (35%), masalah antibodi, lendir mulut rahim tidak normal, endometriosis, problem sperma suami, dll.
20 tahun teknik bayi tabung
Teknik bayi tabung sempat mencatat keberhasilan luar biasa dan menggemparkan dunia. Metode yang diprakarsai sejumlah dokter Inggris ini berhasil menghadirkan bayi perempuan bernama Louise Brown pada 1978. Sebelum itu, untuk menolong pasangan suami-istri tak subur digunakan teknik inseminasi buatan, yakni penyemprotan sejumlah cairan semen suami ke dalam rahim dengan bantuan alat suntik. Dengan cara ini diharapkan sperma lebih mudah bertemu dengan sel telur. Sayang, tingkat keberhasilannya hanya 15%.
Pada teknik in vitro yang melahirkan Brown, pertama-tama dilakukan perangsangan indung telur sang istri dengan obat khusus untuk menumbuhkan lebih dari satu sel telur. Perangsangan berlangsung 5 - 6 minggu sampai sel telur dianggap cukup matang dan sudah saatnya "dipanen". Selanjutnya, folikel atau gelembung sel telur diambil tanpa operasi, melainkan dengan tuntunan alat ultrasonografi transvaginal (melalui vagina).


Menyuntik satu sel telur dengan satu sperma.

Sementara semua sel telur yang berhasil diangkat dieramkan dalam inkubator, air mani suami dikeluarkan dengan cara masturbasi, dibersihkan, kemudian diambil sekitar 50.000 - 100.000 sperma. Sperma itu ditebarkan di sekitar sel telur dalam sebuah wadah khusus. Sel telur yang terbuahi normal, ditandai dengan adanya dua sel inti, segera membelah menjadi embrio. Sampai dengan hari ketiga, maksimal empat embrio yang sudah berkembang ditanamkan ke rahim istri. Dua minggu kemudian dilakukan pemeriksaan hormon Beta-HCG dan urine untuk meyakinkan bahwa kehamilan memang terjadi.
Sejak kelahiran Louise Brown, teknik bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF) semakin populer saja di dunia. Di Indonesia, IVF pertama kali diterapkan di Rumah Sakit Anak-Ibu (RSAB) Harapan Kita, Jakarta, pada 1987. Teknik yang kini disebut IVF konvensional itu berhasil melahirkan bayi tabung pertama, Nugroho Karyanto, pada 2 Mei 1988. Setelah itu lahir sekitar 300 "adik" Nugroho, di antaranya dua kelahiran kembar empat.
Semakin canggih saja
Sukses besar teknik IVF konvensional ternyata masih belum memuaskan dunia kedokteran, apalagi kalau mutu dan jumlah sperma yang hendak digunakan kurang. Maka dikembangkanlah teknik lain seperti PZD (Partial Zona Dessection) dan SUZI (Subzonal Sperm Intersection). Pada teknik PZD, sperma disemprotkan ke sel telur setelah dinding sel telur dibuat celah untuk mempermudah kontak sperma dengan sel telur. Sedangkan pada SUZI sperma disuntikkan langsung ke dalam sel telur. Namun, teknik pembuahan mikromanipulasi di luar tubuh ini pun masih dianggap kurang memuaskan hasilnya.
Sekitar lima tahun lalu Belgia membuat gebrakan lain yang disebut ICSI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection). Teknik canggih ini ternyata sangat tepat diterapkan pada kasus mutu dan jumlah sperma yang minim. Kalau pada IVF konvensional diperlukan 50.000 - 100.000 sperma untuk membuahi sel telur, pada ICSI hanya dibutuhkan satu sperma dengan kualitas nomor wahid. Melalui pipet khusus, sperma disuntikkan ke dalam satu sel telur yang juga dinilai bagus. Langkah selanjutnya mengikuti cara IVF konvensional. Pada teknik ini jumlah embrio yang ditanamkan cuma 1 - 3 embrio. Setelah embrio berhasil ditanamkan dalam rahim, si calon ibu tinggal di rumah sakit selama satu malam.
Di Indonesia, menurut dr. Subyanto DSOG dan dr. Muchsin Jaffar DSPK, tim unit infertilitas MELATI-RSAB Harapan Kita, ICSI sudah diterapkan sejak 1995 dan berhasil melahirkan anak yang pertama pada Mei 1996. Dengan teknik ini keberhasilan bayi tabung meningkat menjadi 30 - 40%, terutama pada pasangan usia subur.
Berdasarkan pengalaman, menurut dr. Muchsin, peluang terjadinya embrio pada teknologi bayi tabung sekitar 90%, di antaranya 30 - 40% berhasil hamil. Namun, dari jumlah itu, 20 - 25% mengalami keguguran. Sedangkan wanita usia 40-an yang berhasil melahirkan dengan teknik in vitro hanya 6%. Karena rendahnya tingkat keberhasilan dan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan pasien, teknik ini tidak dianjurkan untuk wanita berusia 40-an.
Pasangan yang masuk program MELATI tidak harus mengikuti program IVF. Teknik ini hanya ditawarkan kalau setelah diusahakan dengan cara lain, tidak berhasil. Sebelum mengikuti program ini pun pasutri diminta mengikuti ceramah dan menerima penjelasan semua prosedurnya agar diikuti dengan mantap.
Biaya mengikuti program IVF memang tidak murah. Pada akhir 1980-an biayanya sekitar Rp 5 juta. Kini, berkisar antara Rp 13,5 juta - Rp 18 juta. Harga obat suntik perangsang indung telur saja sudah naik hampir empat kali lipat. Padahal, suntikan yang dibutuhkan selama dua minggu mencapai 45 ampul.
Selain RSAB Harapan Kita, Jakarta, teknik IVF juga sudah diterapkan di FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo (Jakarta), Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Surabaya), dan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan RS Dr. Sardjito (Yogyakarta).
Kalau sperma kosong
Pada kasus cairan air mani tanpa sperma (azoospermia), mungkin akibat penyumbatan atau gangguan saluran sperma, kini bisa dilakukan pengambilan sperma dengan teknik operasi langsung pada saluran air mani atau testis. Tekniknya ada dua, MESA (Microsurgical Sperm Aspiration) dan TESE (Testicular Sperm Extraction). Pada MESA, sperma diambil dari tempat sperma dimatangkan dan disimpan (epididimis). Sedangkan pada TESE, sperma langsung diambil dari testis yang merupakan pabrik sperma. Setelah sperma diambil, dipilih yang paling baik. Selanjutnya, dilakukan langkah-langkah menurut prosedur ICSI. Teknik ini juga sudah diterapkan di RSAB Harapan Kita sejak 1996 dan telah berhasil melahirkan dua anak.
Seperti di negara lain, sejak 1992 Indonesia sudah melakukan simpan beku embrio. Perangsangan indung telur wanita pada prosedur bayi tabung memungkinkan terbentuknya banyak embrio. Tidak mungkin semua embrio ditransfer ke dalam rahim pada saat bersamaan. Embrio yang untuk sementara tidak digunakan dapat disimpan dengan cara kriopreservasi, yang selanjutnya disimpan dalam tabung berisi cairan nitrogen pada suhu 196oC di bawah nol derajat. Kapasitas tabung sekitar 100 embrio.
Simpan beku embrio ini menghemat biaya karena pasangan tidak perlu lagi mengulang proses pengerjaan dari awal lagi bila embrio berikutnya perlu ditanamkan kembali. Tidak seperti di Barat, embrio ataupun sperma yang tersimpan beku di Indonesia hanya diperuntukkan bagi pasutri yang bersangkutan.
Salah satu contoh keberhasilan teknik penyimpanan embrio bisa ditemukan di Belgia. Baru-baru ini lahir seorang bayi laki-laki sehat hasil penanaman embrio yang sudah dibekukan selama 7,5 tahun dari pasangan lain (anonim). Bayi yang dibantu kelahirannya oleh dr. Michael Vermesh ini beratnya 4 kg. Daya tahan embrio yang dibekukan bisa puluhan tahun dan tetap bisa menjadi bayi sehat.
Teknologi reproduksi in vitro ternyata sangat membantu pasangan yang mengalami gangguan reproduksi. Mengupayakan pasutri agar bisa mempunyai anak sungguh merupakan perbuatan mulia dan membahagiakan, sekalipun pembuahannya dilakukan di laboratorium. Seperti halnya Louise Brown, mungkin banyak anak yang dilahirkan melalui teknik ini ikut bersyukur bahwa kedua orang tuanya mengikuti program itu. (Nanny Selamihardja)

PENDAPAT LAIN

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan bayi tabung dan bagaimana prosesnya sampai melahirkan..?

Bayi tabung adalah bayi hasil konsepsinya (yaitu dari pertemuan antara sel telur dan sperma) yang dilakukan dalam sebuah tabung yang dipersiapkan sedemikian rupa di laboratorium. Didalam laboratorium tabung tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai dengan tempat pembuahannya yang asli yaitu rahim ibu atau wanita...ya nggak..?, Dibuat sedemikian rupa sehingga temperatur dan situasinya persis sama dengan aslinya.

Prosenya mula-mula dengan suatu alat khusus semacam alat untuk laparoskopi dilakukan pengambilan sel telur dari wanita yang baru saja mengalami ovulasi. Kemudian sel telur yang diambil tadi dibuahi dengan sperma yang sudah dipersiapkan dalam tabung yang suasananya dibuat persis seperti dalam rahim.

Setelah pembuahan hasil konsepsi tsb dipelihara beberapa saat dalam tabung tadi sampai pada suatu saat tertentu akan dicangkokan ke dalam rahim wanita tersebut. Selanjutnya diharapkan embrio itu akan tumbuh sebagaimana layaknya di dalam rahim wanita. Sudah tentu wanita tersebut akan mengalami kehamilan, perkembangan selama kehamilan seperti biasa.

Bagaimana menurut pandangan syariah tentang bayi tabung?

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Bayi tabung merupakan produk kemajuan teknologi kedokteran yang demikian canggih yang ditemukan oleh pakar kedokteran Barat yang notabene mereka adalah kaum kuffar (orang kafir). Bayi tabung adalah proses pembuahan sperma dengan ovum, dipertemukan di luar kandungan pada satu tabung yang dirancang secara khusus. Setelah terjadi pembuahan lalu menjadi zygot, kemudian dimasukkan ke dalam rahim sampai dilahirkan. Jadi prosesnya tanpa melalui jima’ (hubungan suami istri).
Pertanyaan ini telah ditanyakan kepada salah seorang imam abad ini, yaitu Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu. Maka beliau menjawab: “Tidak boleh, karena proses pengambilan mani (sel telur wanita) tersebut berkonsekuensi minimalnya sang dokter (laki-laki) akan melihat aurat wanita lain. Dan melihat aurat wanita lain (bukan istri sendiri) hukumnya adalah haram menurut pandangan syariat, sehingga tidak boleh dilakukan kecuali dalam keadaan darurat.
Sementara tidak terbayangkan sama sekali keadaan darurat yang mengharuskan seorang lelaki memindahkan maninya ke istrinya dengan cara yang haram ini. Bahkan terkadang berkonsekuensi sang dokter melihat aurat suami wanita tersebut, dan ini pun tidak boleh. Lebih dari itu, menempuh cara ini merupakan sikap taklid terhadap peradaban orang-orang Barat (kaum kuffar) dalam perkara yang mereka minati atau (sebaliknya) mereka hindari.
Seseorang yang menempuh cara ini untuk mendapatkan keturunan dikarenakan tidak diberi rizki oleh Allah berupa anak dengan cara alami (yang dianjurkan syariat), berarti dia tidak ridha dengan takdir dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atasnya.
Jikalau saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing kaum muslimin untuk mencari rizki berupa usaha dan harta dengan cara yang halal, maka lebih-lebih lagi tentunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan dan membimbing mereka untuk menempuh cara yang sesuai dengan syariat (halal) dalam mendapatkan anak.” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah hal. 288)



Fatwa Majelis Ulama Indonesia
tentang bayi tabung/inseminasi buatan.
Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia
MEMUTUSKAN
Memfatwakan :
1. Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami isteri yang sah hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk ikhtiar berdasarkan kaidah-kaidah agama.
2. Bayi tabung dari pasangan suami-isteri dengan titipan rahim isteri yang lain (misalnya dari isteri kedua dititipkan pada isteri pertama) hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari'ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan masalah warisan (khususnya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan sebaliknya).
3. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd a z-zari'ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam kaitannya dengan hal kewarisan.
4. Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami isteri yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah Sadd az-zari'ah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.
Jakarta, 13 Juni 1979
DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua Umum, Sekretaris Umum,

ttd ttd
Ketua Komisi Fatwa,

ttd

Jumat, 02 Mei 2008

nasib badan

merenung sejenak ketika kuterima surat pemberitahuan mutasi pegawai di lingkunganku kerja, aku ditempatkan di bagian rekam medik, kemudian aku bekerja tidak dengan sepenuh hati dan tidak sesuai dengan pasal 2 maupun pasal 3 pp no 30 tahun 1980. karena apa,.... kompetensiku yang lebih di atas dari kasi RM tersebut yang membuatku patah semangat (aku golongan III/d dan bergelar MAGISTER lagi), aku menghadap kepada yang kuasa atas diriku selain Tuhan Yang di Atas dan aku mendapat jawaban mohon bersabar saja dulu dan menerima apa yang menjadi keputusan, aku tidak menerima apa yang disarankan oleh direkturku, aku jarang masuk kerja dan kalau bicara dengan sesama rekan aku sering dinilai ngelantur bahkan nyerempet bahaya karena yang aku sampaikan adalah hasil pemikiranku setelah lama menerima pendidikan. akhirnya lama kelamaan aku hanyut dengan perlawanan-perlawanan yang sebetulnya tidak perlu aku lakukan, tetapi apa yang aku terima dari hari ke hari sepertinya semakin menyudutkanku, akhirnya aku minta pindah yang kemudian disetujui direkturku dan yang sampai saat ini belum juga ada hasilnya dari BKD (kalau tak pakai duit, prosesnya lama, sedangkan dengan menggunakan duit untuk meluluskan sesuatu itu bukan dedikasiku).
lingkungan kerja yang seperti ini membuat aku semakin tidak mengerti, sumber daya manusia kesehatan dengan dedikasi dan kompetensi memadai yang aku miliki dipinggirkan untuk kemudian disingkirkan, (aku memang telah bertekad untuk lurus dan benar dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi sebagai staf, sebagai pejabat dan atau sebagai umat setelah tahu banyak ketidak benaran selama ini setelah mengenyam pendidikan Diploma III, Strata 1 dan Strata 2) tetapi lingkunganku sepertinya risih menerima aku dengan kondisi yang seperti ini, aku bertekad jika ditunjuk menjadi pejabat KPK atau BANWASDA, atau apa saja yang kuasa mengaudit kinerja TUPOKSI mereka, aku akan menghabisi mereka yang per periode pebruari 2007 s/d sekarang menjabat di RSD Kol Abundjani Bangko. Tuhan ku mohon petunjukmu.... dan teman-teman marilah kita luruskan yang bengkok (jika mampu dan mau) dan membenarkan yang salah (juga jika mau dan mampu) demi kepentingan rakyat banyak dan daerah membangun......

Kamis, 10 April 2008

apa jadinya

saya manusia biasa yang mencoba memperbaiki kesalahan dan ketidak benaran setelah tahu beberapa kebenaran dari proses belajar, pelatihan dan sosial budaya di perantauan, 2 tahun di bandung (akper depkes otten 1991; 2 tahun di fkm usu 2001; 2 tahun ps2 ikm fk ugm 2006). saya kembali ke kandang dengan mengerjakan apa yang saya kuasai, apa yang saya sukai, dengan mencoba melaksanakannya sesuai prosedur dan aturan yang berlaku dan jika ada jasa yang akan diberikan dari orang yang saya tolong, saya memohon berilah seikhlasnya,.... komunikasi dengan sesama rasanya baik-baik saja,... tetapi kemudian datanglah bencana itu: pejabat baru yang dilantik bupati menempati ruangan yang saya tempati.... yang bersangkutan golongan iii/b dan hanya sarjana ekonomi (yang dikabari dari kantor asalnya bermasalah). sie saya adalah kepegawaian dengan kekhususan yang berhubungan dengan profesionalisme dan fungsional....., saya kenal betul DUPAK, PAK dan seluk beluknya, ..... yang bersangkutan pejabat itu tidak,.... awal pekerjaannya menurut saya tidak transparan..... (sesuatu yang saya tidak suka).... ada tim mutasi tetapi siapa anggotanya,.... dan suasana kerja mulai tidak kondusif lagi, saya memilih untuk duduk di tepi lingkungan tetapi di tengah program yang saya kuasai (AKREDITASI RUMAH SAKIT)..... proses awalnya berjalan normal, .... kasus demi kasus muncul, penerimaan tenaga honor status TKS tidak dengan seleksi; tetapi nepotisme; mutasi entah atas dasar pertimbangan apa; kegiatan saya yang juga menjadi tanggung jawab pejabat dihindari olehnya si pejabat tersebut; ucapan emosional yang ingin memberhentikan dokter spesialis yang menyebabkan adanya gempa di RS-ku; Triangle RS mulai tidak harmonis dan saya mengemukakan apa yang seharusnya dilakukan kepada mereka (yang mungkin kebakaran jenggot karena saya uingkapkan yang seharusnya yang mereka lakukan dan yang seharusnya mereka bicarakan) dalam pertemuan formal dan atau informal tetapi mungkin juga saya menyampaikannya dengan emosional karena kesabaran yang dimintakan kepada saya telah hampir minta "update"; berlanjut lagi nasib saya dengan dimutasikannya saya ke sie REKAM MEDIK dengan atribut pendidikan SPK GOL III/b. saya lapor direktur: "pak apakah ini keputusan tim mutasi RSD ini", tak ada jawaban,.... saya kejarlagi dengan"saya tahu aturan kepegawaian (PJ direktur dan tim mungkin tidak tahu aturan), jika unsurnya bukan kompetensi yang saya miliki saya tidak terima ini PAAKKK, tetapi jika unsurnya LIKE AND DIS LIKE, saya mohon tolong sebutkan orangnya...... Dijawab Pak PJ DIREKTUR: "sabar saja dulu, saya akan membicarakannya kemudian dengan struktural, gimana sepantasnya"....cepat saya jawab: "saya tunggu itu PAKK"; "kalau ingin membunuh saya tidak begini caranya pak, saya pegawai yang sejak berdirinya RS ini saya sudah ada disini, saya sekolah untuk mengembangkan kompetensi saya untuk RS ini, kalau begini kenyataannya, saya berkeberatan,....saya mohon dikoreksi pak dan saya mau tanya: apa betul kesalahan saya pak, yang sampai saai posting blog ini saya belum mendengar jawabannya,,,,,, nanti dilanjut lagi yaaaa.....

semenjak itu saya diupayakan untuk disingkirkan, saya tetap bekerja dengan males-malesan, .. mengapa saya diupayakan disingkirkan karena memang tak ada perbaikan SK tersebut,... Pejabat strukturalnya berganti, direkturnyapun berganti,... pejabat baru ini sebenarnya termasuk saya di dalamnya, tetapi saya menolak jabatan yang dipercayakan karena saya kurang kompatible dengan 11 (sebelas) pejabat lainnya dalam struktural itu,.... kelas rumah sakit turun dari C menjadi D, dokter spesialis banyak yang pindah, yang masuk banyak pegawai baru yang jika melalui analisa jabatan tidak lolos seleksi,...

saya berkenalan dengan mereka seadanya saja,.... sehingga akhirnya saya putuskan untuk ikut diklat calon widyaiswara depkes ri di jakarta (hangjebat F 10),... 33 hari saya disana dan perjalanan pulang perginya 3 hari jadi semuanya 36 hari dan saya mendapatkan ilmu dasar mendidik andragogik,... suatu nikmat,....
saya mempersiapkan bahan administrasi untuk menjadi widyaiswara yang sampai saat inipun belum terealisasi,... entah kenapa....


saya pulang kembali ke daerah asal saya, saya tetap berada di luar lingkungan organisasi, ...
dan ketika saya bosan saya meminta kerjaan, bukan uang, kerjaan: mereka di institusi mungkin berunding, kasih saja dia jadi ketua akreditasi, .......
saya siap dan jika disiapkan apa yang saya perlukan untuk kerja, maka kepada saya disiapkan 3 sdm kes, satu ruangan dengan perlengkapan meubelairnya, dan keperluan tulis menulis lainnya, sk diterbitkan, tugas dikerjakan, dukungan anggaran oke, hanya dukungan sikap dari struktural yang menurut saya belum maksimal, 29 juni 2012, rsd kol abundjani terakreditasi 5 pokja dengan predikat lulus penuh, saya mulai diterima, tetapi saya tetap dicurigai, entah karena apa, saya jalan terus, KPRS, TATAKELOLA BLUD, JCI dan sebagainya, 

ada kepuasan bathin disana, tetapi ada kekecewaan juga disitu, apa, ............
budaya terakreditasi membuat saya sudah tidak pada simpatik pada mereka dan sikap saya terhadap mereka adalah kepalsuan dan mungkin sikap mereka juga kepada saya adalah kepalsuan, ............ biarlah, .......

saya mendapatkan kesempatan menjadi ketua program studi pada salah satu PTS 
alhamdullillah, .....................

pilkada berlangsung, kinerja mereka menurun, dan sya tetap stabil saja, karena saya akan bersikap sebagaimana mereka bersikap kepada saya, ............