Minggu, 23 Desember 2012

MENENTUKAN TARIF PELAYANAN PUBLIK

Salah satu kewajiban aparatur negara yang juga disebut sebagai abdi negara yang diberi gaji yang tugas utamanya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat yang juga mengikuti kewajiban negara dalam Menyelenggarakan Tugas Negara seperti yang diamanatkan UUD 1945, GBHN dan UU APBN (Mardiasmo 2000) dan juga oleh kewenangan fungsionallnya yang melekat dengan jabatan fungsionalnya adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service) dalam bentuk penyediaan jasa dan barang secara prima. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, instansi milik pemerintah apakah BUMD dan BUMN akan memberikan tarif pelayanan publik yang diwujutkan dalam bentuk Retribusi, pajak dan pembebanan tarif Jasa langsung kepada masyarakat sebagai konsumen jasa publik (charging for sevice). Walau pun masyarakat telah dibebani dengan pajak yang sebenarnya dapat dipaksakan kepada pemerintah, dan pemerintah seharusnya memberikan prestasi dan presentasi kepada masyarkat.yang akhir-akhir ini tidak semua perestasi yang diberikan oleh organisasi sektor publik kepada masyarakat yang telah dilayani dapat di buat secara gratis mengingat terdapat barang privat yang manfaat barang dan jasa hanya dinikmati secara individu, barang publik yaitu barang dan jasa kebutuhan yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat serta barang campuran privat dan barang publik yaitu barang kebutuhan masyarakat yang manfaatnya di nikmati secara individu tetapi sering masyarakat umum juga membutuhkan barang dan jasa tersebut “merit good” (semua orang bisa mendapatkannya tetapi tidak semua orang dapat mendapatkan barang dan jasa) tersebut seperti: air bersih, listrik, pendidikan, kesehatan, transportasi publik. Pertanyaan yang menarik timbul adalah bagaimana menentukan harga pelayanan publik yang harus di bebankan kepada masyarakat?

 
Kebijakan Elitis dan politis

Menyimak dan meminjam istilah sjahrill effendi (waspada 12/1) dalam penetapan biasanya terkesan elit dan politis karena hanya sebahagian orang yang mengambil kebijakan dan terkesan tidak teransparan, maka tarif air minum PDAM di tentukan Melalui Badan Musyawarah (BAMUS) yang dibentuk oleh PDAM. langkah merupakan langkah maju dalam penetapan tarif menuju kebijakan yang terakuntabilitas, dan perlu diikuti oleh BUMD lainnya. Namun pembentukan badan tersebut belum merupakan sebuah solusi mengingat keterwakilinya Stekholder (pihak-pihak yang berkepentingan) dalam bamus, belum mewujutkan teori stewedship yang memposisikan stekholder sebagai prinsipal sebagai pemilik yang harus di layani oleh agent.

Amanah undang-undang Rumah Sakit tentang RS sebagai BLU adalah pengampunan dosa pemerintah sehubungan dengan keidak mampuan menyediakan anggaran/dana untuk kesiapan dan ketersediaan kinerja pelayanan kesehatan di masa lalu; telah membuat RS di daerah "gulung kuming" bersiap-siap dengan sadar dan atau dengan paksaan untuk mewujudkannya. Berbagai problema menjadi miliki mereka yang ada di RS daerah dengan kesiapan menanggung sendiri dan atau secara bersama-sama stakeholder  mensikapinya. Apa yang terjadi adalah: berbagai konplik muncul dengan tematik yang berbeda-beda dan dengan ending yang beraneka pula. 

Kesiapan pemerintah melalui DEPKEU dengan berbagai kebijakannya memberikan bantuan yang seharusnya dikapi dengan tulus dan kerterbukaan, tetapi nyatanya adalah lain. Jasa pelayanan yang telah meninabobokkan yang telah mereka terima menjadi alasan mereka bersikap a priori dan curiga denga  BLU, apalagi didukung oleh manajemen yang selama ini mereka ketahui adalah serba tidak transparans dan tidak akuntabel, bagaimana mensikapinya?.

Kesulitan dalam penentuan tarif pelayanan mengingat terdapat kesulitan dalam membedakan barang publik dengan barang privat, dikarenakan: adanya kesulitan dalam menetukan batasan antara kedua barang tersebut, adanya pembebanan secara langsung. dalam pengguna Barang/jasa publik, dan Kecenderungan membebankan tarif pelayanan langsung daripada membebankannya pada pajak yang dibanyarkan secara berkala. Kesulitan berikutnya adalah terdapat anggapan bahwa dalam suatu sistem ekonomi campuran (mixed economy), barang privat lebih baik disediakan oleh pihak swasta (privat market) dan barang publik lebih baik diberikan secara kolektif oleh pemerintah yang dibiayai melalui pajak. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan pemerintah menyerahkan penyediaan barang publik kepada sektor swasta melalui regulasi, subsidi, atau sistem kontrak.

Berapa Harga Yang Harus Dibebankan

Organisasi sektor publik harus memutuskan berapa pelayanan yang dibebankan pada masyarakat. Aturan yang biasa dipakai adalah beban (charge) dihitung sebesar total biaya total tersebut terdapat (full cost recorvery). Walupun akan mengalimi kesulitan dalam menghitung biaya total dikarena:
Pertama tidak diketahui secara tepat berapa biaya total (full cost) untuk menyediakan suatu pelayanan. Oleh karena itu, kita perlu memperhitungkan semua biaya sehingga dapat mengidentifikasi biaya secara tepat untuk setiap jenis pelayanan. Namun tidak boleh terjadi pencampuradukan biaya untuk pelayanan yang berbeda atau harus ada prinsip different costs for different purposes.kedua Sangat sulit mengukur jumlah yang dikonsumsi, Karena jumlah biaya untuk melayani satu orang dengan orang lain berbeda-beda, maka diperlukan perbedaan pembebanan tarif pelayanan, sebagai contoh diperlukan biaya tambahan untuk pengumpulan sampah dari lokasi rumah yang sulit dijangkau atau memiliki jarak yang jauh.
ketiga Pembebanan tidak memperhitungkan kemampuan masyarakat untuk membayar. Jika orang miskin tidak mampu membayar suatu pelayanan yang sebenarnya vital, maka mereka harus disubsidi. Mungkin perlu dibuat diskriminasi harga atau diskriminasi produk untuk menghindari subsidi. Keempat Biaya yang harus diperhitungkan, apakah hanya biaya operasi langsung (current operation cost), atau perlu juga diperhitungkan biaya modal (capital cost). Yang akan memasukkan bukan saja biaya opersai dan pemeliharaan, akan tetapi juga biaya penggantian barang modal yang sudah usang (kadaluwarsa), dan biaya penambahan kapasitas Hal inilah yang disebut marginal cost pricing.

Kompleksitas Strategi Harga

Terdapat beberapa alternatif dalam menentukan harga yaitu dengan Two-part tariffs: yaitu fixed charge untuk menutupi biaya overhead atau biaya infrastruktur dan variabel charge yang didasarkan atas besarnya konsumsi. Dengan Peak-load tariffs: pelayanan publik dipungut berdasarkan tarif tertinggi. Permasalahannya adalah beban tertinggi, membutuhkan tambahan kapasitas yang disediakan, tarif tertinggi untuk periode puncak harus menggambarkan higher marginal cost (seperti telepon dan transportasi umum). Dengan Diskriminasi harga. Hal ini adalah salah satu cara untuk mengakomodasikan pertimbangan keadilan (equity) melalui kebijakan penetapan harga, dengan Full cost recorvery. Harga pelayanan didasarkan pada biaya penuh atau biaya total untuk menghasilkan pelayanan dan Harga di atas marginal cost. Dalam beberapa kasus, sengaja ditetapkan harga diatas marginal cost, seperti tarif mobil, adanya beberapa biaya perijinan atau licence fee.
Penetuan tari ini juga harus mempertimbangkan Opportunity cost untuk staf, perlengkapan dll, Opprtunity cost of capital, Accounting price untuk input ketika harga pasar tidak menunjukkan value to siciety (opportunity cost). Polling, ketika biaya berbeda-beda antara setiap individu. Dan Cadangan inflasi.Pelayanan menyebabkan unit kerja harus memiliki data biaya yang akurat agar dapat mengestimasi marginal cost, sehingga dapat ditetapkan harga pelayanan yang tepat.
Marginal cost pricing bukan merupakan satu-satunya dasar untuk penetapan harga di sektor publik. Digunakan marginal cost pricing atau tidak, yang jelas harus ada kebijakan yang jelas mengenai harga pelayanan yang mampu menunjukkan biaya secara akurat dan mampu mengidentifikasi skala subsidi publik.

Standar pelayanan Minimum (SPM)

Berapapun harga yang dibebankan kepada masyarakat harusnya juga merujuk pada setandar yang dibuat oleh organisasi sektor publik sebagi bentuk perbandingan pelayanan yang dapat di ukur, untuk itu sektor publik harus segera merumuskan Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang menekankan pada pengelolanan sektor publik yang memiliki paradikma Value for money merupakan konsep pengelolaan organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga elemen utama yaitu: ekonomi, efesiensi, dan efektifitas
Ekonomi merupakan perbandingan input dengan input value yang dinyatakan dalam satuan moneter. Ekonomi terkait dengan sejauh mana organisasi sektor publik dapat meminimalisir input resources yang digunakan yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produktif. Efisiensi: pencapaian output yang maksimum dengan input yang tertentu atau penggunaan input yang terendah untuk mencapai output tertentu dan Efisiensi merupakan perbandingan output/input yang dikaitkan dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan.
 
Dalam penentuan standar pelayanan minimum sebagai fetback pelayanan kepada masyarakat maka organisasi sektor publik harus memperhatikan stekholder sebagai orang yang berkentingan dengan keberadaan perusahaan karenanya keterlibatan stekholder dalam penyusunan tarif dan standar pelayanan minimum sangant urgen seperti, masyarakat umum, akademisi dan para konsultan dan pihakpihak yang konsen dalam sektor publik.

Penutup

Pembebanan pelayanan publik merupakan salah satu sumber penerimaan bagi pemerintah selain pajak, penjualan aset milik pemerintah, utang, dan laba BUMN/BUMD. Aturan yang bisa dipakai adalah beban dihitung sebesar total biaya untuk menyediakan pelayanan tersebut. Dalam menentukan harga pelayanan publik juga dianut konsep different cost for purposes yaitu membedakan biaya untuk pelayanan yang berbeda. Masalah lain adalah adanya hidden cost yang menyulitkan dalam mengetahui total biaya. Kesulitan untuk menghitung biaya total adalah karena sulit mengukur jumlah yang dikonsumsi dan perbedaan jumlah biaya untuk melayani masing-masing orang.

naskah asli dari: Muhammad Rizal SE.,M.Si 

Kamis, 19 April 2012

Pelatihan Applied Approach Dosen PTS

HAND-OUT FOR PARTICIPANT Applied Approach (AA) untuk Dosen Universitas Andalas 2009

di sadur dari: Sawirman dan Team P3AI Universitas Andalas

I. PRA-PELATIHAN
Peserta sudah dibagi ke dalam tiga kelompok (A, B, C)

II. PENDAHULUAN
1. Silakan sediakan “Double Folio/HVS khusus” untuk membuat Tugas Individu dan Kelompok yang akan dikumpul diakhir sesi.
2. Greeting dan penjelasan awal oleh instruktur seputar kompetensi dan kegiatan belajar (10 menit)

KOMPETENSI KHUSUS
PENGENALAN ASESMEN ALTERNATIF
Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu
menjelaskan konsepsi dan landasan teori asesmen alternatif
membuat peta konsep asesmen alternatif
menjelaskan kelebihan dan kelemahan asesmen alternatif
menjelaskan konsepsi tentang rubrik
menjelaskan tujuan, manfaat, dan kriteria pembuatan rubrik

MODEL TUGAS DAN RUBRIK (ASESMEN ALTERNATIF)
Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu
menetapkan pilihan assesmen alternatif sesuai dengan mata kuliah yang diampu
merancang contoh tugas asesmen alternatif sesuai dengan mata kuliah yang diampu
menjelaskan kesulitan yang dihadapi dalam merancang tugas (asesmen alternatif)
merancang contoh rubrik sesuai dengan tugas pada mata kuliah yang diampu

III. KEGIATAN BELAJAR
3.1 PENGENALAN ASESMEN ALTERNATIF
A. Menulis Pendapat
1. Semua anggota kelompok A, B, dan C silakan baca REFERENSI ASESMEN ALTERNATIF (buku 2.09 hal. 1-30), setelah itu buat Peta Konsep atau Skema sesuai referensi yang dibaca (waktu 15 menit).
2. Untuk semua peserta, tulislah dalam kalimat Anda sendiri karakteristik ASESMEN ALTERNATIF yang sudah Anda baca (Waktu 10 menit)!
3. Untuk semua peserta, mohon juga Anda tulis kelebihan dan kelemahan ASESMEN ALTERNATIF! (Waktu 10 menit).

B. Diskusi Kelompok dan Pleno
4. Diskusikan dengan teman Anda sekelompok kerja individu Anda sebelum dipresentasikan pada diskusi pleno! (Waktu 15 menit).
5. Sekarang silakan Anda presentasikan hasil kelompok Anda pada diskusi pleno! (Semua kelompok presentasi dan dibuka forum tanya jawab). (Waktu 45 menit/15 menit per kelompok).

3.2 MODEL TUGAS DAN RUBRIK (ASESMEN ALTERNATIF)
A. Merancang Contoh Asesmen Alternatif
1. Silakan rancang contoh asesmen alternatif sesuai dengan mata kuliah yang diampu (Waktu 15 menit).
2. Silakan rancang contoh rubrik sesuai dengan mata kuliah yang diampu (Waktu 15 menit).

B. Mendiskusikan Rancangan AA
3. Meminta peserta secara acak sebagai wakil masing-masing fakultas untuk rancangan model AA, senarai AA, dan kesulitan yang dihadapi (dipimpin fasilitator) (Waktu 20 menit).
4. Komentar Instruktur sebagai fasilitator (15 menit).

IV. PENUTUP
1. Mengumpulkan tugas/laporan individu seputar (1) peta konsep/skema, (2) kharakteristik AA, (3) kelebihan/kelamahan AA, (4) model AA/senarai sesuai mata kuliah, dan (5) kesulitan yang dihadapi penerapan AA sesuai mata kuliah masing-masing! (5 menit)
2. Penjelasan materi pengayaan/tugas rumah oleh instruktur (5 menit)

Reference:
1. Buku 2.09 tentang Alternative Assesment.
2. An Alternative Assessment of the Humanitarian Assistance in the Irrawaddy
Delta Prepared by Ko Shwe 23rd July, 2008
3. Alternative Assessment Options for High School Graduation: Interim Report by
Washington State for Public Policy tahun 2007.
4. Washington’s High School Assessment System: A Review Of
Student Performance On The Wasl And Alternative Assessment Options by Wade

Kamis, 23 Februari 2012

ANGKA KEMATIAN DI RUMAH SAKIT, ADA APA DENGANNYA, ….

Oleh: JONI RASMANTO, SKM, MKES*

Tulisan ini terinspirasi dari pesan singkat seorang sahabat yang sedang mengikuti RAPAT di BAPPEDA, entah apa pembahasannya di awal tahun ini, yang ikut semua SKPD: “barangkali perihal kinerja atau pertanggungjawaban SKPD tahun 2011, atau perihal LAKIP”. Bukannya tidak mau nanya sama yang bersangkutan.
Berbagai indikator jika diberlakukan dan dijadikan perhatian berlaku dan seharusnya diberlakukan dan menjadi perhatian di jajaran pemerintah daerah dalam mengevaluasi kinerja pelayanan kesehatan baik itu di puskesmas dan atau di rumah sakit daerah dan atau di Dinas Kesehatan Kabupaten. Berbagai kebijakan berlaku untuk dan bagi semuanya, kebijakan DEPDAGRI barangkali perihal SPM dan LAKIP, DEPKEU barangkali tentang pengelolaan anggaran dan penerimaan retribusi, DEPKES jelas ke arah mutu pelayanan kesehatan.
Dari pengalaman kerja, setahu penulis; analisa data pelayanan kesehatan hanya sebatas trend, jika membandingkan dengan standar belumlah seluas dan sedalam kajian ilmiah yang proporsional, adil dan komprehensif, hanya sebatas membandingkan dalam porsi angka kuantitatif yang dideskripsikan dengan kwalitatif. Apakah ini dikarenakan kompetensi sumber daya manusia yang ada di institusi tersebut atau ada beberapa “variable lain” yang menyebabkan hal itu tidak dilaksanakan.
Angka kematian adalah indikator hasil kinerja dari sebuah proses pelayanan kesehatan, di rumah sakit ada kematian di bawah 48 jam dan ada kematian di atas 48 jam, kematian yang terjadi di bawah 48 jam diindikasikan jika terjadi adalah semata karena faktor tingkat kegawatan yang berpihak atau berada pada pasien, artinya kondisi pasien lebih menentukan kematiannya. Selanjutnya dapat dijelaskan bahwa peran proses pelayanan kesehatan dengan berbagai sumber dayanya dalam kematian di bawah 48 jam belumlah selesai dilaksanakan. Obat saja yang kita makan akan bereaksi terhadap tubuh dan tubuh bereaksi terhadap obat memerlukan waktu lebih dari 4 jam, itupun jika kita dengan kondisi yang dapat dikatakan sehat.
Sedangkan kematian di atas 48 jam jika terjadi di unit pelayanan kesehatan dimana proses pelayanan kesehatan sudah diberikan dengan kondisi standarisasi dari berbagai unsur manajemennya masih perlu dipertanyakan lagi. Kenapa demikian?.
Jawabnya adalah:
1. keadaan atau perjalanan penyakit pasien pada waktu masuk rumahsakit sudah sedemikian lanjut, sehingga metoda-metoda pelayanan medis yang efektif tidak ada (tidak diinginkan oleh pasien dan atau oleh anggota keluarganya yang bertanggungjawab), dan kematian merupakan akibat yang sudah diperkirakan sebelumnya.
2. hasil pemeriksaan catatan medik menunjukkan bahwa kematian jelas merupakan akibat langsung dari campur tangan dokter yang merawatnya, dari kegagalan untuk mendiagnosis dengan tepat atau pada waktunya, atau ada faktor dari Sistem, Input, Proses dan Luaran Pelayanan Kesehatan rumahsakit.
3. catatan medik memperlihatkan bahwa kejadian penyebab yang mengakibatkan kematian sewajarnya tidak dapat diperkirakan.
4. sebab kematian sedemikian rupa sehingga sewajarnya dapat diperkirakan sebelumnya dan apa yang ditulis (tertulis) dalam catatan medik membuktikannya. Meskipun kejadian penyebab sebenarnya dapat diperkirakan sebelumnya dan usaha-usaha pencegahan yang diketahui sudah dilakukan dengan tepat dan pada waktunya (kecuali apabila ada bukti bahwa usaha itu tidak diingini), kejadian penyebab tetap terjadi juga.
5. kejadian penyebab sewajarnya dapat diperkirakan hanya dengan pengertian bahwa mereka yang bertanggung jawab terhadap perawatan pasien harus waspada dan mengamati tanda-tanda serta gejala-gejala awal dari kemungkinan permulaan komplikasi-komplikasi atau kegagalan-kegagalan, supaya dapat sembuh secara normal.
Pembenaran pembenaran dalam kategorii ini dapat berdasarkan atas apa yang tertulis dalam cacatan dokter (catatan medik) dan atau catatan perawat, yaitu:
a. pengamatan profesional dengan atau tanpa menggunakan peralatan kesehatan yang tersedia yang dilakukan terus menerus sehingga permulaan penyakit dapat dikenal pada waktunya, ada komunikasi pada waktunya, diagnosis dan usaha usaha responsif tampaknya tepat, tetapi kematian terjadi juga.
b. Walaupun pengamatan profesional yang terus menerus dilakukan dan tepat seperti yang tertulis dalam catatan medik, kejadian penyebab timbul dalam keadaan tanda-tanda serangan awal tidak ada atau menyesatkan, sehingga kegagalan dari usaha apa saja yang diberikan dapat dibenarkan.

Upaya validasi hasil check list dilakukan wawancara mendalam dengan 5 (lima) materi pokok, yaitu audit, rekam medik, PSO, catatan dokter/catatan perawat dan kematian pasien terhadap tenaga kesehatan di instalasi ranap. Jawaban dari wawancara ini diolah secara koding memakai opencode software untuk mengetahui pembenaran atas check list kelengkapan rekam medik dan penyimpangan kematian.
Kematian dari analisa ini adalah kematian di atas 48 jam yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan. Untuk kematian yang tidak dibenarkan, informasi kualitatif dari pendalaman kasusnya dapat dijadikan informasi actual, factual dan komprehensif untuk perbaikan proses pelayanan kesehatan guna mewujudkan mutu pelayanan kesehatan yang sama-sama kita harapkan dapat terwujud.
Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh manusia, namun demikian kematian juga merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan yang penting. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa dari tahun 2005-2010 diperkirakan terdapat 850 kematian per 100.000 penduduk yang terjadi setiap tahunnya. (WHO, 2010). Di Inggris dan Wales pada tahun 2005 lebih kurang 73% dari total kematian terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan rumah sakit (RS). Tingginya angka kematian di RS merupakan pertanda akan kemungkinan adanya masalah mutu pelayanan yang memerlukan tindakan perbaikan, hal ini ditunjukan antara lain dalam buku “to err is human” dari IOM maupun dari penelitian yang dilakukan oleh Hayward (2001) yang mengungkapkan bahwa kurang lebih 22,7% dari kematian yang terjadi di RS sebenarnya dapat dihindarkan dengan perawatan optimal.
Dalam upaya meningkatkan perawatan yang optimal, audit kematian sering digunakan sebagai alat untuk mengembangkan strategi penurunkan angka kematian, bahkan audit kematian sudah digunakan oleh Florence Nightingale pada abad 19 (Wright, et al., 2006). Dengan audit kematian dapat ditemukan variasi yang luas dari penyebab mortalitas di rumah-sakit, beberapa sebagai akibat dari komplikasi yang diderita oleh pasien, namun beberapa kasus lain tidak dapat dijelaskan penyebab kematian dan menjadi cerminan dari kualitas pelayanan (Jarman et al., 2005).
Tingginya angka kematian bukanlah merupakan masalah yang tidak dapat diatasi. Beberapa intervensi telah dikembangkan untuk menyusun dan menerapkan sebuah program yang dapat menurunkan angka kematian. Salah satu yang tercatat pernah dilakukan adalah di Bradford Teaching Hospital pada tahun 2002, melalui sebuah Hospital Mortality Reduction Programme. Program ini berhasil menurunkan sebanyak 905 kematian selama periode 2002-2005 atau dari 94,6% kematian pada tahun 2001 menjadi 77,5% pada tahun 2005. Selain itu Institute for Healthcare Improvement (IHI) membuat program untuk menyelamatkan 100.000 nyawa dengan menurunkan angka kematian pasien rawat inap di rumah sakit di Amerika dikenal dengan nama The 100.000 Lives Campaign.

1. Audit Kematian
Berbagai istilah digunakan untuk kegiatan evaluasi kasus-kasus kematian yang terjadi di sarana pelayanan kesehatan termasuk di rumah sakit antara lain: Audit Kematian, Mortality Audit, Mortality Review, Mortality Meeting, Death Conference, Review of Death, Expert Mortality Panel. Evaluasi tersebut terutama untuk mengidentifikasi apakah kematian yang terjadi merupakan kematian yang dapat dihindari/avoidable death atau kematian yang tidak dapat dihindari/inevitable death .
Beberapa penelitian menggambarkan banyaknya kematian yang dapat dicegah atau yang seharusnya tidak terjadi, sebanyak 44.000 sampai dengan 98.000 kematian per tahun di Amerika (IOM, 1999) atau 11% kematian di ICU membuat kegiatan audit kematian dinilai perlu dilakukan secara rutin. (VMIA, 2010)
Berbagai metode dapat dilakukan pada audit kematian, namun demikian metode dapat digolongkan menjadi 2 metode. Metode pertama disebut sebagai metode tradisional ( mortality meeting) atau karena seringkali juga membahas mengenai penyakit tertentu sehingga juga disebut sebagai morbidity and mortality meeting (M&M meeting), metode ini sudah dikembangkan sejak tahun 1910 an terutama oleh dokter bedah dan anesthesi di Amerika untuk mengidentifikasi adanya medical error. Metode ini kemudian berkembang lebih kearah pendidikan kedokteran (terutama pendidikan dokter spesialis) dimana kasus kematian yang dipresentasikan dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan ataupun kasus yang dianggap menarik sehingga tidak semua kasus kematian dievaluasi. Pada pelaksanaannya M&M meeting ini juga sering menghabiskan waktu lebih banyak untuk presentasi kasus dan tanggapan dari narasumber (konsulen) sehingga tidak banyak proses diskusi dan indentifikasi masalah dalam sistem pelayanan hingga usulan upaya perbaikan (VMIA, 2010)
Metode kedua adalah dengan pendekatan terstruktur dengan kompen-komponen:
Pengumpulan dan penyajian data kematian yang dikumpulkan secara teratur (meliputi data demografi, data kontinue, angka/rate kematian, perbandingan dengan RS lain, per unit/jenis penyakit; per individu pasien); Pengambilan dan analisa data klinik kasus kematian ( clinical mortality information ); Identifikasi pola klinik; Penerapan perbaikan sistem atau praktek medik/klinik; dan Evaluasi.
Terdapat beberapa cara audit kematian melalui pendekatan terstruktur ini, ada yang simpel seperti dilakukan Behal (2009) yang mengevaluasi kematian yang terjadi dengan hanya menjawab dua pertanyaan pokok: Pertama tentang bagaimana tingkat keparahan dan kompleksitas kondisi/penyakit pasien? Kedua tentang kemungkinan terdapatnya masalah mutu pelayanan yang terkait dengan penerapan evidence based practices atau sistem. Atau pendekatan yang lebih kompleks seperti yang dilakukan oleh VMIA ataupun di Western Australia dimana seluruh kasus kematian diidentifikasi terlebih dahulu karekteristiknya seperti umur, jenis kelamin, diagnosa masuk, lama perawatan, hari meninggal, dan sebagainya. Kemudian diikuti dengan identifikasi adanya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) melalui trigger tools. Apabila terdapat 1 atau lebih trigger maka kasus kematian tersebut dibahas ditingkat peer review untuk ditentukan apakah merupakan kasus kematian yang dapat dicegah atau tidak Kematian dikatakan tidak dapat dicegah bila memenuhi salah satu kriteria berikut:
Suatu kasus terminal yang tidak dapat kembali baik; Keadaan penyebab tidak dapat diatasi walaupun diagnosis yang dibuat sudah tepat; Pengobatan sudah diberikan dengan cara yang memadai dan tepat pada waktunya. Sedangkan kematian disebut dapat dicegah bila: Penyebab kematian tidak didukung dengan data/bukti yang ada; Tindakan pencegahan munculnya penyebab kematian tidak adekuat; Pencegahan tidak dilakukan; Penyebab kematian tidak diketahui; Diagnosis terlambat ditegakkan; Pengobatan atas diagnosis tidak adekuat

2. Upaya menurunkan angka kematian rumah sakit
Dari data agregat seluruh kasus kematian yang diaudit maka dapat diidenfikasi besarnya kasus kematian yang seharusnya dapat dicegah, dilanjutkan dengan diskusi untuk menentukan penyebab masalah dan tindak lanjut yang memiliki potensi untuk menurunkan angka kematian. Upaya menurunkan angka kematian rumah sakit merupakan salah satu kunci penting dalam peningkatan patient safety (Behal & Finn, 2009). Banyak program yang telah dikembangkan oleh berbagai intitusi untuk mendukung upaya menurunkan angka kematian rumah sakit, antara lain: Hospital Mortality Reduction Programme (HMRP), dikembangkan oleh oleh Bradford Teaching Hospital pada tahun 2002 dengan komitmen dari seluruh pimpinan dan klinisi disana untuk mengeliminasi seluruh kematian yang tidak perlu terjadi (Wright et al., 2006).
Program ini dimulai dengan melakukan tinjauan/audit terhadap seluruh kematian yang terjadi di rumahsakit. Hasil audit menunjukkan penyebab kamatian yang tidak seharusnya terjadi disebabakan karena sistem pengamatan klinis yang suboptimal, infeksi yang didapat di rumahsakit serta kesalahan pengobatan. Strategi dan pendekatan yang kemudian dilaksanakan adalah: memperbaiki sistem observasi klinis dengan pembuatan Modified Early Warning Score berupa instrumen untuk menilai tingkat keparahan kondisi klinis pasien dan kapan intervensi diperlukan; Membuat panduan untuk kasus-kasus teminal, pelatihan tim, dan pelatihan perawat untuk melakukan home care, sehingga pasien-pasien stadium terminal dapat dirawat dirumah, dibandingkan harus meninggal di rumahsakit;
Pengendalian Infeksi, berupa kampanye mencuci tangan, pelatihan kewaspadaan untuk para karyawan di rumah sakit, peningkatan kebersihan bangsal, pelatihan mengenai infeksi, panduan penggunaan antibiotik di rumah sakit, peningkatan surveilans dan umpan balik mengenai tingkat infeksi. Program untuk peningkatan Keselamatan pasien, diantaranya review dari peresepan dan administrasi obat-obat yang mempunyai risiko tinggi seperti warfarin, heparin, potasium dan metotreksat. Selain itu dikembangkan juga program untuk memonitor efek samping obat dan adverse drug events.
Program lain adalah The 100.000 Lives Campaign, dipelopori oleh Institute for Healthcare Improvement (IHI) yaitu dengan kampanye untuk menyelamatkan 100.000 nyawa dengan menurunkan angka kematian pasien rawat inap di rumah sakit di Amerika. Program utama pada kampanye ini adalah dengan meningkatkan implementasi dari 6 program berbasis bukti, terdiri dari 6 program berbasis bukti, yaitu: Tim Reaksi Cepat; Rekonsiliasi Medikasi; Pencegahan infeksi jalur sentral; Pencegahan infeksi di tempat pembedahan; Pencegahan pneumonia karena pemakaian ventilator; dan Perawatan berbasis bukti untuk infark myocard.
Di Indonesia saat ini dan beberapa tahun sebelumnya kegiatan akreditasi rumah sakit merupakan salah satu upaya untuk menegakan standarisasi dari semua unsur manajemen pelayanan kesehatan di rumah sakit dan atau di puskesmas. Program ISO, SNi dan lain sebagainya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan jika saja semua stake holder berperan dan mau berkeringat karenanya.

Bagaimana rumah sakit anda menyikapi kematian, ………

Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi kita semua, amin

* Penulis adalah Ketua Akreditasi RSD Kol. Abundjani Bangk

Rabu, 23 November 2011

ketimun bungkuk: SURAT BPP KOPERASI

ketimun bungkuk: SURAT BPP KOPERASI

SURAT BPP KOPERASI

KOPERASI KARYAWAN RSD. KOL. ABUNDJANI
BADAN PENGAWAS
JALAN KESEHATAN NO 20 BANGKO


Bangko, 23 November 2011
Kepada Yth:
Saudara Ketua Koperasi Sehat
Dinas Kesehatan Kab Merangin
Di Bangko.

Dengan hormat,
Akhir tahun usaha 2011 akan segera berakhir, dan hasil pantauan kami tentang kewajiban pengurus melaksanakan keputusan RAT KPN SEHAT tahun Usaha 2010 belum terlaksana seluruhnya, untuk itu kami dengan perantaraan surat ini mengingatkan bahwa ada agenda kegiatan yang merupakan hasil keputusan RAT tahun Usaha 2010 yang belum dikerjakan, alangkah baiknya sebagai pertanggung jawaban pengurus dalam menjalankan amanat anggota menginventarisir agenda tersebut dan menjadwalkannya untuk ditindak lanjuti.

Demikian untuk menjadi maklum

Hormat kami,
JONI RASMANTO SKM MKES (Ketua) …………………..

HERMANTO SE (Anggota) …………………………………

JUMAIDIL SE (Anggota) ……………………………………

Tembusan disampaikan kepada yth:
1. Bapak Kepala Dinas KOPERASI dan UKM di Bangko
2. Bapak Direktur RSD KOL ABUNDJANI di Bangko
3. Arsip di jonirasmanto@gmail.com


KOPERASI KARYAWAN RSD. KOL. ABUNDJANI
BADAN PENGAWAS
JALAN KESEHATAN NO 20 BANGKO

Bangko, 23 November 2011
Kepada Yth:
Saudara Ketua Koperasi Karyawan Husada
RSD KOL ABUNDJANI
Di Bangko.

Dengan hormat,

Akhir tahun usaha 2011 akan segera berakhir, dan hasil pantauan kami tentang kewajiban pengurus melaksanakan keputusan RAT KOPKAR HUSADA tahun Usaha 2010 belum terlaksana seluruhnya, untuk itu kami dengan perantaraan surat ini mengingatkan bahwa ada:

Selain itu adanya laporan dari:
• pihak ketiga yang mengindikasikan adanya ketidak mampuan KOPKAR HUSADA membayar kewajiban jangka pendek;
• pihak user bahwa adanya ketidak tersediaan macam dan jumlah obat yang dibutuhkan;
• anggota bahwa unit usaha parkir belum jelas hierarkinya;
• anggota dan user bahwa ada resep yang hilang di unit usaha apotek;
• karyawan koperasi dan anggota koperasi bahwa ada kerja sama yang terputus dan belum ditindaklanjuti;
• anggota bahwa tidak ada pendistribusian adil persentase dari hak manajemen
• anggota bahwa ada pengangkatan pegawai/karyawan unit usaha tidak berdasarkan keputusan rapat pengurus.

Dari uraian di atas terindikasi adanya permasalahan dalam pengelolaan administrasi dan pengelolaan keuangan dalam mengelola unit usaha apotek HUSADA, untuk itu kami mohon adanya penjadwalan rapat pengurus dan badan pengawas dengan beberapa saksi anggota yang dipercaya.

Satuhal yang paling krusial adalah bahwa Ketua Koperasi sebagai pengurus tidak beridtikad nyata menunjuk dan mengangkat menejer unit usaha apotek, keterlibatan ketua dalam unit usaha ini dengan beban struktural dan fungsionalnya yang jika diakui sebagai sebuah kemampuan maka permasalahan tersebut di atas tidak akan muncul. Dengan demikian ada variable lain yang membutuhkan pembuktian dan pertanggung jawaban ketua (dan atau pengurus) mengapa permasalahan tersebut muncul?.

Selain itu kami mengingatkan bahwa ada agenda kegiatan yang merupakan hasil keputusan RAT tahun Usaha 2010 yang belum dikerjakan, alangkah baiknya sebagai pertanggung jawaban pengurus dalam menjalankan amanat anggota menginventarisir agenda tersebut dan menjadwalkannya untuk ditindak lanjuti.

Demikian untuk menjadi maklum

Hormat kami,

JONI RASMANTO SKM MKES (Ketua)
NUR USMAN SKM (Anggota)
NURHASANAH (Anggota)

Tembusan disampaikan kepada yth:
4. Bapak Kepala Dinas KOPERASI dan UKM di Bangko
5. Bapak Direktur RSD KOL ABUNDJANI di Bangko
6. Arsip di jonirasmanto@gmail.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi

Minggu, 13 November 2011

mana yang benar

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
World Health Organization (WHO) sebagai badan kesehatan dunia merekomendasikan bahwa anak sebaiknya disusui hanya Air Susu Ibu (ASI) selama paling sedikit enam bulan. Makanan seharusnya diberikan sesudah anak berumur 6 bulan, dan pemberian ASI seharusnya dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun (WHO, 2005). Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia merubah rekomendasi lamanya pemberian ASI Eksklusif dari 4 bulan menjadi 6 bulan (BPS, 2007).
Masalah program pemberian ASI Eksklusif meliputi pelayanan konseling ASI, teknik menyusui yang benar dan bimbingan laktasi dari petugas kesehatan kepada ibu-ibu bersalin. Hal ini terkadang terabaikan dikarenakan agresifnya produsen susu formula memasarkan produknya. Cara menyusui yang salah menyebabkan ibu-ibu muda enggan memberikan ASI-nya dikarenakan mereka mengeluh sakit dan lecet pada puting susu mereka. Salah satu agar bayi mereka tetap mendapatkan susu adalah dengan memberikan susu formula (Eny, 2009).
Banyaknya jumlah bayi terkadang tidak seimbang dengan jumlah cakupan pemberian ASI Eksklusif, pada tahun 2007 jumlah bayi yang diberikan ASI Eksklusif 245.019 (27,71%), sedangkan jumlah seluruh bayi adalah sebesar 867.678 bayi, untuk target tahun 2010 sebesar 60% harus dicapai (BPS, 2007).
Air Susu Ibu (ASI) mengandung zat gizi yang diperlukan merupakan makanan yang aman tidak perlu biaya tambahan dan tiak kalah pentingnya mengandung zat kekebalan tubuh yang tidak dimiliki oleh susu formula. Memulainya pemberian ASI secara dini dapat merangsang produksi ASI memperkuat reflex menghisap bayi, mempererat hubungan emosional ibu dan bayinya, dapat memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melalui kolostrum dan merangsang kontraksi uterus (Eny, 2009).
Pemberian ASI membutuhkan suatu cara dengan harapan cara tersebut dapat memenuhi kebutuhan bayi. Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994) yang kegiatannya berdasarkan pada pengetahuan ibu tentang; pembentukan ASI dan persiapan pemberian ASI; posisi dan perlekatan menyusui; langkah-langkah menyusui yang benar; cara pengamatan teknik menyusui yang benar; lama dan frekwensi menyusui.
Selain itu, dalam Buku Saku Bidan Poskesdes diketahui tanda-tanda menyusui yang salah, seperti: mulut bayi tidak terbuka lebar; dagu tidak menempel pada payudara; dada bayi tidak menempel pada dada ibu, sehingga leher bayi terputar; sebagian besar areola masih terlihat; bayi menghisap sebentar-sebentar; bayi tetap gelisah pada akhir menyusu; kadang-kadang bayi minum berjam-jam; puting susu ibu lecet dan sakit (Depkes, 2006).
Kesalahan pada teknik menyusui dapat menyebabkan puting susu terasa sakit dan beberapa akibat lainnya. Normalnya ibu menyusui hanya akan merasakan sakit atau nyeri pada putingnya selama beberapa detik saat bayi baru pertama kali menempelkan bibirnya di payudara. Namun puting yang sakit akan menjadi suatu hal yang tidak normal ketika rasa sakitnya berlangsung selama menyusui atau lamanya menyusui. Kondisi ini tentu saja membuat kegiatan menyusui menjadi tidak menyenangkan dan malah ada yang menghentikan kegiatan menyusuinya. Penyebab sakitnya puting saat menyusui adalah akibat posisi menyusui yang salah atau melintang.
Salah satu cara untuk membantu bayi agar bisa menyusu dengan benar adalah memastikan bahwa si kecil sudah siap untuk menyusui. Ketika bayi sudah membuka mulutnya dengan lebar, maka akan lebih mudah bagi ibu untuk membimbing mulutnya ke puting payudara ibu.
Berikan penopang pada bagian belakang kepala bayi dengan tangan yang dominan, lalu arahkan puting ke ruang antara hidung dan bibir atas bayi. Ketika mulut bayi sudah terbuka lebar (seperti menguap), maka ibu bisa memasukkan puting payudara ke mulut bayi yang dimulai dengan bibir bawah lalu ditutup dengan bibir atas.
Selain masalah salah posisi menyusui tersebut di atas, ada beberapa penyebab puting terasa sakit atau bengkak akibat menyusui, yaitu:
Bayi memiliki lidah yang terikat. Kondisi ini tidaklah umum, tapi jika bayi memiliki kulit berlebih (frenulum) yang akan membuat ibu merasa seakan-akan bayinya menggigit ketika sedang disusui.
Ibu memiliki infeksi jamur (thrush). Puting akan terlihat merah, lecet dan terasa seperti terbakar. Selain itu ibu mungkin akan melihat bercak putih di mulut bayi yaitu meliputi lidah, bagian dalam pipi serta gusi.
Bayi 'mengasyik' di payudara ibu. Membiarkan bayi tetap mengisap payudara terlalu lama dalam dua atau tiga hari pertama akan membuat puting terasa sakit. Ketika bayi sudah mengisap terlalu lama dan panjang, maka cobalah untuk memindahkannya ke sisi yang lain. Karena kondisi ini akan menyebabkan lecet kecil di ujung puting yang nantinya dapat bertambah parah. (Rosdiana, 2010)
Sesuai dengan program pemerintah, peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya dapat dicapai antara lain dengan program PP-ASI tetapi berbagai faktor dapat berpengaruh terhadap keputusan ibu tentang menyusui antara lain adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, pengalaman, pengetahuan ibu dan juga keluarga yang berpengaruh. Walaupun menyusui merupakan suatu proses alamiah namun untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mulai dari perawatan payudara sampai cara menyusui yang benar dan merupakan salah satu tatalaksana untuk menunjang keberhasilan menyusui (Depkes RI, 2004).
Penyuluhan sebagai tindak lanjut mengenai pengetahuan tentang ASI Eksklusif dan teknik menyusui yang tepat sangat mempengaruhi pelaksanaan program ASI Eksklusif. Penyuluhan dapat dilakukan pada saat hamil maupun pada masa nifas.
Berdasarkan studi pendahuluan dari Buku Register Rawat Inap yang dilakukan di Zaal Kebidanan RSD Kolonel Abundjani Bangko didapat jumlah ibu nifas pada bulan oktober tahun 2011 sebanyak 75 orang, dan pada saat peneliti melakukan survey awal dengan cara observasi dan wawancara pada 5 (lima) orang ibu post partum diketahui bahwa hanya satu orang telah menyusui bayinya dengan teknik menyusui yang benar dan ibu paham tentang teknik menyusui dan 4 (empat) orang lainnya menyusui bayinya dengan cara yang penulis anggap salah dan kurang paham tentang langkah-langkah dari teknik menyusui yang benar.
Banyak faktor penyebab yang mempengaruhi seseorang untuk menyusui bayinya terutama dengan teknik menyusui yang benar, salah satunya adalah kurangnya penerimaan informasi tentang pemberian ASI Eksklusif dan teknik menyusui yang benar .
Berdasarkan studi pendahuluan di atas, maka penulis berasumsi mungkin masih banyaknya ibu-ibu yang menyusui bayinya dengan teknik yang salah pada beberapa daerah pedesaan di Kabupaten Merangin. Dari asumsi ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran teknik menyusui dari ibu-ibu post partum di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin 2011.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah masih banyaknya Ibu Post Partum yang belum mengerti dan paham dengan teknik menyusui yang benar di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin Tahun 2011.
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka pertanyaan penelitiannya adalah:
Bagaimana gambaran teknik menyusui ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Bagaimana gambaran penyuluhan teknik menyusui ibu post partum di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Bagaimana gambaran pengetahuan ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Bagaimana gambaran paritas ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Bagaimana gambaran tingkat pendidikan ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Diketahui gambaran teknik menyusui menurut karakteristik ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Tujuan Khusus
Untuk mengetahui gambaran teknik menyusui ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Untuk mengetahui gambaran penyuluhan teknik menyusui ibu post partum di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Untuk mengetahui gambaran paritas ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Untuk mengetahui gambaran tingkat pendidikan ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.

Manfaat Penelitian
Bagi Masyarakat Desa Rawa Jaya
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam upaya meningkatkan pengetahuan tentang teknik menyusui.
Bagi Bidan Desa Rawa Jaya
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam upaya pemberian penyuluhan guna peningkatkan pengetahuan tentang teknik menyusui.
Bagi Puskesmas Muara Delang
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam upaya perencanaan dan pemberian penyuluhan guna peningkatkan pengetahuan tentang teknik menyusui.
Bagi Akademi Kebidanan Merangin
Sebagai bahan untuk menambah referensi dan dapat memberikan masukan pada peneliti berikutnya tentang masalah penyuluhan pada masa nifas khususnya mengenai teknik menyusui.
Bagi Peneliti Lain
Sebagai bahan masukan untuk menambah referensi dalam melakukan penelitian dengan judul yang sama dan variabel yang berbeda.
Ruang Lingkup Penelitian
Mengingat keterbatasan peneliti maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
Ruang lingkup masalah
Penelitian ini dibatasi pada gambaran teknik menyusui menurut karakteristik ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Ruang lingkup tempat
Penelitian ini dilakukan di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011
Ruang lingkup waktu
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan November - Desember 2011.
Ruang lingkup objek atau sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011
Ruang lingkup cara
Penelitian ini di lakukan dengan cara pretest, treatment, posttest dan observasi dengan menggunakan daftar tilik.
Ruang lingkup tujuan
Penelitian ini dilakukan untuk gambaran teknik menyusui menurut karakteristik ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Ruang lingkup alasan
Karena masih banyaknya ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011 tidak menyusukan bayinya dengan teknik menyusui yang benar.

BAB I I
TINJAUAN PUSTAKA
ASI (Air Susu Ibu)
Pengertian Asi
Air Susu Ibu (ASI) mengandung lemak, protein dan kasein susu. Produksi ASI sekitar 600-700 ml/hari. Sifat isotonik dengan plasma. Mengadung protein alfa-laktoalbumin dan beta-laktoglobulin. Colostrum adalah air susu pada masa awal pasca persalinan yaitu 5 hari sampai 4 minggu. Asi terdiri dari air, alfa-laktoalbumin, laktosa, kasein asam amino dan mengandung antibodi terhadap kuman, virus dan jamur. Demikian juga ASI mengandung growth, yaitu faktor yang berguna diantaranya untuk perkembagan mukosa usus.
ASI akan melindungi bayi terhadap infeksi dan juga merangsang pertumbuhan bayi normal. Antibodi yang terkandung dalam air susu adalah immunoglobulin A (Ig A), bersama dengan berbagai system komplemen yang terdiri dari makrofag, limfosit, laktoferin, laktoperisidase, lisozim, laktoglobuli, interleukin sitokin dan sebaginya (Yanto, 2003).

Teknik Menyusui
Pengertian
Teknik Menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
Macam-macam posisi menyusui yang benar
Adapun macam-macam posisi menyusui yang benar diantaranya adalah: posisi menyusui sambil berdiri, duduk dan sambil rebahan. Posisi menyusui dengan sikap duduk dapat dilakukan dengan pertimbangan bahwa posisi ini adalah posisi yang santai dan tegak dengan menggunakan kursi yang rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi (Eny, 2010).
Bagaimana posisi menyusui yang benar. Tentunya, posisi menyusui sangat menentukan bagi kenyamanan bayi dan ibu sendiri. Apakah harus selalu menyusui dalam posisi berbaring? Tidak. Kita harus membiasakan bayi bisa menyusu dalam keadaan apapun. Baik kita tidur di rumah, berdiri, duduk, atau bahkan saat kita sedang berada di atas kendaraan. Posisi menyusui tersebut diantaranya:
1. The cradle. Posisi ini sangat baik untuk bayi yang baru lahir. Bagaimana caranya? Pastikan punggung Anda benar-benar mendukung untuk posisi ini. Jaga bayi di perut Anda, sampai kulitnya dan kulit Anda saling bersentuhan. Biarkan tubuhnya menghadap ke arah Anda, dan letakkan kepalanya pada siku Anda.
2. The cross cradle hold. Satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang lain mendukung kepala, mirip dengan posisi dudukan tetapi Anda akan memiliki kontrol lebih besar atas kepala bayi. Posisi menyusui ini bagus untuk bayi prematur atau ibu dengan puting payudara kecil.
3. The football hold. Caranya, pegang bayi di samping Anda dengan kaki di belakang Anda dan bayi terselip di bawah lengan Anda, seolah-olah Anda sedang memegang bola kaki. Ini adalah posisi terbaik untuk ibu yang melahirkan dengan operasi caesar atau untuk ibu-ibu dengan payudara besar. Tapi, Anda butuh bantal untuk menopang bayi.
4. Saddle hold. Ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menyusui dalam posisi duduk. Ini juga bekerja dengan baik jika bayi Anda memiliki pilek atau sakit telinga. Caranya, bayi Anda duduk tegak dengan kaki mengangkangi Anda sendiri.
5. The lying position. Menyusui dengan berbaring akan memberi Anda lebih banyak kesempatan untuk bersantai dan juga untuk tidur lebih banyak pada malam hari. Anda bisa tidur saat bayi menyusu. Dukung punggung dan kepala bayi dengan bantal. Pastikan bahwa perut bayi menyentuh Anda (Ariani Dewi Widodo, dr, SpA).
Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki di atas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara seperti
memegang bola bila disusui bersamaan, di payudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan di atas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.
Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.
Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu. Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah
menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut: Bayi tampak tenang; Badan bayi menempel pada perut ibu; Mulut bayi terbuka lebar; Dagu bayi menmpel pada payudara ibu; Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk; Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan; Puting susu tidak terasa nyeri; Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus; Kepala bayi agak menengadah.
Pembentukan dan persiapan ASI
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan areola mamae makin menghitam.
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI menurut Manuaba, (2010) dapat dilaksanakan dengan jalan:
Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu.
Persiapan payudara untuk menyusui menurut Breastfeeding mothers” Support Group Singapore adalah:
Kenakan BH yang nyaman dan menopang payudara dengan baik.
Jangan membersihkan puting dan payudara dengan sabun dan alcohol karena akan membuat puting dan payudara menjadi kering dan mudah luka
Rawatlah puting setiap hari dengan air hangat saja dan jika mau oleskan krim khusus payudara. Jangan menggunakan Vaseline atau bahan lain yang mengandung zat berbahaya
4. Perlekatan Menyusui
Perlekatan (Latch-on) adalah bagaimana mulut bayi bertemu dengan puting ibu dalam penghisapan ASI. Perlekatan ini penting karena menentukan sedikit-banyaknya ASI yang keluar. Kalau sekadar menempel ke payudara ibu, maka hanya ujung puting yang diisap oleh bayi. Akibatnya meski sudah menyedot sekuat tenaga, ASI hanya keluar sedikit mengingat "gudang" ASI tepat berada di bawah areola. Ibu akan merasa nyeri dan puting pun biasanya lecet. (Rahayu Utami, 2005).
Berikut tahapan untuk mendapat perlekatan yang baik yang dianjurkan:
Temukan posisi senyaman mungkin. Ibu harus dalam keadaan santai. Ibu dan anak harus dalam keadaan nyaman.
Bila ingin duduk, pilihlah kursi yang tidak terlalu tinggi. Upayakan telapak kaki menjejak lantai dengan nyaman. Bila ingin berbaring, perhatikan ketinggian posisi bayi. Usahakan bayi yang mendekatkan diri ke ibu dan bukan sebaliknya. Ini bermanfaat supaya ibu merasa nyaman dan tidak cepat lelah. Bila perlu, manfaatkan bantal sebagai penyangga tubuh bayi.
Pegang payudara dengan tangan yang tidak menggendong bayi, jempol di atas payudara, jari telunjuk dan tengan di bawahnya. Dagu bayi harus diposisikan agak menekan payudara sementara jidatnya agak ke belakang, supaya bayi tidak terhalang untuk bernafas.
Dekatkanlah bayi pada payudara, sentuhkan puting pada pipi si bayi. Bayi anda akan refleks menoleh dan menghisap puting ke mulutnya. Jangan putus asa apabila bayi anda kelihatannya sulit untuk menghisap, karena bayi pun masih belajar untuk melakukan ini. Anda berdua masih belajar.
Perhatikan posisi bayi
Idealnya, kepala dan tubuh bayi haruslah lurus dan sejajar.
Posisi payudara lebih tinggi dari kepala bayi. Jangan sampai kepala bayi lebih tinggi karena bayi pasti sulit menekuk kepalanya sedemikian rupa.
Dagu bayi harus menempel pada payudara ibu.
Usahakan supaya dada bayi menempel ke dada ibu atau perutnya menempel ke perut ibu.
Upayakan semua bagian areola masuk ke dalam mulut bayi. Jika ibu memiliki areola yang besar, utamakan bagian bawahnya masuk lebih banyak dibanding bagian atas. Sekilas bibir bayi tampak dower bila perlekatannya baik dan akan terdengar suara bayi menelan susu (lihat gambar). Sebaliknya, perlekatan yang salah membuat ASI tidak keluar maksimal.
Puting harus berada di dalam mulutnya (di atas lidah bayi) sehingga terlihat bibir bayi berada di aerola (bagian gelap payudara yang mengelilingi puting).
Arahkan puting dan areola ke langit-langit bayi. Gunakan ibu jari dan jari telunjuk seperti posisi menggunting, tekan payudara hingga agak gepeng menyerupai sandwich. Setelah areola masuk seluruhnya ke mulut bayi, jari tangan boleh dilepas.
Ibu yang bijak dalam menyusui harus juga mengenal tanda-tanda perlekatan yang benar, seperti:
Seluruh tubuh bayi menghadap ke payudara dan perut bayi menempel pada perut ibu.
Kepala, punggung dan bokong bayi merupakan garis lurus.
Muka bayi dekat payudara.
Bayi didekatkan ke payudara dengan bokong disangga.
Dagu bayi menempel di payudara.
Mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah melengkung kearah luar.
Bagian atas areola diatas bibir atas bayi terlihat lebih banyak dan dibawah bibir bawah terlihat lebih sedikit (bayi sebaiknya memasukkan sebagian besar areola dalam mulutnya).
Bayi menelan perlahan dan mengisap dengan kuat, terlihat dari daun telinganya yang bergerak-gerak.
Bayi terlihat rileks/santai dan puas pada akhir menyusui.
Ibu tidak merasakan puting sakit.
Ibu mungkin dapat mendengar bayi menelan.
Payudara terasa lunak sesudah meneteki.
Guna mengakhiri perlekatan ibu juga harus tahu cara untuk menghentikan perlekatan, yaitu: dengan cara perlahan-lahan masukkan jari anda ke pinggiran mulut bayi untuk melepaskan hisapannya. Jangan menarik puting secara paksa dari mulut bayi
5. Langkah-langkah menyusui yang benar.
Persiapan mental dan fisik. Ibu yang akan menyusui harus dalam keadaan tenang, tidak tergesa gesa atau takut dan malu payudaranya yang indah nongol ke permukaan. Tentu untuk memperoleh suasana ini, perlu dicari lokasi menyusui yang pas dan terjaga privasinya sehingga terhindar dari tontonan orang. Minum segelas air sebelum menyusui merupakan salah satu cara untuk membuat sang ibu merasa tenang. Hindari menyusui dalam keadaan haus dan lapar.
Persiapan tempat dan alat. Sebelum menyusui perlu dicari tempat duduk/kursi yang nyaman dengan sandaran punggung dan tangan serta bantalan untuk menopang tangan yang menggendong bayi. Capek khan kalau tangan terus terusan menyangga bayi dengan tidak nyaman, yang ujung ujungnya mempersingkat waktu menyusui.
Sebelum menggendong bayi, tangan dicuci sampai benar benar bersih untuk menghindari ASI terkontaminasi oleh kuman. Lalu sebelum menyusui, tekan daerah sekitar puting susu diantara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2 – 3 tetes ASI, kemudian oleskan ke seluruh bagian puting susu. Cara menyusui yang baik adalah bila ibu melepaskan kedua payudaranya dari pemakaian BH.
Susukan bayi sesuai dengan kebutuhan, jangan dijadual. Biasanya kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2 – 3 jam. Setiap menyusui, lakukan pada kedua payudara secara bergantian masing masing selama kurang lebih 10 menit. Mulai selalu dengan payudara sisi yang terakhir disusui sebelumnya. Periksa ASI sampai payudara terasa kosong.
Setelah selesai, oleskan ASI seperti awal menyusui dan biarkan kering oleh udara sebelum memakai BH untuk mencegah lecet. Hal ini dapat dilakukan sambil menyangga bayi agar bersendawa. Menyendawakan bayi setelah menyusui harus selalu dilakukan untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah.
Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Secara lebih rinci perilaku kesehatan mencakup:
Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon baik secara pasif maupun aktif sehubungan dengan sakit dan penyakit. Perilaku ini dengan sendirinya berhubungan dengan tingkat pencegahan penyakit.
Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan misalnya makan makanan bergizi, dan olahraga.
Perilaku pencegahan penyakit misalnya memakai kelambu untuk mencegah malaria, pemberian imunisasi.
Termasuk juga perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan misalnya usaha mengobati penyakitnya sendiri, pengobatan di fasilitas kesehatan atau pengobatan ke fasilitas kesehatan tradisional.
Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan setelah sembuh dari penyakit misalnya melakukan diet, melakukan anjuran dokter selama masa pemulihan.
Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. Perilaku ini mencakup respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat–obat.
Perilaku terhadap makanan. Perilaku ini mencakup pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makanan serta unsur – unsur yang terkandung di dalamnya, pengelolaan makanan dan lain sebagainya sehubungan dengan tubuh kita.
Perilaku terhadap lingkungan sehat adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai salah satu determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan.itu sendiri.

Faktor Penentu (Determinan) Perilaku
Perilaku kesehatan seperti halnya perilaku pada umumnya melibatkan banyak faktor. Menurut Lawrence Green (1980) kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu faktor perilaku dan di luar perilaku. Selanjutnya perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu:
Faktor pembawa (predisposing factor) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai–nilai dan lain sebagainya
Faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik, sumber daya, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan.
Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud di dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan maupun petugas lain, teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Dari faktor–faktor di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dari orang yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas kesehatan dan perilaku petugas kesehatan juga mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.
Seseorang yang tidak mau mengimunisasikan anaknya, dapat disebabkan karena dia memang belum tahu manfaat imunisasi (predisposing factor),.atau karena jarak posyandu dan puskesmas yang jauh dari rumahnya (enabling factor) sebab lain bisa jadi karena tokoh masyarakat di wilayahnya tidak mau mengimunisasikan anaknya (reinforcing factor) Model di atas dengan jelas menggambarkan bahwa terjadinya perilaku secara umum tergantung faktor intern (dari dalam individu) dan faktor ekstern (dari luar individu) yang saling memperkuat. Maka sudah selayaknya kalau kita ingin merubah perilaku kita harus memperhatikan faktor–faktor tersebut di atas.
Hal yang penting di dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan kesehatan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program kesehatan lainnya. Perubahan yang dimaksud bukan hanya sekedar covert behaviour tapi juga overt behaviour.
Di dalam program–program kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan norma–norma kesehatan diperlukan usaha–usaha yang konkrit dan positip.
Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan
Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran sehingga ia mau melakukan perilaku yang diharapkan. Misalnya dengan peraturan– peraturan/undang–undang yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Cara ini menyebabkan perubahan yang cepat akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena perubahan terjadi bukan berdasarkan kesadaran sendiri. Sebagai contoh adanya perubahan di masyarakat untuk menata rumahnya dengan membuat pagar rumah pada saat akan ada lomba desa tetapi begitu lomba/penilaian selesai banyak pagar yang kurang terawat.

2. Pemberian informasi
Adanya informasi tentang cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Selanjutnya diharapkan pengetahuan tadi menimbulkan kesadaran masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan semacam ini akan memakan waktu lama tapi perubahan yang dicapai akan bersifat lebih langgeng.
3. Diskusi partisipatif
Cara ini merupakan pengembangan dari cara kedua dimana penyampaian informasi kesehatan bukan hanya searah tetapi dilakukan secara partisipatif. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukan hanya penerima yang pasif tapi juga ikut aktif berpartisipasi di dalam diskusi tentang informasi yang diterimanya. Cara ini memakan waktu yang lebih lama dibanding cara kedua ataupun pertama akan tetapi pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku akan lebih mantap dan mendalam sehingga perilaku mereka juga akan lebih mantap.
Apapun cara yang dilakukan harus jelas bahwa perubahan perilaku akan terjadi ketika ada partisipasi sukarela dari masyarakat, pemaksaan, propaganda politis yang mengancam akan tidak banyak berguna untuk mewujudkan perubahan yang langgeng. (Notoatmodjo, dkk, 1985)
Perilaku menyusui yang benar dari ibu post partum atau ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif berdasarkan teori di atas juga akan dipengaruhi oleh:
Faktor pembawa (predisposing factor) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai–nilai dan lain sebagainya terhadap teknik menyusui yang benar kepada bayinya.
Faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik, sumber daya, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan tentang pelaksanaan teknik menyusui yang benar kepada bayinya.
Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud di dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan maupun petugas lain, teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok referensi dari perilaku ibu menyusui dalam melaksanakan teknik menyusui yang benar sehingga kebutuhan bayi akan ASI terpenuhi dan program pemberian ASI Eksklusif dapat terlaksana dengan baik..



BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL
Kerangka Konsep
Berdasarkan uraian pada BAB II, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Antesenden Variabel Independent Variabel Dependent
(Variabel Pendahulu)




Definisi Operasional
Teknik Menyusui
Adalah suatu upaya yang dilakukan dengan cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan posisi ibu dan bayi
Cara Ukur : Observasi
Alat Ukur : Daftar tilik
Skala Ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Benar, apabila dilakukan sesuai dengan standar
Tidak Benar, apabila dilakukan tidak sesuai dengan standar.
2. Penyuluhan Teknik Menyusui
Adalah penerimaan informasi oleh ibu post partum tentang teknik menyusui.
Cara Ukur : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Skala Ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Ada, jika penyampaian informasi disampaikan pada ibu post partum.
Tidak ada, jika penyampaian informasi tidak disampaikan pada ibu post partum.

Pengetahuan Teknik Menyusui
Adalah pengetahuan ibu tentang teknik menyusui.
Cara Ukur : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Skala Ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Baik: jika menjawab benar dengan persentase jawaban antara 76 – 100%.
Cukup; jika menjawab benar dengan persentase jawaban antara 56 – 75%.
Kurang; jika menjawab ≤ 56% (Nursalam, 2003: 124)
BAB IV
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui Gambaran Penyuluhan Teknik Menyusui Terhadap ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005).
Sampel
Menurut (Notoatmodjo, 2005: 79) Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili populasi yang diteliti. Sampel dalam penelitian adalah seluruh ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi berupa daftar tilik dan kuisionr untuk mendeskripsikan gambaran penyuluhan teknik menyusui terhadap ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.

Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Waktu penelitian
Penelitian ini rencananya akan dilakukan pada bulan November – Desember 2011
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan menggunakan daftar tilik dan kuesioner yang dilakukan secara langsung terhadap ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011 pada bulan November – Desember 2011.
Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan selanjutnya dilakukan pengolahan data melalui tahapan sebagai berikut:
Collecting, Merupakan cara pengumpulan data dengan pengelompokkan data sebelum penyuluhan dan sesudah penyuluhan dengan menggunakan pedoman observasi berupa daftar tilik.
Editing, Merupakan pengecekan daftar tilik untuk melihat apakah jawaban yang ada sudah lengkap.
Coding, Merupakan penilaian jawaban responden kedalam teori yang dilakukan dengan memberikan tanda atau kode pada masing-masing jawaban.
Scoring, Adalah pemberian nilai dari jawaban pengisian daftar tilik dengan kriteria jawaban yang benar (1) dan jawaban salah diberi nilai (0).
Tabulating, Yaitu pengerjaan dengan membuat tabel distribusi frekwensi.
Analisa Data
Analisis data yang dipakai pada penelitian ini adalah analisis univariat, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran distribusi frekwensi dari variabel yang diteliti, menggunakan rumus:
P = f/n x 100 %
Keterangan:
P : Distribusi frekwensi
f : Frekwensi
n : Jumlah sampel

Sabtu, 13 Agustus 2011

Proses Pengelolaan Data

Contoh : DS 11 (Proses pengelolaan data)

Detail Control Objectives (DCO) dalam proses DS 11 pada COBIT 4.0, meliputi :

1.Kebutuhan Bisnis untuk Manajemen Data (DS 11.1)
Menyangkut pengaturan yang jelas dalam mendefinisikan mekanisme aliran data mulai dari input, proses dan output.

2.Pengaturan Penyimpanan (DS 11.2)
Menyangkut penerapan prosedur yang digunakan mengatur permasalahan penyimpanan data sedemikian rupa sehingga data dapat dengan mudah diakses dan digunakan, mempertimbangkan aspek kemudahan penarikan data, efektifitas biaya, serta pemenuhan kebutuhan integritas dan keamanan.

3.Media Library (DS 11.3)
Menyangkut penerapan prosedur untuk melakukan inventarisasi media penyimpanan data yang dapat memastikan penggunaan dan integritasnya, serta melakukan pemeriksaan secara berkala dan menindaklanjutinya bila terjadi ketidaksesuaian.

4.Penghapusan (DS 11.4)
Menyangkut penerapan prosedur untuk mencegah akses terhadap data sensitif perusahaan pada media yang telah dilakukan tahap penghapusan, baik penghapusan ataupun pemindahan untuk penggunaan lainnya, serta memastikan data yang telah dilakukan penghapusan ditandai dan tidak dapat diperoleh lagi datanya.

5.Backup dan Restore (DS 11.5)
Menyangkut penerapan prosedur untuk melakukan backup dan restore data, sesuai dengan kebutuhan bisnis, serta dilakukan pengujian terhadap media backup dan proses restorasi data.

6.Kebutuhan Keamanan untuk Manajemen Data (DS 11.6)
Menyangkut pengaturan untuk mengidentifikasi dan menerapkan kebutuhan keamanan data pada tahap penerimaan, pemrosesan, penyimpanan fisik, dan keluaran terhadap data yang sensitif, serta mencakup catatan fisik, transmisi data dan data yang tersimpan secara offsite.


Mengacu pada COBIT 4.0 maka penilaian dan pengukuran tingkat kematangan proses pengelolaan data dilakukan dengan mempertimbangkan nilai kematangan 6 (enam) atribut kematangan, meliputi :
1.Kepedulian dan komunikasi (Awareness and Communication - AC)
2.Kebijakan, standar, dan prosedur ( Policies, Standards and Procedures - PSP)
3.Perangkat bantu dan otomatisasi (Tools and Automation – TA)
4.Keterampilan dan keahlian (Skills and Expertise – SE)
5.Pertanggungjawaban internal dan eksternal (Responsibility and Accountability – RA)
6.Penetapan tujuan dan pengukuran ( Goal Setting and Measurement – GSM)


Deskripsi Model Kematangan ke dalam pernyataan proses DS 11

No. Tingkat Kematangan Deskripsi Pernyataan
1 0 - Non Existent •Data belum diakui sebagai asset dan sumber daya perusahaan. (AC)
•Tidak ada kepemilikan data atau siapa yang bertanggungjawab dalam pengelolaan data. (RA)
•Kualitas dan keamanan dapat dikatakan buruk atau tidak ada. (GSM)

2 1 – Initial / Ad Hoc •Organisasi menyadari/mengetahui adanya kebutuhan manajemen data yang akurat. (AC)
•Menggunakan pendekatan adhoc untuk lmenangani kebutuhan keamanan pada manajemen data, belum menggunakan prosedur pendekatan normal, namun pengaturan dalam backup/restorasi dan pengaturan penghapusan telah dilakukan. (PSP)
•Belum ada pelatihan khusus untuk manajemen data. (SE)
•Tanggungjawab manajemen data tidak jelas. (RA)
3 2 – Repeatable but Intuitive
•Adanya kesadaran akan kebutuhan manajemen data. (AC)
•Kepemilikan data secara umum telah diterapkan. (RA)
•Kebutuhan keamanan pada manajemen data telah didokumentasikan masih secara perorangan. (PSP)
•Aktivitas pengawasan terhadap manajemen data telah dilakukan terutama pada aktivitas penting seperti backup, restorasi, dan penghapusan. (GSM)
•Penanggungjawab atas manajemen data secara informal telah ditetapkan. (RA)
4 3 – Defined •Kebutuhan manajemen data untuk teknologi informasi dan organisasi secara keseluruhan telah dipahami dan diterima. (AC)
•Tanggungjawab dan kepemilikan data telah ditetapkan, dan permasalahan integritas, keamanan data dikendalikan oleh pihak yang bertanggungjawab. (RA)
•Prosedur manajemen data diformalkan. (PSP)
•Digunakan beberapa tools untuk keperluan back up/restorasi serta penghapusan peralatan/media. (TA)
•Pengawasan terhadap manajemen data telah dilakukan dan telah didefinisikan pengukuran kinerja dasar. (GSM)
•Pelatihan bagian staf manajemen data mulai dilakukan. (SE)
5 4 – Managed and Measurable •Kebutuhan bagi manajemen data dipahami dan tindakan yang diperlukan sudah diterima diorganisasi. (AC)
•Tanggungjawab kepemilikan dan manajemen data didefiniskan secara jelas, ditetapkan dan dikomunikasikan dalam organisasi. (RA)
•Prosedur-prosedur telah diformalkan dan dikenal secara luas serta dilakukan sharing terhadap knowledge. (PSP)
•Penggunaan perangkat bantu terkini telah mulai dimanfaatkan. (TA)
•Indikator pencapaian tujuan dan kinerja telah disepakati pengguna dan dimonitor dengan proses yang telah didefinisikan. (GSM)
•Pelatihan formal terhadap staf manajemen data telah dilakukan. (SE)
5 5 – Optimised •Kebutuhan manajemen data dan pemahamannya atas langkah yang diperlukan telah dipahami dan diterima di organisasi. Keperluan dan kebutuhan ke depan senantiasa digali secara proaktif. Peluang bagi perbaikan dan penyempurnaan terus digali. (AC)
•anggungjawab kepemilikan data dan manajemen data ditetapkan secara jelas, diketahui secara luas di organisasi serta diupdate secara periodik. (RA)
•Prosedur diformalkan dan disosialisasikan, serta sharing knowledge menjadi praktik yang harus dilakukan. (PSP)
•Perangkat bantu yang canggih digunakan dengan otomasi manajemen data maksimal. (TA)
•Indikator pencapaian tujuan dan kinerja telah disepakati oleh pengguna, dikaitkan dengan tujuan bisnis dan secara konsisten dimonitor menggunakan proses yang telah didefinisikan. (GSM)
•Pelatihan untuk staf manajemen data telah dilembagakan. (SE)

I AWARENESS & COMMUNICATION
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.1

(a) Data belum diakui sebagai asset dan sumber daya perusahaan.
(b) Organisasi menyadari/mengetahui adanya kebutuhan manajemen data yang akurat.
(c)Adanya kesadaran akan kebutuhan manajemen data.
(d) Kebutuhan manajemen data untuk teknologi informasi dan organisasi secara keseluruhan telah dipahami dan diterima.
(e) Kebutuhan bagi manajemen data dipahami dan tindakan yang diperlukan sudah diterima diorganisasi.
(f) Kebutuhan manajemen data dan pemahamannya atas langkah yang diperlukan telah dipahami dan diterima di organisasi. Keperluan dan kebutuhan ke depan senantiasa digali secara proaktif. Peluang bagi perbaikan dan penyempurnaan terus digali
Sejauhmana tingkat kesadaran pihak manajemen sampai saat ini terkait dengan kebutuhan pengelolaan data ?
II POLICIES, STANDARDS & PROCEDURES
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.2
(a) Tidak ada prosedur untuk menangani data.
(b) Menggunakan pendekatan adhoc untuk lmenangani kebutuhan keamanan pada manajemen data, belum menggunakan prosedur pendekatan normal, namun pengaturan dalam backup/restorasi dan pengaturan penghapusan telah dilakukan.
(c) Kebutuhan keamanan pada manajemen data telah didokumentasikan masih secara perorangan.
(d) Prosedur manajemen data diformalkan.
(e) Prosedur-prosedur telah diformalkan dan dikenal secara luas serta dilakukan sharing terhadap knowledge.
(f) Prosedur diformalkan dan disosialisasikan, serta sharing knowledge menjadi praktik yang harus dilakukan.
2 Sejauhmana tingkat penerapan prosedur telah dilakukan dalam mengelola data ?


III TOOLS & AUTOMATION
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.3
(a) Tidak adanya tools apapun untuk mendukung proses dalam pengelolaan data.
(b) Beberapa tools mungkin telah ada, karena memang sudah tersedia dalam tools perangkat standar. Belum ada rencana menggunakan software tools pengelolaan data.
(c) Telah digunakan tools untuk membantu proses pengelolaan data sebagai solusi yang dikembangkan atas inisiatif perorangan berdasarkan pengalaman/ keahlian dan dibantu oleh vendor.
(d) Digunakan beberapa tools untuk keperluan back up/restorasi serta penghapusan peralatan/media.
(e) Penggunaan perangkat bantu terkini telah mulai dimanfaatkan.
(f) Perangkat bantu yang canggih digunakan dengan otomasi manajemen data maksimal.
3 Sejauhmana penggunaan tools dalam mengotomasikan proses-proses terkait dengan pengelolaan data ?


IV SKILLS & EXPERTISE
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.4
(a) Tidak ada pelatihan dalam mengelola data.
(b) Belum ada pelatihan khusus untuk manajemen data.
(c) Kebutuhan skill minimal telah diidentifikasi untuk menangani permasalahan kritis dalam mengelola data.
(d) Pelatihan bagian staf manajemen data mulai dilakukan.
(e) Pelatihan formal terhadap staf manajemen data telah dilakukan.
(f) Pelatihan untuk staf manajemen data telah dilembagakan.
4 Sejauhmana pengembangan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia dalam bentuk pelatihan dilakukan guna mendukung proses dalam pengelolaan data ?


V RESPONSIBILITIES & ACCOUNTABILITIES
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.5

(a) Tidak ada kepemilikan data atau siapa yang bertanggungjawab dalam pengelolaan data.
(b) Tanggungjawab manajemen data tidak jelas.
(c) Kepemilikan data secara umum telah diterapkan.
(d)Tanggungjawab dan kepemilikan data telah ditetapkan, dan permasalahan integritas, keamanan data dikendalikan oleh pihak yang bertanggungjawab.
(e)Tanggungjawab kepemilikan dan manajemen data didefiniskan secara jelas, ditetapkan dan dikomunikasikan dalam organisasi.
(f) Tanggungjawab kepemilikan data dan manajemen data ditetapkan secara jelas, diketahui secara luas di organisasi serta diupdate secara periodik.

5 Sejauhmana penetapan tanggungjawab dan kepemilikan dalam pengelolaan data diterapkan di perusahaan ?


VI GOAL SETTING & MEASUREMENT
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.6
(a) Kualitas dan keamanan dapat dikatakan buruk atau tidak ada.
(b) Tujuan pengelolaan data belum jelas dan belum ada pengukuran.
(c) Aktivitas pengawasan terhadap manajemen data telah dilakukan terutama pada aktivitas penting seperti backup, restorasi, dan penghapusan.
(d) Pengawasan terhadap manajemen data telah dilakukan dan telah didefinisikan pengukuran kinerja dasar.
(e) Indikator pencapaian tujuan dan kinerja telah disepakati pengguna dan dimonitor dengan proses yang telah didefinisikan.
(f) Indikator pencapaian tujuan dan kinerja telah disepakati oleh pengguna, dikaitkan dengan tujuan bisnis dan secara konsisten dimonitor menggunakan proses yang telah didefinisikan.
6 Sejauhmana telah dilakukan pengawasan dan pengukuran atas kinerja dalam pengelolaan data dilakukan ?