Rabu, 23 November 2011

ketimun bungkuk: SURAT BPP KOPERASI

ketimun bungkuk: SURAT BPP KOPERASI

SURAT BPP KOPERASI

KOPERASI KARYAWAN RSD. KOL. ABUNDJANI
BADAN PENGAWAS
JALAN KESEHATAN NO 20 BANGKO


Bangko, 23 November 2011
Kepada Yth:
Saudara Ketua Koperasi Sehat
Dinas Kesehatan Kab Merangin
Di Bangko.

Dengan hormat,
Akhir tahun usaha 2011 akan segera berakhir, dan hasil pantauan kami tentang kewajiban pengurus melaksanakan keputusan RAT KPN SEHAT tahun Usaha 2010 belum terlaksana seluruhnya, untuk itu kami dengan perantaraan surat ini mengingatkan bahwa ada agenda kegiatan yang merupakan hasil keputusan RAT tahun Usaha 2010 yang belum dikerjakan, alangkah baiknya sebagai pertanggung jawaban pengurus dalam menjalankan amanat anggota menginventarisir agenda tersebut dan menjadwalkannya untuk ditindak lanjuti.

Demikian untuk menjadi maklum

Hormat kami,
JONI RASMANTO SKM MKES (Ketua) …………………..

HERMANTO SE (Anggota) …………………………………

JUMAIDIL SE (Anggota) ……………………………………

Tembusan disampaikan kepada yth:
1. Bapak Kepala Dinas KOPERASI dan UKM di Bangko
2. Bapak Direktur RSD KOL ABUNDJANI di Bangko
3. Arsip di jonirasmanto@gmail.com


KOPERASI KARYAWAN RSD. KOL. ABUNDJANI
BADAN PENGAWAS
JALAN KESEHATAN NO 20 BANGKO

Bangko, 23 November 2011
Kepada Yth:
Saudara Ketua Koperasi Karyawan Husada
RSD KOL ABUNDJANI
Di Bangko.

Dengan hormat,

Akhir tahun usaha 2011 akan segera berakhir, dan hasil pantauan kami tentang kewajiban pengurus melaksanakan keputusan RAT KOPKAR HUSADA tahun Usaha 2010 belum terlaksana seluruhnya, untuk itu kami dengan perantaraan surat ini mengingatkan bahwa ada:

Selain itu adanya laporan dari:
• pihak ketiga yang mengindikasikan adanya ketidak mampuan KOPKAR HUSADA membayar kewajiban jangka pendek;
• pihak user bahwa adanya ketidak tersediaan macam dan jumlah obat yang dibutuhkan;
• anggota bahwa unit usaha parkir belum jelas hierarkinya;
• anggota dan user bahwa ada resep yang hilang di unit usaha apotek;
• karyawan koperasi dan anggota koperasi bahwa ada kerja sama yang terputus dan belum ditindaklanjuti;
• anggota bahwa tidak ada pendistribusian adil persentase dari hak manajemen
• anggota bahwa ada pengangkatan pegawai/karyawan unit usaha tidak berdasarkan keputusan rapat pengurus.

Dari uraian di atas terindikasi adanya permasalahan dalam pengelolaan administrasi dan pengelolaan keuangan dalam mengelola unit usaha apotek HUSADA, untuk itu kami mohon adanya penjadwalan rapat pengurus dan badan pengawas dengan beberapa saksi anggota yang dipercaya.

Satuhal yang paling krusial adalah bahwa Ketua Koperasi sebagai pengurus tidak beridtikad nyata menunjuk dan mengangkat menejer unit usaha apotek, keterlibatan ketua dalam unit usaha ini dengan beban struktural dan fungsionalnya yang jika diakui sebagai sebuah kemampuan maka permasalahan tersebut di atas tidak akan muncul. Dengan demikian ada variable lain yang membutuhkan pembuktian dan pertanggung jawaban ketua (dan atau pengurus) mengapa permasalahan tersebut muncul?.

Selain itu kami mengingatkan bahwa ada agenda kegiatan yang merupakan hasil keputusan RAT tahun Usaha 2010 yang belum dikerjakan, alangkah baiknya sebagai pertanggung jawaban pengurus dalam menjalankan amanat anggota menginventarisir agenda tersebut dan menjadwalkannya untuk ditindak lanjuti.

Demikian untuk menjadi maklum

Hormat kami,

JONI RASMANTO SKM MKES (Ketua)
NUR USMAN SKM (Anggota)
NURHASANAH (Anggota)

Tembusan disampaikan kepada yth:
4. Bapak Kepala Dinas KOPERASI dan UKM di Bangko
5. Bapak Direktur RSD KOL ABUNDJANI di Bangko
6. Arsip di jonirasmanto@gmail.com

http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi

Minggu, 13 November 2011

mana yang benar

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
World Health Organization (WHO) sebagai badan kesehatan dunia merekomendasikan bahwa anak sebaiknya disusui hanya Air Susu Ibu (ASI) selama paling sedikit enam bulan. Makanan seharusnya diberikan sesudah anak berumur 6 bulan, dan pemberian ASI seharusnya dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun (WHO, 2005). Pada tahun 2003 pemerintah Indonesia merubah rekomendasi lamanya pemberian ASI Eksklusif dari 4 bulan menjadi 6 bulan (BPS, 2007).
Masalah program pemberian ASI Eksklusif meliputi pelayanan konseling ASI, teknik menyusui yang benar dan bimbingan laktasi dari petugas kesehatan kepada ibu-ibu bersalin. Hal ini terkadang terabaikan dikarenakan agresifnya produsen susu formula memasarkan produknya. Cara menyusui yang salah menyebabkan ibu-ibu muda enggan memberikan ASI-nya dikarenakan mereka mengeluh sakit dan lecet pada puting susu mereka. Salah satu agar bayi mereka tetap mendapatkan susu adalah dengan memberikan susu formula (Eny, 2009).
Banyaknya jumlah bayi terkadang tidak seimbang dengan jumlah cakupan pemberian ASI Eksklusif, pada tahun 2007 jumlah bayi yang diberikan ASI Eksklusif 245.019 (27,71%), sedangkan jumlah seluruh bayi adalah sebesar 867.678 bayi, untuk target tahun 2010 sebesar 60% harus dicapai (BPS, 2007).
Air Susu Ibu (ASI) mengandung zat gizi yang diperlukan merupakan makanan yang aman tidak perlu biaya tambahan dan tiak kalah pentingnya mengandung zat kekebalan tubuh yang tidak dimiliki oleh susu formula. Memulainya pemberian ASI secara dini dapat merangsang produksi ASI memperkuat reflex menghisap bayi, mempererat hubungan emosional ibu dan bayinya, dapat memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melalui kolostrum dan merangsang kontraksi uterus (Eny, 2009).
Pemberian ASI membutuhkan suatu cara dengan harapan cara tersebut dapat memenuhi kebutuhan bayi. Teknik menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994) yang kegiatannya berdasarkan pada pengetahuan ibu tentang; pembentukan ASI dan persiapan pemberian ASI; posisi dan perlekatan menyusui; langkah-langkah menyusui yang benar; cara pengamatan teknik menyusui yang benar; lama dan frekwensi menyusui.
Selain itu, dalam Buku Saku Bidan Poskesdes diketahui tanda-tanda menyusui yang salah, seperti: mulut bayi tidak terbuka lebar; dagu tidak menempel pada payudara; dada bayi tidak menempel pada dada ibu, sehingga leher bayi terputar; sebagian besar areola masih terlihat; bayi menghisap sebentar-sebentar; bayi tetap gelisah pada akhir menyusu; kadang-kadang bayi minum berjam-jam; puting susu ibu lecet dan sakit (Depkes, 2006).
Kesalahan pada teknik menyusui dapat menyebabkan puting susu terasa sakit dan beberapa akibat lainnya. Normalnya ibu menyusui hanya akan merasakan sakit atau nyeri pada putingnya selama beberapa detik saat bayi baru pertama kali menempelkan bibirnya di payudara. Namun puting yang sakit akan menjadi suatu hal yang tidak normal ketika rasa sakitnya berlangsung selama menyusui atau lamanya menyusui. Kondisi ini tentu saja membuat kegiatan menyusui menjadi tidak menyenangkan dan malah ada yang menghentikan kegiatan menyusuinya. Penyebab sakitnya puting saat menyusui adalah akibat posisi menyusui yang salah atau melintang.
Salah satu cara untuk membantu bayi agar bisa menyusu dengan benar adalah memastikan bahwa si kecil sudah siap untuk menyusui. Ketika bayi sudah membuka mulutnya dengan lebar, maka akan lebih mudah bagi ibu untuk membimbing mulutnya ke puting payudara ibu.
Berikan penopang pada bagian belakang kepala bayi dengan tangan yang dominan, lalu arahkan puting ke ruang antara hidung dan bibir atas bayi. Ketika mulut bayi sudah terbuka lebar (seperti menguap), maka ibu bisa memasukkan puting payudara ke mulut bayi yang dimulai dengan bibir bawah lalu ditutup dengan bibir atas.
Selain masalah salah posisi menyusui tersebut di atas, ada beberapa penyebab puting terasa sakit atau bengkak akibat menyusui, yaitu:
Bayi memiliki lidah yang terikat. Kondisi ini tidaklah umum, tapi jika bayi memiliki kulit berlebih (frenulum) yang akan membuat ibu merasa seakan-akan bayinya menggigit ketika sedang disusui.
Ibu memiliki infeksi jamur (thrush). Puting akan terlihat merah, lecet dan terasa seperti terbakar. Selain itu ibu mungkin akan melihat bercak putih di mulut bayi yaitu meliputi lidah, bagian dalam pipi serta gusi.
Bayi 'mengasyik' di payudara ibu. Membiarkan bayi tetap mengisap payudara terlalu lama dalam dua atau tiga hari pertama akan membuat puting terasa sakit. Ketika bayi sudah mengisap terlalu lama dan panjang, maka cobalah untuk memindahkannya ke sisi yang lain. Karena kondisi ini akan menyebabkan lecet kecil di ujung puting yang nantinya dapat bertambah parah. (Rosdiana, 2010)
Sesuai dengan program pemerintah, peningkatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya dapat dicapai antara lain dengan program PP-ASI tetapi berbagai faktor dapat berpengaruh terhadap keputusan ibu tentang menyusui antara lain adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, pengalaman, pengetahuan ibu dan juga keluarga yang berpengaruh. Walaupun menyusui merupakan suatu proses alamiah namun untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mulai dari perawatan payudara sampai cara menyusui yang benar dan merupakan salah satu tatalaksana untuk menunjang keberhasilan menyusui (Depkes RI, 2004).
Penyuluhan sebagai tindak lanjut mengenai pengetahuan tentang ASI Eksklusif dan teknik menyusui yang tepat sangat mempengaruhi pelaksanaan program ASI Eksklusif. Penyuluhan dapat dilakukan pada saat hamil maupun pada masa nifas.
Berdasarkan studi pendahuluan dari Buku Register Rawat Inap yang dilakukan di Zaal Kebidanan RSD Kolonel Abundjani Bangko didapat jumlah ibu nifas pada bulan oktober tahun 2011 sebanyak 75 orang, dan pada saat peneliti melakukan survey awal dengan cara observasi dan wawancara pada 5 (lima) orang ibu post partum diketahui bahwa hanya satu orang telah menyusui bayinya dengan teknik menyusui yang benar dan ibu paham tentang teknik menyusui dan 4 (empat) orang lainnya menyusui bayinya dengan cara yang penulis anggap salah dan kurang paham tentang langkah-langkah dari teknik menyusui yang benar.
Banyak faktor penyebab yang mempengaruhi seseorang untuk menyusui bayinya terutama dengan teknik menyusui yang benar, salah satunya adalah kurangnya penerimaan informasi tentang pemberian ASI Eksklusif dan teknik menyusui yang benar .
Berdasarkan studi pendahuluan di atas, maka penulis berasumsi mungkin masih banyaknya ibu-ibu yang menyusui bayinya dengan teknik yang salah pada beberapa daerah pedesaan di Kabupaten Merangin. Dari asumsi ini penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang gambaran teknik menyusui dari ibu-ibu post partum di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin 2011.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah masih banyaknya Ibu Post Partum yang belum mengerti dan paham dengan teknik menyusui yang benar di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin Tahun 2011.
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka pertanyaan penelitiannya adalah:
Bagaimana gambaran teknik menyusui ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Bagaimana gambaran penyuluhan teknik menyusui ibu post partum di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Bagaimana gambaran pengetahuan ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Bagaimana gambaran paritas ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Bagaimana gambaran tingkat pendidikan ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.

Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Diketahui gambaran teknik menyusui menurut karakteristik ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Tujuan Khusus
Untuk mengetahui gambaran teknik menyusui ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Untuk mengetahui gambaran penyuluhan teknik menyusui ibu post partum di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Untuk mengetahui gambaran paritas ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Untuk mengetahui gambaran tingkat pendidikan ibu post partum tentang teknik menyusui di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.

Manfaat Penelitian
Bagi Masyarakat Desa Rawa Jaya
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam upaya meningkatkan pengetahuan tentang teknik menyusui.
Bagi Bidan Desa Rawa Jaya
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam upaya pemberian penyuluhan guna peningkatkan pengetahuan tentang teknik menyusui.
Bagi Puskesmas Muara Delang
Diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam upaya perencanaan dan pemberian penyuluhan guna peningkatkan pengetahuan tentang teknik menyusui.
Bagi Akademi Kebidanan Merangin
Sebagai bahan untuk menambah referensi dan dapat memberikan masukan pada peneliti berikutnya tentang masalah penyuluhan pada masa nifas khususnya mengenai teknik menyusui.
Bagi Peneliti Lain
Sebagai bahan masukan untuk menambah referensi dalam melakukan penelitian dengan judul yang sama dan variabel yang berbeda.
Ruang Lingkup Penelitian
Mengingat keterbatasan peneliti maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
Ruang lingkup masalah
Penelitian ini dibatasi pada gambaran teknik menyusui menurut karakteristik ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Ruang lingkup tempat
Penelitian ini dilakukan di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011
Ruang lingkup waktu
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan November - Desember 2011.
Ruang lingkup objek atau sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011
Ruang lingkup cara
Penelitian ini di lakukan dengan cara pretest, treatment, posttest dan observasi dengan menggunakan daftar tilik.
Ruang lingkup tujuan
Penelitian ini dilakukan untuk gambaran teknik menyusui menurut karakteristik ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Ruang lingkup alasan
Karena masih banyaknya ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011 tidak menyusukan bayinya dengan teknik menyusui yang benar.

BAB I I
TINJAUAN PUSTAKA
ASI (Air Susu Ibu)
Pengertian Asi
Air Susu Ibu (ASI) mengandung lemak, protein dan kasein susu. Produksi ASI sekitar 600-700 ml/hari. Sifat isotonik dengan plasma. Mengadung protein alfa-laktoalbumin dan beta-laktoglobulin. Colostrum adalah air susu pada masa awal pasca persalinan yaitu 5 hari sampai 4 minggu. Asi terdiri dari air, alfa-laktoalbumin, laktosa, kasein asam amino dan mengandung antibodi terhadap kuman, virus dan jamur. Demikian juga ASI mengandung growth, yaitu faktor yang berguna diantaranya untuk perkembagan mukosa usus.
ASI akan melindungi bayi terhadap infeksi dan juga merangsang pertumbuhan bayi normal. Antibodi yang terkandung dalam air susu adalah immunoglobulin A (Ig A), bersama dengan berbagai system komplemen yang terdiri dari makrofag, limfosit, laktoferin, laktoperisidase, lisozim, laktoglobuli, interleukin sitokin dan sebaginya (Yanto, 2003).

Teknik Menyusui
Pengertian
Teknik Menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994).
Macam-macam posisi menyusui yang benar
Adapun macam-macam posisi menyusui yang benar diantaranya adalah: posisi menyusui sambil berdiri, duduk dan sambil rebahan. Posisi menyusui dengan sikap duduk dapat dilakukan dengan pertimbangan bahwa posisi ini adalah posisi yang santai dan tegak dengan menggunakan kursi yang rendah agar kaki ibu tidak tergantung dan punggung ibu bersandar pada sandaran kursi (Eny, 2010).
Bagaimana posisi menyusui yang benar. Tentunya, posisi menyusui sangat menentukan bagi kenyamanan bayi dan ibu sendiri. Apakah harus selalu menyusui dalam posisi berbaring? Tidak. Kita harus membiasakan bayi bisa menyusu dalam keadaan apapun. Baik kita tidur di rumah, berdiri, duduk, atau bahkan saat kita sedang berada di atas kendaraan. Posisi menyusui tersebut diantaranya:
1. The cradle. Posisi ini sangat baik untuk bayi yang baru lahir. Bagaimana caranya? Pastikan punggung Anda benar-benar mendukung untuk posisi ini. Jaga bayi di perut Anda, sampai kulitnya dan kulit Anda saling bersentuhan. Biarkan tubuhnya menghadap ke arah Anda, dan letakkan kepalanya pada siku Anda.
2. The cross cradle hold. Satu lengan mendukung tubuh bayi dan yang lain mendukung kepala, mirip dengan posisi dudukan tetapi Anda akan memiliki kontrol lebih besar atas kepala bayi. Posisi menyusui ini bagus untuk bayi prematur atau ibu dengan puting payudara kecil.
3. The football hold. Caranya, pegang bayi di samping Anda dengan kaki di belakang Anda dan bayi terselip di bawah lengan Anda, seolah-olah Anda sedang memegang bola kaki. Ini adalah posisi terbaik untuk ibu yang melahirkan dengan operasi caesar atau untuk ibu-ibu dengan payudara besar. Tapi, Anda butuh bantal untuk menopang bayi.
4. Saddle hold. Ini merupakan cara yang menyenangkan untuk menyusui dalam posisi duduk. Ini juga bekerja dengan baik jika bayi Anda memiliki pilek atau sakit telinga. Caranya, bayi Anda duduk tegak dengan kaki mengangkangi Anda sendiri.
5. The lying position. Menyusui dengan berbaring akan memberi Anda lebih banyak kesempatan untuk bersantai dan juga untuk tidur lebih banyak pada malam hari. Anda bisa tidur saat bayi menyusu. Dukung punggung dan kepala bayi dengan bantal. Pastikan bahwa perut bayi menyentuh Anda (Ariani Dewi Widodo, dr, SpA).
Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki di atas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara seperti
memegang bola bila disusui bersamaan, di payudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan di atas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.
Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.
Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu. Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu. Apabila bayi telah
menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut: Bayi tampak tenang; Badan bayi menempel pada perut ibu; Mulut bayi terbuka lebar; Dagu bayi menmpel pada payudara ibu; Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk; Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan; Puting susu tidak terasa nyeri; Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus; Kepala bayi agak menengadah.
Pembentukan dan persiapan ASI
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan areola mamae makin menghitam.
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI menurut Manuaba, (2010) dapat dilaksanakan dengan jalan:
Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu.
Persiapan payudara untuk menyusui menurut Breastfeeding mothers” Support Group Singapore adalah:
Kenakan BH yang nyaman dan menopang payudara dengan baik.
Jangan membersihkan puting dan payudara dengan sabun dan alcohol karena akan membuat puting dan payudara menjadi kering dan mudah luka
Rawatlah puting setiap hari dengan air hangat saja dan jika mau oleskan krim khusus payudara. Jangan menggunakan Vaseline atau bahan lain yang mengandung zat berbahaya
4. Perlekatan Menyusui
Perlekatan (Latch-on) adalah bagaimana mulut bayi bertemu dengan puting ibu dalam penghisapan ASI. Perlekatan ini penting karena menentukan sedikit-banyaknya ASI yang keluar. Kalau sekadar menempel ke payudara ibu, maka hanya ujung puting yang diisap oleh bayi. Akibatnya meski sudah menyedot sekuat tenaga, ASI hanya keluar sedikit mengingat "gudang" ASI tepat berada di bawah areola. Ibu akan merasa nyeri dan puting pun biasanya lecet. (Rahayu Utami, 2005).
Berikut tahapan untuk mendapat perlekatan yang baik yang dianjurkan:
Temukan posisi senyaman mungkin. Ibu harus dalam keadaan santai. Ibu dan anak harus dalam keadaan nyaman.
Bila ingin duduk, pilihlah kursi yang tidak terlalu tinggi. Upayakan telapak kaki menjejak lantai dengan nyaman. Bila ingin berbaring, perhatikan ketinggian posisi bayi. Usahakan bayi yang mendekatkan diri ke ibu dan bukan sebaliknya. Ini bermanfaat supaya ibu merasa nyaman dan tidak cepat lelah. Bila perlu, manfaatkan bantal sebagai penyangga tubuh bayi.
Pegang payudara dengan tangan yang tidak menggendong bayi, jempol di atas payudara, jari telunjuk dan tengan di bawahnya. Dagu bayi harus diposisikan agak menekan payudara sementara jidatnya agak ke belakang, supaya bayi tidak terhalang untuk bernafas.
Dekatkanlah bayi pada payudara, sentuhkan puting pada pipi si bayi. Bayi anda akan refleks menoleh dan menghisap puting ke mulutnya. Jangan putus asa apabila bayi anda kelihatannya sulit untuk menghisap, karena bayi pun masih belajar untuk melakukan ini. Anda berdua masih belajar.
Perhatikan posisi bayi
Idealnya, kepala dan tubuh bayi haruslah lurus dan sejajar.
Posisi payudara lebih tinggi dari kepala bayi. Jangan sampai kepala bayi lebih tinggi karena bayi pasti sulit menekuk kepalanya sedemikian rupa.
Dagu bayi harus menempel pada payudara ibu.
Usahakan supaya dada bayi menempel ke dada ibu atau perutnya menempel ke perut ibu.
Upayakan semua bagian areola masuk ke dalam mulut bayi. Jika ibu memiliki areola yang besar, utamakan bagian bawahnya masuk lebih banyak dibanding bagian atas. Sekilas bibir bayi tampak dower bila perlekatannya baik dan akan terdengar suara bayi menelan susu (lihat gambar). Sebaliknya, perlekatan yang salah membuat ASI tidak keluar maksimal.
Puting harus berada di dalam mulutnya (di atas lidah bayi) sehingga terlihat bibir bayi berada di aerola (bagian gelap payudara yang mengelilingi puting).
Arahkan puting dan areola ke langit-langit bayi. Gunakan ibu jari dan jari telunjuk seperti posisi menggunting, tekan payudara hingga agak gepeng menyerupai sandwich. Setelah areola masuk seluruhnya ke mulut bayi, jari tangan boleh dilepas.
Ibu yang bijak dalam menyusui harus juga mengenal tanda-tanda perlekatan yang benar, seperti:
Seluruh tubuh bayi menghadap ke payudara dan perut bayi menempel pada perut ibu.
Kepala, punggung dan bokong bayi merupakan garis lurus.
Muka bayi dekat payudara.
Bayi didekatkan ke payudara dengan bokong disangga.
Dagu bayi menempel di payudara.
Mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah melengkung kearah luar.
Bagian atas areola diatas bibir atas bayi terlihat lebih banyak dan dibawah bibir bawah terlihat lebih sedikit (bayi sebaiknya memasukkan sebagian besar areola dalam mulutnya).
Bayi menelan perlahan dan mengisap dengan kuat, terlihat dari daun telinganya yang bergerak-gerak.
Bayi terlihat rileks/santai dan puas pada akhir menyusui.
Ibu tidak merasakan puting sakit.
Ibu mungkin dapat mendengar bayi menelan.
Payudara terasa lunak sesudah meneteki.
Guna mengakhiri perlekatan ibu juga harus tahu cara untuk menghentikan perlekatan, yaitu: dengan cara perlahan-lahan masukkan jari anda ke pinggiran mulut bayi untuk melepaskan hisapannya. Jangan menarik puting secara paksa dari mulut bayi
5. Langkah-langkah menyusui yang benar.
Persiapan mental dan fisik. Ibu yang akan menyusui harus dalam keadaan tenang, tidak tergesa gesa atau takut dan malu payudaranya yang indah nongol ke permukaan. Tentu untuk memperoleh suasana ini, perlu dicari lokasi menyusui yang pas dan terjaga privasinya sehingga terhindar dari tontonan orang. Minum segelas air sebelum menyusui merupakan salah satu cara untuk membuat sang ibu merasa tenang. Hindari menyusui dalam keadaan haus dan lapar.
Persiapan tempat dan alat. Sebelum menyusui perlu dicari tempat duduk/kursi yang nyaman dengan sandaran punggung dan tangan serta bantalan untuk menopang tangan yang menggendong bayi. Capek khan kalau tangan terus terusan menyangga bayi dengan tidak nyaman, yang ujung ujungnya mempersingkat waktu menyusui.
Sebelum menggendong bayi, tangan dicuci sampai benar benar bersih untuk menghindari ASI terkontaminasi oleh kuman. Lalu sebelum menyusui, tekan daerah sekitar puting susu diantara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2 – 3 tetes ASI, kemudian oleskan ke seluruh bagian puting susu. Cara menyusui yang baik adalah bila ibu melepaskan kedua payudaranya dari pemakaian BH.
Susukan bayi sesuai dengan kebutuhan, jangan dijadual. Biasanya kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2 – 3 jam. Setiap menyusui, lakukan pada kedua payudara secara bergantian masing masing selama kurang lebih 10 menit. Mulai selalu dengan payudara sisi yang terakhir disusui sebelumnya. Periksa ASI sampai payudara terasa kosong.
Setelah selesai, oleskan ASI seperti awal menyusui dan biarkan kering oleh udara sebelum memakai BH untuk mencegah lecet. Hal ini dapat dilakukan sambil menyangga bayi agar bersendawa. Menyendawakan bayi setelah menyusui harus selalu dilakukan untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah.
Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Secara lebih rinci perilaku kesehatan mencakup:
Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon baik secara pasif maupun aktif sehubungan dengan sakit dan penyakit. Perilaku ini dengan sendirinya berhubungan dengan tingkat pencegahan penyakit.
Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan misalnya makan makanan bergizi, dan olahraga.
Perilaku pencegahan penyakit misalnya memakai kelambu untuk mencegah malaria, pemberian imunisasi.
Termasuk juga perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan misalnya usaha mengobati penyakitnya sendiri, pengobatan di fasilitas kesehatan atau pengobatan ke fasilitas kesehatan tradisional.
Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan setelah sembuh dari penyakit misalnya melakukan diet, melakukan anjuran dokter selama masa pemulihan.
Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. Perilaku ini mencakup respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat–obat.
Perilaku terhadap makanan. Perilaku ini mencakup pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makanan serta unsur – unsur yang terkandung di dalamnya, pengelolaan makanan dan lain sebagainya sehubungan dengan tubuh kita.
Perilaku terhadap lingkungan sehat adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai salah satu determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan lingkungan.itu sendiri.

Faktor Penentu (Determinan) Perilaku
Perilaku kesehatan seperti halnya perilaku pada umumnya melibatkan banyak faktor. Menurut Lawrence Green (1980) kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu faktor perilaku dan di luar perilaku. Selanjutnya perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu:
Faktor pembawa (predisposing factor) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai–nilai dan lain sebagainya
Faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik, sumber daya, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan.
Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud di dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan maupun petugas lain, teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
Dari faktor–faktor di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dari orang yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas kesehatan dan perilaku petugas kesehatan juga mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.
Seseorang yang tidak mau mengimunisasikan anaknya, dapat disebabkan karena dia memang belum tahu manfaat imunisasi (predisposing factor),.atau karena jarak posyandu dan puskesmas yang jauh dari rumahnya (enabling factor) sebab lain bisa jadi karena tokoh masyarakat di wilayahnya tidak mau mengimunisasikan anaknya (reinforcing factor) Model di atas dengan jelas menggambarkan bahwa terjadinya perilaku secara umum tergantung faktor intern (dari dalam individu) dan faktor ekstern (dari luar individu) yang saling memperkuat. Maka sudah selayaknya kalau kita ingin merubah perilaku kita harus memperhatikan faktor–faktor tersebut di atas.
Hal yang penting di dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan kesehatan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program kesehatan lainnya. Perubahan yang dimaksud bukan hanya sekedar covert behaviour tapi juga overt behaviour.
Di dalam program–program kesehatan, agar diperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan norma–norma kesehatan diperlukan usaha–usaha yang konkrit dan positip.
Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan
Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran sehingga ia mau melakukan perilaku yang diharapkan. Misalnya dengan peraturan– peraturan/undang–undang yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Cara ini menyebabkan perubahan yang cepat akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena perubahan terjadi bukan berdasarkan kesadaran sendiri. Sebagai contoh adanya perubahan di masyarakat untuk menata rumahnya dengan membuat pagar rumah pada saat akan ada lomba desa tetapi begitu lomba/penilaian selesai banyak pagar yang kurang terawat.

2. Pemberian informasi
Adanya informasi tentang cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan, cara menghindari penyakit dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Selanjutnya diharapkan pengetahuan tadi menimbulkan kesadaran masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan semacam ini akan memakan waktu lama tapi perubahan yang dicapai akan bersifat lebih langgeng.
3. Diskusi partisipatif
Cara ini merupakan pengembangan dari cara kedua dimana penyampaian informasi kesehatan bukan hanya searah tetapi dilakukan secara partisipatif. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukan hanya penerima yang pasif tapi juga ikut aktif berpartisipasi di dalam diskusi tentang informasi yang diterimanya. Cara ini memakan waktu yang lebih lama dibanding cara kedua ataupun pertama akan tetapi pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku akan lebih mantap dan mendalam sehingga perilaku mereka juga akan lebih mantap.
Apapun cara yang dilakukan harus jelas bahwa perubahan perilaku akan terjadi ketika ada partisipasi sukarela dari masyarakat, pemaksaan, propaganda politis yang mengancam akan tidak banyak berguna untuk mewujudkan perubahan yang langgeng. (Notoatmodjo, dkk, 1985)
Perilaku menyusui yang benar dari ibu post partum atau ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif berdasarkan teori di atas juga akan dipengaruhi oleh:
Faktor pembawa (predisposing factor) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai–nilai dan lain sebagainya terhadap teknik menyusui yang benar kepada bayinya.
Faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik, sumber daya, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan tentang pelaksanaan teknik menyusui yang benar kepada bayinya.
Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud di dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan maupun petugas lain, teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok referensi dari perilaku ibu menyusui dalam melaksanakan teknik menyusui yang benar sehingga kebutuhan bayi akan ASI terpenuhi dan program pemberian ASI Eksklusif dapat terlaksana dengan baik..



BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL
Kerangka Konsep
Berdasarkan uraian pada BAB II, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bagan 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Antesenden Variabel Independent Variabel Dependent
(Variabel Pendahulu)




Definisi Operasional
Teknik Menyusui
Adalah suatu upaya yang dilakukan dengan cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan posisi ibu dan bayi
Cara Ukur : Observasi
Alat Ukur : Daftar tilik
Skala Ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Benar, apabila dilakukan sesuai dengan standar
Tidak Benar, apabila dilakukan tidak sesuai dengan standar.
2. Penyuluhan Teknik Menyusui
Adalah penerimaan informasi oleh ibu post partum tentang teknik menyusui.
Cara Ukur : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Skala Ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Ada, jika penyampaian informasi disampaikan pada ibu post partum.
Tidak ada, jika penyampaian informasi tidak disampaikan pada ibu post partum.

Pengetahuan Teknik Menyusui
Adalah pengetahuan ibu tentang teknik menyusui.
Cara Ukur : Wawancara
Alat Ukur : Kuesioner
Skala Ukur : Ordinal
Hasil Ukur : 1. Baik: jika menjawab benar dengan persentase jawaban antara 76 – 100%.
Cukup; jika menjawab benar dengan persentase jawaban antara 56 – 75%.
Kurang; jika menjawab ≤ 56% (Nursalam, 2003: 124)
BAB IV
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui Gambaran Penyuluhan Teknik Menyusui Terhadap ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005).
Sampel
Menurut (Notoatmodjo, 2005: 79) Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili populasi yang diteliti. Sampel dalam penelitian adalah seluruh ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi berupa daftar tilik dan kuisionr untuk mendeskripsikan gambaran penyuluhan teknik menyusui terhadap ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.

Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011.
Waktu penelitian
Penelitian ini rencananya akan dilakukan pada bulan November – Desember 2011
Pengumpulan Data
Pengumpulan data dengan menggunakan daftar tilik dan kuesioner yang dilakukan secara langsung terhadap ibu yang punya bayi 0 – 12 bulan Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan Kabupaten Merangin tahun 2011 pada bulan November – Desember 2011.
Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan selanjutnya dilakukan pengolahan data melalui tahapan sebagai berikut:
Collecting, Merupakan cara pengumpulan data dengan pengelompokkan data sebelum penyuluhan dan sesudah penyuluhan dengan menggunakan pedoman observasi berupa daftar tilik.
Editing, Merupakan pengecekan daftar tilik untuk melihat apakah jawaban yang ada sudah lengkap.
Coding, Merupakan penilaian jawaban responden kedalam teori yang dilakukan dengan memberikan tanda atau kode pada masing-masing jawaban.
Scoring, Adalah pemberian nilai dari jawaban pengisian daftar tilik dengan kriteria jawaban yang benar (1) dan jawaban salah diberi nilai (0).
Tabulating, Yaitu pengerjaan dengan membuat tabel distribusi frekwensi.
Analisa Data
Analisis data yang dipakai pada penelitian ini adalah analisis univariat, yang bertujuan untuk memperoleh gambaran distribusi frekwensi dari variabel yang diteliti, menggunakan rumus:
P = f/n x 100 %
Keterangan:
P : Distribusi frekwensi
f : Frekwensi
n : Jumlah sampel

Sabtu, 13 Agustus 2011

Proses Pengelolaan Data

Contoh : DS 11 (Proses pengelolaan data)

Detail Control Objectives (DCO) dalam proses DS 11 pada COBIT 4.0, meliputi :

1.Kebutuhan Bisnis untuk Manajemen Data (DS 11.1)
Menyangkut pengaturan yang jelas dalam mendefinisikan mekanisme aliran data mulai dari input, proses dan output.

2.Pengaturan Penyimpanan (DS 11.2)
Menyangkut penerapan prosedur yang digunakan mengatur permasalahan penyimpanan data sedemikian rupa sehingga data dapat dengan mudah diakses dan digunakan, mempertimbangkan aspek kemudahan penarikan data, efektifitas biaya, serta pemenuhan kebutuhan integritas dan keamanan.

3.Media Library (DS 11.3)
Menyangkut penerapan prosedur untuk melakukan inventarisasi media penyimpanan data yang dapat memastikan penggunaan dan integritasnya, serta melakukan pemeriksaan secara berkala dan menindaklanjutinya bila terjadi ketidaksesuaian.

4.Penghapusan (DS 11.4)
Menyangkut penerapan prosedur untuk mencegah akses terhadap data sensitif perusahaan pada media yang telah dilakukan tahap penghapusan, baik penghapusan ataupun pemindahan untuk penggunaan lainnya, serta memastikan data yang telah dilakukan penghapusan ditandai dan tidak dapat diperoleh lagi datanya.

5.Backup dan Restore (DS 11.5)
Menyangkut penerapan prosedur untuk melakukan backup dan restore data, sesuai dengan kebutuhan bisnis, serta dilakukan pengujian terhadap media backup dan proses restorasi data.

6.Kebutuhan Keamanan untuk Manajemen Data (DS 11.6)
Menyangkut pengaturan untuk mengidentifikasi dan menerapkan kebutuhan keamanan data pada tahap penerimaan, pemrosesan, penyimpanan fisik, dan keluaran terhadap data yang sensitif, serta mencakup catatan fisik, transmisi data dan data yang tersimpan secara offsite.


Mengacu pada COBIT 4.0 maka penilaian dan pengukuran tingkat kematangan proses pengelolaan data dilakukan dengan mempertimbangkan nilai kematangan 6 (enam) atribut kematangan, meliputi :
1.Kepedulian dan komunikasi (Awareness and Communication - AC)
2.Kebijakan, standar, dan prosedur ( Policies, Standards and Procedures - PSP)
3.Perangkat bantu dan otomatisasi (Tools and Automation – TA)
4.Keterampilan dan keahlian (Skills and Expertise – SE)
5.Pertanggungjawaban internal dan eksternal (Responsibility and Accountability – RA)
6.Penetapan tujuan dan pengukuran ( Goal Setting and Measurement – GSM)


Deskripsi Model Kematangan ke dalam pernyataan proses DS 11

No. Tingkat Kematangan Deskripsi Pernyataan
1 0 - Non Existent •Data belum diakui sebagai asset dan sumber daya perusahaan. (AC)
•Tidak ada kepemilikan data atau siapa yang bertanggungjawab dalam pengelolaan data. (RA)
•Kualitas dan keamanan dapat dikatakan buruk atau tidak ada. (GSM)

2 1 – Initial / Ad Hoc •Organisasi menyadari/mengetahui adanya kebutuhan manajemen data yang akurat. (AC)
•Menggunakan pendekatan adhoc untuk lmenangani kebutuhan keamanan pada manajemen data, belum menggunakan prosedur pendekatan normal, namun pengaturan dalam backup/restorasi dan pengaturan penghapusan telah dilakukan. (PSP)
•Belum ada pelatihan khusus untuk manajemen data. (SE)
•Tanggungjawab manajemen data tidak jelas. (RA)
3 2 – Repeatable but Intuitive
•Adanya kesadaran akan kebutuhan manajemen data. (AC)
•Kepemilikan data secara umum telah diterapkan. (RA)
•Kebutuhan keamanan pada manajemen data telah didokumentasikan masih secara perorangan. (PSP)
•Aktivitas pengawasan terhadap manajemen data telah dilakukan terutama pada aktivitas penting seperti backup, restorasi, dan penghapusan. (GSM)
•Penanggungjawab atas manajemen data secara informal telah ditetapkan. (RA)
4 3 – Defined •Kebutuhan manajemen data untuk teknologi informasi dan organisasi secara keseluruhan telah dipahami dan diterima. (AC)
•Tanggungjawab dan kepemilikan data telah ditetapkan, dan permasalahan integritas, keamanan data dikendalikan oleh pihak yang bertanggungjawab. (RA)
•Prosedur manajemen data diformalkan. (PSP)
•Digunakan beberapa tools untuk keperluan back up/restorasi serta penghapusan peralatan/media. (TA)
•Pengawasan terhadap manajemen data telah dilakukan dan telah didefinisikan pengukuran kinerja dasar. (GSM)
•Pelatihan bagian staf manajemen data mulai dilakukan. (SE)
5 4 – Managed and Measurable •Kebutuhan bagi manajemen data dipahami dan tindakan yang diperlukan sudah diterima diorganisasi. (AC)
•Tanggungjawab kepemilikan dan manajemen data didefiniskan secara jelas, ditetapkan dan dikomunikasikan dalam organisasi. (RA)
•Prosedur-prosedur telah diformalkan dan dikenal secara luas serta dilakukan sharing terhadap knowledge. (PSP)
•Penggunaan perangkat bantu terkini telah mulai dimanfaatkan. (TA)
•Indikator pencapaian tujuan dan kinerja telah disepakati pengguna dan dimonitor dengan proses yang telah didefinisikan. (GSM)
•Pelatihan formal terhadap staf manajemen data telah dilakukan. (SE)
5 5 – Optimised •Kebutuhan manajemen data dan pemahamannya atas langkah yang diperlukan telah dipahami dan diterima di organisasi. Keperluan dan kebutuhan ke depan senantiasa digali secara proaktif. Peluang bagi perbaikan dan penyempurnaan terus digali. (AC)
•anggungjawab kepemilikan data dan manajemen data ditetapkan secara jelas, diketahui secara luas di organisasi serta diupdate secara periodik. (RA)
•Prosedur diformalkan dan disosialisasikan, serta sharing knowledge menjadi praktik yang harus dilakukan. (PSP)
•Perangkat bantu yang canggih digunakan dengan otomasi manajemen data maksimal. (TA)
•Indikator pencapaian tujuan dan kinerja telah disepakati oleh pengguna, dikaitkan dengan tujuan bisnis dan secara konsisten dimonitor menggunakan proses yang telah didefinisikan. (GSM)
•Pelatihan untuk staf manajemen data telah dilembagakan. (SE)

I AWARENESS & COMMUNICATION
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.1

(a) Data belum diakui sebagai asset dan sumber daya perusahaan.
(b) Organisasi menyadari/mengetahui adanya kebutuhan manajemen data yang akurat.
(c)Adanya kesadaran akan kebutuhan manajemen data.
(d) Kebutuhan manajemen data untuk teknologi informasi dan organisasi secara keseluruhan telah dipahami dan diterima.
(e) Kebutuhan bagi manajemen data dipahami dan tindakan yang diperlukan sudah diterima diorganisasi.
(f) Kebutuhan manajemen data dan pemahamannya atas langkah yang diperlukan telah dipahami dan diterima di organisasi. Keperluan dan kebutuhan ke depan senantiasa digali secara proaktif. Peluang bagi perbaikan dan penyempurnaan terus digali
Sejauhmana tingkat kesadaran pihak manajemen sampai saat ini terkait dengan kebutuhan pengelolaan data ?
II POLICIES, STANDARDS & PROCEDURES
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.2
(a) Tidak ada prosedur untuk menangani data.
(b) Menggunakan pendekatan adhoc untuk lmenangani kebutuhan keamanan pada manajemen data, belum menggunakan prosedur pendekatan normal, namun pengaturan dalam backup/restorasi dan pengaturan penghapusan telah dilakukan.
(c) Kebutuhan keamanan pada manajemen data telah didokumentasikan masih secara perorangan.
(d) Prosedur manajemen data diformalkan.
(e) Prosedur-prosedur telah diformalkan dan dikenal secara luas serta dilakukan sharing terhadap knowledge.
(f) Prosedur diformalkan dan disosialisasikan, serta sharing knowledge menjadi praktik yang harus dilakukan.
2 Sejauhmana tingkat penerapan prosedur telah dilakukan dalam mengelola data ?


III TOOLS & AUTOMATION
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.3
(a) Tidak adanya tools apapun untuk mendukung proses dalam pengelolaan data.
(b) Beberapa tools mungkin telah ada, karena memang sudah tersedia dalam tools perangkat standar. Belum ada rencana menggunakan software tools pengelolaan data.
(c) Telah digunakan tools untuk membantu proses pengelolaan data sebagai solusi yang dikembangkan atas inisiatif perorangan berdasarkan pengalaman/ keahlian dan dibantu oleh vendor.
(d) Digunakan beberapa tools untuk keperluan back up/restorasi serta penghapusan peralatan/media.
(e) Penggunaan perangkat bantu terkini telah mulai dimanfaatkan.
(f) Perangkat bantu yang canggih digunakan dengan otomasi manajemen data maksimal.
3 Sejauhmana penggunaan tools dalam mengotomasikan proses-proses terkait dengan pengelolaan data ?


IV SKILLS & EXPERTISE
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.4
(a) Tidak ada pelatihan dalam mengelola data.
(b) Belum ada pelatihan khusus untuk manajemen data.
(c) Kebutuhan skill minimal telah diidentifikasi untuk menangani permasalahan kritis dalam mengelola data.
(d) Pelatihan bagian staf manajemen data mulai dilakukan.
(e) Pelatihan formal terhadap staf manajemen data telah dilakukan.
(f) Pelatihan untuk staf manajemen data telah dilembagakan.
4 Sejauhmana pengembangan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia dalam bentuk pelatihan dilakukan guna mendukung proses dalam pengelolaan data ?


V RESPONSIBILITIES & ACCOUNTABILITIES
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.5

(a) Tidak ada kepemilikan data atau siapa yang bertanggungjawab dalam pengelolaan data.
(b) Tanggungjawab manajemen data tidak jelas.
(c) Kepemilikan data secara umum telah diterapkan.
(d)Tanggungjawab dan kepemilikan data telah ditetapkan, dan permasalahan integritas, keamanan data dikendalikan oleh pihak yang bertanggungjawab.
(e)Tanggungjawab kepemilikan dan manajemen data didefiniskan secara jelas, ditetapkan dan dikomunikasikan dalam organisasi.
(f) Tanggungjawab kepemilikan data dan manajemen data ditetapkan secara jelas, diketahui secara luas di organisasi serta diupdate secara periodik.

5 Sejauhmana penetapan tanggungjawab dan kepemilikan dalam pengelolaan data diterapkan di perusahaan ?


VI GOAL SETTING & MEASUREMENT
Berikut pilihan jawaban untuk pertanyaan kuesioner no.6
(a) Kualitas dan keamanan dapat dikatakan buruk atau tidak ada.
(b) Tujuan pengelolaan data belum jelas dan belum ada pengukuran.
(c) Aktivitas pengawasan terhadap manajemen data telah dilakukan terutama pada aktivitas penting seperti backup, restorasi, dan penghapusan.
(d) Pengawasan terhadap manajemen data telah dilakukan dan telah didefinisikan pengukuran kinerja dasar.
(e) Indikator pencapaian tujuan dan kinerja telah disepakati pengguna dan dimonitor dengan proses yang telah didefinisikan.
(f) Indikator pencapaian tujuan dan kinerja telah disepakati oleh pengguna, dikaitkan dengan tujuan bisnis dan secara konsisten dimonitor menggunakan proses yang telah didefinisikan.
6 Sejauhmana telah dilakukan pengawasan dan pengukuran atas kinerja dalam pengelolaan data dilakukan ?


Kamis, 21 Juli 2011

Minggu, 28 Maret 2010

mutu pelayanan rumahsakit dari audit kematian

Evaluasi Mutu Pelayanan Rawat Inap Melalui Audit Kematian Di RSD Kol. Abundjani Bangko Provinsi Jambi Tahun 2005
Fri, 15/02/2008 - 2:32am — joni rasmanto

EVALUASI MUTU PELAYANAN RAWAT INAP MELALUI AUDIT KEMATIAN
DI RSD KOL. ABUNDJANI BANGKO PROVINSI JAMBI TAHUN 2005

THE EVALUATION INPATIENT CARE QUALITY
BY MORTALITY AUDIT IN KOL. ABUNDJANI DISTRICT HOSPITAL
IN JAMBI PROVINCE 2005.

Joni Rasmanto1, Tjahjono Koentjoro2, Hanevi Djasri3

INTISARI

Latar Belakang: Peningkatan angka kematian yang terjadi di Rumah Sakit Daerah Kol.
Abundjani Bangko (RSKA), Kab. Merangin Prov. Jambi dari tahun 2002-2005
memerlukan tindakan evaluasi kritis, karena peningkatan kematian dapat dijadikan salah
satu penyebab diperlukannya audit medik atau dapat menjadi topik dalam audit medik di
rumah sakit. Audit kematian sebagai evaluasi kritis dilakukan dalam upaya perbaikan
mutu pelayanan kesehatan.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan-alasan kematian
yang tidak beralasan dari penyimpangan dalam area manajemen pelayanan kesehatan.
Metode Penelitian: Jenis penelitian adalah restrospective review, meriview kematian
yang tidak beralasan dengan menggunakan daftar tilik penyimpangan kematian di
RSKA.

Hasil: Dari 413 set RM kematian pasien yang diaudit berjumlah 102 set, kematian
tertinggi dari total kematian terjadi pada 2005, terhadap jumlah pasien terjadi pada 2004,
terbanyak menurut kode 002. 60% kematian berbiaya < Rp. 3.000.000,oo kematian
terjadi di kelas perawatan intensif. Kematian terjadi diusia > 45 tahun berjumlah 49%
dengan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan, waktu kematian meningkat di bulan
September dan Desember dan perawat paling sering menjadi saksi kematian pasien.
Keluarga merupakan penjamin terbesar biaya perawatan.

Dari 21 kematian tidak beralasan terdistribusi: 8 kematian terjadi karena kejadian
penyebab tidak dikenal; 7 kematian karena diagnosa tidak tepat; 5 kematian terjadi
karena pencegahan yang dilakukan tidak adekuat; dan 1 kematian karena diagnosa
utama terlambat ditegakkan. Penyebab-penyebab terpenting terjadi dalam area:
administrasi/manajemen, Anggota SMF/individual, unit pelayanan, dan pelayanan klinik
khusus. RM pasien belum lengkap. Secara teoritis mutu administrasi dan RM RSKA
adalah belum baik. Kematian tidak beralasan memberikan gambaran bagaimana
penegakkan diagnosa penyakit, anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang pencegahan dan pengobatan.

Kesimpulan: Penyebab-penyebab penyimpangan kematian terpenting sebagai hasil
dari audit dan riview terjadi dalam area: administrasi/manajemen, Anggota SMF/
individual, unit pelayanan rawat inap, dan pelayanan klinik khusus.

Kata Kunci: audit kematian, kematian tidak beralasan, mutu pelayanan rawat inap.
1) RSD KOL. ABUNDJANI BANGKO, KAB. MERANGIN. PROVINSI JAMBI
2) BAPELKES GOMBONG
3) PROGRAM PASCA SARJANA IKM FK UGM

EVALUASI MUTU PELAYANAN RAWAT INAP MELALUI AUDIT KEMATIAN
DI RSD KOL. ABUNDJANI BANGKO PROVINSI JAMBI TAHUN 2005

Pendahuluan

Peningkatan angka kematian yang terjadi di Rumah Sakit Daerah Kol.
Abundjani Bangko (RSKA), Kabupaten Merangin Provinsi Jambi dari tahun 2002-
2005 memerlukan tindakan evaluasi kritis, karena kematian dapat dijadikan salah
satu penyebab diperlukannya atau dapat menjadi topik pelaksanaan audit medik
bagi rumah sakit.1 Angka kematian merupakan salah satu indikator yang
berhubungan/mengacu dengan aspek pelayanan medik. Total kematian pasien >
48 jam dapat menggambarkan bagaimana mutu pelayanan di rumah sakit dan
bagaimana tenaga profesional melaksanakan standar dan prosedur-prosedur
pelayanan, baik secara klinik maupun secara administrasi kepada pasien.2
Berbagai kegiatan untuk mendukung manajemen mutu telah dilakukan
RSKA tetapi belum mempengaruhi adanya perbaikan jika dilihat dari peningkatan
angka kematian > 48 jam dan masih adanya pasien instalasi rawat inap yang
dirujuk ke rumah sakit lain antara tahun 2002-2005. Jika dihubungkan dengan
mutu pelayanan, hal tersebut dapat memberikan gambaran masih tingginya
angka mortalitas, tingginya angka mortalitas dapat memberikan asumsi
rendahnya mutu pelayanan rumah sakit.3
Kematian pasien secara klinik dapat disebabkan oleh gagalnya tahapan
menegakkan diagnosa penyakit, tidak lengkapnya anamnesa, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang dan dapat pula sebagai akibat dari informasi yang
dibutuhkan dokter tidak dapat diberikan oleh pasien dan atau keluarganya
sehingga upaya pelayanan dapat saja tidak tepat sasaran dan tidak adekuat.
Catatan medis pada fase kritis menjelang kematian pasien dari rekam medik
merupakan informasi dan komponen penting dalam manajemen mutu di rumah
sakit.
The American College of Surgeons (ACS) memformulasikan standar
untuk pekerjaan profesional di rumah sakit, antara lain ada 5 (lima) butir yang
penting yang berhubungan dengan kematian, serta ada batas ambangnya dan
tidak terlalu sulit untuk mengumpulkan datanya, mencakup: angka kematian
kasar; angka kematian pasca bedah; angka kematian anastesi; angka kematian
persalinan dan angka kematian bayi.4 Standar Kualitas Pelayanan Medik dapat
dilihat dari tinggi rendahnya angka kematian di rumah sakit dan sebagai
indikatornya angka berikut yang merupakan acuan umum: angka kematian kasar
3-4%; angka kematian pasca bedah 1-2%; angka kematian anastesi < 1%;
angka kematian persalinan 1-2‰ dan angka kematian bayi 15-20‰.2
Departemen Kesehatan mengharuskan rumah sakit melakukan audit
medis, diharapkan rumah sakit bertanggung jawab untuk meningkatkan mutu
pelayanan dengan standar yang tinggi sesuai dengan kondisi rumah sakit
sehingga terwujudnya pelayanan medik prima di rumah sakit. Aspek mutu
pelayanan medik di rumah sakit berkaitan erat dengan masalah medikolegal 5.
Permasalahan pokok yang ingin diketahui dalam penelitian ini adalah:
penyebab kematian di instalasi rawat inap RSKA dari tahun 2002-2005;
persentase kematian yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan dengan
harapan hasil penelitian dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan
perbaikan mutu pelayanan.

Bahan dan Cara Penelitian.

Audit termasuk penelitian jenis kualitatif, dengan metode retrospektif
riview. Peneliti menggunakan “Daftar Tilik Analisis Penyimpangan Mortalitas”
untuk mengetahui alasan kematian > 48 jam tahun 2002-2005 di RSKA.
Hasil Penelitian
Hasil audit ditemui distribusi kematian menurut tahun kejadian kematian,
menurut nomor kode SMF yang merawat, menurut biaya perawatan, menurut
kelas perawatan, menurut kelompok umur, menurut jenis kelamin, menurut bulan
kejadian, menurut kesaksian, menurut penjamin biaya. Sedangkan untuk
kematian tidak beralasan dideskripsikan sebagai berikut:
a. Diagnosa terlambat.
Satu kasus kematian dengan diagnosa Decompensatio Cordis + Malaria
Falsiparum yang terjadi karena keterlambatan penegakan diagnosa dengan
kode RM 002-12. Hasil audit menunjukan bahwa diagnosa Malaria dan
tindakan untuk mengatasi Malaria baru diberikan setelah hasil laboratorium
diketahui pada hari ketiga perawatan. Sebenarnya sudah terdapat kecurigaan
adanya Malaria pada hari pertama karena pada saat itu telah terdapat hasil
pemeriksaan darah Malaria, namun masih diragukan. Dokter umum yang
merawat berkonsultasi dengan dokter ruangan pada hari kedua tetapi tidak
dapat dihubungi karena berada di luar kota.
b. Diagnosis tidak tepat
Terdapat 7 (tujuh) kematian yang disebabkan karena ketidak tepatan
dalam penegakkan diagnosa. Contoh kasus dengan kode RM 002-1, dimana
diagnosa pada hari pertama yakni Malaria tanpa komplikasi ternyata tidak
sesuai dengan bukti yang ada. Bukti menunjukkan bahwa seharusnya hari
pertama sudah dapat ditegakkan diagnosis Malaria dengan komplikasi Ilius
Paraltik cc Obstruksi.
Hasil audit memberikan jawaban bahwa bukti adanya Ilius Obstruksi pada
hari pertama masih dinilai lemah, konsul medis spesialistik dijawab keesokan
harinya karena perawat tidak menemukan dokter konsulen dan juga karena
hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi tidak mendukung tegaknya
diagnosa yang sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Saran untuk
puasa menjelang pemeriksaan radiologi tidak diikuti pasien, pasien makan
bubur pagi harinya. Penyebab utama laboratorium dan radiologi tidak
mendukung tegaknya diagnosa yang sesuai dengan penyakit yang diderita
pasien.
c. Pencegahan tidak adekuat
Terdapat 5 (lima) kasus kematian karena penyebab kematian tidak
dicegah dengan baik. Contoh kasus ini adalah RM 004-5 yaitu kasus kematian
akibat depresi susunan saraf pusat akibat kejang demam berulang. Tindakantindakan
untuk mencegah kejang berulang dinilai tidak diambil dengan cara
yang memadai dan tidak juga tepat pada waktu, yaitu: tidak dilakukannya
kompres dingin, tidak ada terapi ulang pemberian anti kejang supositoria
perrectal, pemasangan IVFD tidak dengan Vena Sectio sehingga intervensi
pemasangan IVFD ulang akan merangsang jangkitan kejang. Diskusi
menyimpulkan bahwa tindakan pencegahan tersebut tidak diambil dengan
cara yang memadai dan tepat waktu karena tidak ada instruksi dokter, dokter
tidak memperbaharui instruksi pada hari-hari perawatan berikutnya.
d. Penyebab tidak diketahui
Terdapat 8 (delapan) kematian karena penyebab kematian tidak diketahui,
tidak diketahui dapat disebabkan oleh komunikasi yang terbatas, tidak
dilakukan pemeriksaan catatan perkembangan, tidak melakukan pemeriksaan
vital sign, hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi meragukan dokter
utama, Contoh kasus ini adalah RM 002-1 yaitu kasus kematian karena masih
menduga pasien sesak napas sebagai akibat Penyakit TBC Paru yang diderita
pasien. Pencatatan adanya gejala sepsis dilakukan, pengobatan diarahkan
pada diagnosis utama. Hasil diskusi ditemui bahwa tidak adanya hasil
pencatatan perkembangan pasien yang dikomunikasikan dan adanya
keraguan terhadap hasil pemeriksaan Malaria dan angka leukosit serta hasil
biakan kultur, sedangkan dokter utama juga tidak dapat dihubungi.
Dari uraian di atas terdapat beberapa penyebab terjadinya kematian yang
tidak beralasan kemudian penyebab tersebut dikelompokkan dalam area
penyimpangan manajemen pelayanan kesehatan seperti tertera pada tabel
berikut ini.

Tabel Area Penyebab Kematian Tidak Beralasan

NO Penyebab dari Hasil Audit Area Penyebab Utama Jumlah
1 1. Peralatan kompres tidak tersedia
2. Suppositoria rectal tidak ada
3. Kebijakan untuk keberadaan dokter jaga ruang rawat belum ada
4. Kebijakan SMF mengatur bila dokter spesialis meninggalkan tempat tugas belum ada
5. Selang oksigen sering lepas
6. Perawat terlatih hanya dinas pagi
7. Peralatan belum siap pakai saat dibutuhkan
8. Anggota keluarga banyak menunggu
9. Ketersediaan darah segar
10. Dokter jaga ruang rawat belum ada
11. Diklat internal bagi staf klinik belum maksimal
12. Advokasi RSKA PMI belum ada hasil
Administrasi/manajemen
RS: terkait dengan fasilitas, peralatan, insentif, kebijakan, kepemimpinan,
12
2 1. Hari pertama pasien dirawat dokter umum
2. Konsultasi medis spesialis dijawab oleh dokter umum setelah mendapat penjelasan dokter utama
Staf/Bagian/Pelayanan Medis;
2
3 1. Dokter tidak menulis instruksi
2. Dokter tidak menulis instruksi dengan jelas dan benar
3. Pemasangan NGT pada hari ketiga setelah ada keluhan kembung
4. Dokter hanya menuliskan idem, terapi teruskan
5. Melaksanakan hak cuti besar
6. Konsultasi medis spesialis dijawab keesokan harinya
7. Perawat tidak menemukan dokter konsulen
8. Pasien dirawat dokter umum pada hari pertama dirawat
9. Hasil malaria diragukan Anggota SMF/individual:
9
4 1. Belum adanya Protap dan standar pelayanan laboratorium
2. Hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi belum mendukung tegaknya diagnosa
3. Pemeriksaan biakan belum maksimal hasilnya
4. Hasil malaria meragukan Pelayanan Klinik Khusus: laboratorium, radiologi, elektromedik, anastesi, tindakan operasi, dan lainnya
4
5 1. Peralatan belum siap pakai saat dibutuhkan
2. Diklat internal bagi para staf klinik dengan pengalaman yang masih rendah belum berfungsi maksimal
3. Selang oksigen sering lepas
4. Rehidrasi tidak menggunakan Venasectio
5. Anggota keluarga banyak yang menunggu di ruangan
6. Menggunakan spalk dari kardus
7. Mangkok air tersedia hanya untuk tempat cuci tangan dokter dan cuci tangan perawat
8. Persiapan catater sebagai bahan habis pakai habis
Unit pelayanan: rawat inap, rawat jalan, UGD, dsb 8
6 1. Perawat yang terlatih vena seksi tidak mudah dihubungi
2. Kurangnya pengetahuan Perawat tentang anatomi dan fisiologis sistem pernapasan
3. Selang oksigen sering lepas
4. Perawat tidak melakukan pencatatan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital
Perawat/individual 4
7 1. Instruksi dokter 1 liter/menit, perawat memasangnya 3 liter/menit
2. Tidak ada instruksi dokter Pelayanan Terapi Bukan Oleh Dokter 2
8 1. Menolak perawatan intensif
2. Pemasangan kateter cateter bukan sesaat setelah instruksi dokter dibuat
3. Saran untuk puasa menjelang pemeriksaan radiologi tidak diikuti pasien
Kondisi dan atau ketidaktaatan pasien 3
9 1. Anggota keluarga banyak yang menunggu di ruangan
2. Keluarga masih mencari donatur darah
3. Pasien belum membeli peralatan dan bahan yang dibutuhkan Faktor masyarakat 3
10 1. Keraguan terhadap hasil pemeriksaan darah untuk malaria
2. Perawat tidak melakukan pencatatan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital
Sesuatu yang memerlu kan penelitian lebih lanjut. 2

Terdapat beberapa area penting yang perlu diintervensi untuk
memperbaiki pelayanan dirawat inap yang diharapkan nantinya dapat
menurunkan jumlah kematian yang tidak beralasan. Dua Belas penyebab
kematian berada dalam area administrasi/kebijakan RSKA yang terkait dengan
fasilitas pelayanan, ketersediaan peralatan, kebijakan insentif, kebijakan
pelayanan, kebijakan SDM, advokasi dan kepemimpinan.
Kebijakan SDM sebagai contoh, yang belum menunjang struktur proses
diantaranya adalah pelatihan perawat mahir anak yang baru dimulai pada tahun
2004 dan yang diberangkatkanpun baru 2 (dua) orang, saat penelitian
berlangsung satu orang diantaranya telah lulus PNS dan ditempatkan di
Puskesmas di Kecamatan Muara Madras dan tidak ada program serupa dalam
Dokumen Anggaran Satuan Kerja RSKA tahun 2005 tetapi ada dalam Rencana
Anggaran Satuan Kerja RSKA tahun 2006. Seorang yang lain adalah kepala
ruang rawat sendiri.
Jika kebijakan SDM RSKA menunjang mutu struktur proses pelayanan,
maka sebelum ujian penerimaan PNS mereka diberikan rekomendasi dan
penyampaian surat permohonan penempatan mereka kembali ke RSKA jika
mereka lulus. Penempatan kembali mereka yang lulus akan tetap memberikan
kontribusi atas ketersediaan tenaga terlatih yang diharapkan akan lebih
berkompetensi lagi dengan adanya perubahan status kepegawaian mereka
dalam memberikan pelayanan kesehatan di rawat inap. Upaya kepemimpinan
dengan komunikasi antar pimpinan instansi daerah yang jika dilakukan akan
memberikan kontribusi dalam manajemen SDM guna peningkatan kemampuan
pemberi pelayanan. 6
Sembilan penyebab kematian berada dalam area anggota SMF/individual
terkait faktor individual. Penyebab penyimpangan yang dijadikan contoh adalah
dokter utama tidak menulis instruksi atau jikapun menulis instruksi tidak dengan
jelas dan benar sehingga pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan oleh
perawat perlu berkonsultasi lagi yang membutuhkan waktu dan
mengesampingkan kesempatan memberikan pertolongan kepada pasien tepat
pada waktunya. Riview terhadap RM kode SMF 003 catatan perkembangan dan
terapi pasien telah menerakan S-O-A-P-I-E pada setiap kali visit. Mengapa 3
(tiga) dokter utama lainnya tidak menerapkan model yang populer tersebut masih
membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Tidak menuliskan intruksi berakibat pada tidak adanya informasi pasti
bagaimana pengobatan hari ini terhadap pasien yang kondisi penyakitnya
berubah dari hari pertama dirawat. Menurut Kathie dalam tulisannya memastikan
bahwa pendokumentasian berbagai informasi tentang pasien sekecil apapun
manfaatnya akan dapat mereduksi kesalahan data pasien, mereduksi kejadian
medical error dan meningkatan dokumentasi keperawatan.7
Keraguan atas pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan fisik
yang terjadi dapat saja terjadi pada dokter yang berada di daerah sehubungan
dengan akses yang terbatas untuk mendapatkan informasi mutakhir.
Diperkirakan dokter umum yang ingin meng-update pengetahuannya harus
membaca 19 artikel dalam jurnal perhari selama 365 hari setahun, faktanya
dokter rata-rata hanya menyempatkan membaca jurnal kurang dari 1 jam
perminggu selanjutnya dikemukakan bahwa sebagian terbesar praktik
kedokteran dilaksanakan dengan menafikkan perkembangan ilmu, penelitian
yang telah menyerap banyak sumber daya manusia, waktu, biaya, bahkan
pengorbanan pasien, hasilnya sebagian dibiarkan mubazir. 8
Atul, mengemukakan kisah tentang keputusan pengobatan dan tindakan
diambil dari ketidakpastian terhadap pasien dengan sellulitis yang akhirnya
dipastikan menderita Fasiitis Nekrotikans. Awal terapi dilakukan dengan
pemberian antibiotik, anti tetanus, pereda nyeri; ruam merah menyebar setelah
beberapa hari kemudian padahal ada kecurigaan Fasiitis Nekrotikans sehari
setelah pasien masuk RS. Keputusan penanganan diambil setelah
mempertimbangkan jawaban dari 2 (dua) dokter residen senior, pasien masih
muda dan hubungan pasien dengan orangtuanya sangat begitu mesra sesuatu
yang sangat jarang terjadi di Amerika.9
Delapan penyebab kematian berada dalam area unit pelayanan seperti
instalasi rawat inap, instalasi gawat darurat, kamar operasi dan ICU. Penyebab
penyimpangan yang dijadikan contoh pembahasan adalah pendidikan dan
pelatihan (diklat) internal yang menjadi tanggungjawab Gugus Kendali Mutu
RSKA belum berjalan maksimal. Diskusi lebih lanjut menyimpulkan jika program
Diklat sekali dalam seminggu terhadap perawat berlangsung dengan baik dan
berkesinambungan maka perawat akan memiliki pengetahuan yang diharapkan
mampu meningkatkan kemampuan diri dalam pemberian pelayanan.
Peralatan sebagai unsur dalam manajemen pelayanan kesehatan dengan
kriteria tersedia dan siap pakai berbeda maknanya dengan ada yang dapat saja
tidak siap untuk dipakai. Ketersediaan adalah tercukupi jika penggunaannya
sesuai dengan jumlah pasien yang membutuhkan, tidak harus menghentikan
penggunaan ventilator pada seseorang yang mulai mereda gangguan
pernapasannya jika dibutuhkan oleh orang lain yang baru mengalami gangguan
pernapasan. Dibutuhkan anggaran untuk pemeliharaan,10 orang yang melakukan
pemeliharaan dan jadwalnya serta prosedur lainnya agar peralatan tersebut
selalu dalam keadaan siap pakai. Kondisi seperti ini dapat membantu pelayanan
dan dapat mereduksi terjadinya medication error yang dapat berakibat pada
kematian pasien.11

Kesimpulan

Kematian pasien > 48 jam tercatat 413 orang dan RM yang diaudit
berjumlah 102 set RM. Persentase kejadian kematian tertinggi terhadap total
kematian terjadi pada tahun 2005 sedangkan terhadap jumlah pasien terjadi
pada tahun 2004. kematian terbanyak berdasarkan kode dokter 002 baik
terhadap total kematian maupun terhadap jumlah pasien. Enam puluh persen
kematian menelan biaya dibawah Rp. 3.000.000,oo sedangkan menurut kelas
perawatan terbanyak terjadi di kelas perawatan intensif. Kematian yang terjadi
diusia > 45 tahun berjumlah 49% dengan jenis kelamin terbanyak adalah
perempuan, sedangkan waktu kejadian kematian meningkat pada bulan
September dan Desember dan perawat paling sering menjadi saksi dalam
kematian pasien ini. Keluarga pasien menjadi penjamin biaya perawatan pasien
selama dirawat sampai meninggal.

Dari audit kematian ditemui kematian tidak beralasan yang terdiri dari:
1. 8 kematian terjadi karena kejadian penyebab tidak dikenal;
2. 7 kematian karena diagnosa tidak tepat;
3. 5 kematian terjadi karena pencegahan yang dilakukan tidak adekuat; dan
4. 1 kematian karena diagnosa utama terlambat ditegakkan

Penyebab-penyebab kematian > 48 jam yang tidak beralasan berada
dalam semua area penyimpangan dengan rincian area: administrasi/manajemen
RS dengan 12 penyebab, Anggota SMF/individual 9 penyebab, unit pelayanan
dengan 8 penyebab, pelayanann klinik khusus 4 penyebab, dan perawat/
individual dengan 4 penyebab, sedangkan kondisi dan atau ketidak taatan pasien
dengan 3 penyebab, faktor masyarakat dengan 3 penyebab, sesuatu yang
memerlukan penelitian lebih lanjut dengan 2 penyebab dan. 2 penyebab
termasuk dalam area Staf/Bagian pelayanan medik.

B. Saran

Pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien terdiri dari serangkaian
proses-proses dari beberapa sistem, sistem ini berhubungan dengan unsurunsur
manajemen seperti peralatan, manusia, kebijakan, dan anggaran.
Penyimpangan dalam area-area penting manajemen pelayanan kesehatan yang
menyebabkan kematian tersebut, memerlukan tindakan terstruktur dengan
manajemen resiko dan manajemen mutu.

Menginvetarisir akar penyebab masalah dari faktor internal yang
mempengaruhi kualitas layanan kesehatan dan administrasi RM terutama dalam
bidang: faktor pendidikan SDM, faktor pelatihan dan tambahan pengetahuan,
faktor masa kerja dan lama Jabatan, faktor beban kerja, faktor fasilitas dan
peralatan, faktor Standart Operating Procedure dan atau instruksi kerja, faktor
administrasi dan alur layanan, faktor pengendalian dan evaluasi, faktor
manajemen rawat inap dan faktor staf medis fungsional.

Dianjurkan pula langkah-langkah umum sebagai berikut untuk pemecahan
masalah mutu dan efisiensi dan efektifitas pelayanan rumah sakit:
1) Memecahkan struktur masalah yang sudah teridentifikasi kedalam
komponen-komponennya, menganalisis komponen-komponen itu sehingga
ditemukan akar masalah. Akar masalah adalah penyebab paling dasar dari
masalah etika yang terjadi. Ia dapat berupa kelemahan pada manusia,
kepemimpinan, manajemen, budaya organisasi, sarana, alat, sistem,
prosedur, atau faktor-faktor lain; 12
2) Melakukan analisis lebih dalam tentang akar masalah yang sudah ditemukan
(root cause analysis), untuk menetapkan arah pemecahannya;
3) Menetapkan dan memilih alternatif untuk pemecahan akar masalah;
4) Memantau dan mengevaluasi penerapan upaya pemecahan yang sudah
dilaksanakan;
5) Melakukan tindakan koreksi jika masalah etika belum terpecahkan atau
terulang lagi terjadi. Tindakan koreksi yang dapat menimbulkan masalah
etika baru adalah jika manusia sebagai penyebab akar masalah yang
berulang-ulang dikeluarkan dari rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA:

1. Depkes, (2005) SK Menkes No: 496/MENKES/IV/2005 tentang Pedoman Audit
Medik di Rumah Sakit. http://www.depkes.ri.go.id/
2. Depkes, (2002) Standar Asuhan Keperawatan. Dirjen RSU dan Pendidikan.
Jakarta.
3. Wiyono, (1999) Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan: Teori, Strategi dan
Aplikasi. Airlangga University Press, Surabaya.
4. Soejadi, (1996) Siregar, P. (2001). Hubungan Audit Rekam Medis, Insentif,
Beban Kerja dengan Kepatuhan Dokter dan Perawat Dalam Pengisian Rekam
Medis di RSUD Purwodadi. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah
Mada. Jogjakarta.
5. Moeloek, (2005) Perlukah Audit Medik Di Rumah Sakit, Kompas On Line.
6. Guwandi,. J,. (2005) Medical Error dan Hukum Medis. Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
7. Johnson, Kathie et al, (2006) A Nurse-driven System for Improving Patient
Quality Outcomes. J. Nurs Care Qual, Vol 21. No 2 pp 168-175. Lippincott.
William & Wilkins, Inc
8. Sastroasmoro, Sudigdo. (2000) Logika dalam Kedokteran: Dari Hippocrates, Ibn
Sina, hingga Wacana “Evidence-Based Medicine”. Pidato pada Pengukuhan
sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Kesehatan Anak pada FKUI, Jakarta.
9. Gewande, Atul, (2005) Komplikasi, PT Serambi Ilmu Semesta. Jakarta
10.Colaizzo,. Dominic. A (2003) Introducing to Risk Financing, Risk Management
Handbook For Health Care Organizations, Roberta Caroll, editor,4th Edition,
Americans Soceity for Healthcare Risk Management, AHA Press.
11.Stiles, R.E. (1997) What Is the Cost of Controlling Quality? Activity-Based Cost
Accounting Offers an Answer. Hospital & Health Services Administration.
Academic Research Library, 42,2, p. 193.
12. Kizer, Kenneth. W & Stegun, Melissa,. B, (2002) Serious Reportable Adverse
Events in Health Care, Advances in Patient Safety Vol 4. p. 339-352

mutu pelayanan rumahsakit dari audit kematian

Evaluasi Mutu Pelayanan Rawat Inap Melalui Audit Kematian Di RSD Kol. Abundjani Bangko Provinsi Jambi Tahun 2005
Fri, 15/02/2008 - 2:32am — joni rasmanto

EVALUASI MUTU PELAYANAN RAWAT INAP MELALUI AUDIT KEMATIAN
DI RSD KOL. ABUNDJANI BANGKO PROVINSI JAMBI TAHUN 2005

THE EVALUATION INPATIENT CARE QUALITY
BY MORTALITY AUDIT IN KOL. ABUNDJANI DISTRICT HOSPITAL
IN JAMBI PROVINCE 2005.

Joni Rasmanto1, Tjahjono Koentjoro2, Hanevi Djasri3

INTISARI

Latar Belakang: Peningkatan angka kematian yang terjadi di Rumah Sakit Daerah Kol.
Abundjani Bangko (RSKA), Kab. Merangin Prov. Jambi dari tahun 2002-2005 memerlukan tindakan evaluasi kritis, karena peningkatan kematian dapat dijadikan salah satu penyebab diperlukannya audit medik atau dapat menjadi topik dalam audit medik di rumah sakit. Audit kematian sebagai evaluasi kritis dilakukan dalam upaya perbaikan mutu pelayanan kesehatan.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan-alasan kematian
yang tidak beralasan dari penyimpangan dalam area manajemen pelayanan kesehatan.
Metode Penelitian: Jenis penelitian adalah restrospective review, meriview kematian
yang tidak beralasan dengan menggunakan daftar tilik penyimpangan kematian di RSKA.

Hasil: Dari 413 set RM kematian pasien yang diaudit berjumlah 102 set, kematian tertinggi dari total kematian terjadi pada 2005, terhadap jumlah pasien terjadi pada 2004, terbanyak menurut kode 002. 60% kematian berbiaya < Rp. 3.000.000,oo kematian
terjadi di kelas perawatan intensif. Kematian terjadi diusia > 45 tahun berjumlah 49%
dengan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan, waktu kematian meningkat di bulan
September dan Desember dan perawat paling sering menjadi saksi kematian pasien.
Keluarga merupakan penjamin terbesar biaya perawatan.

Dari 21 kematian tidak beralasan terdistribusi: 8 kematian terjadi karena kejadian
penyebab tidak dikenal; 7 kematian karena diagnosa tidak tepat; 5 kematian terjadi
karena pencegahan yang dilakukan tidak adekuat; dan 1 kematian karena diagnosa utama terlambat ditegakkan. Penyebab-penyebab terpenting terjadi dalam area:
administrasi/manajemen, Anggota SMF/individual, unit pelayanan, dan pelayanan klinik
khusus. RM pasien belum lengkap. Secara teoritis mutu administrasi dan RM RSKA adalah belum baik. Kematian tidak beralasan memberikan gambaran bagaimana penegakkan diagnosa penyakit, anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pencegahan dan pengobatan.

Kesimpulan: Penyebab-penyebab penyimpangan kematian terpenting sebagai hasil dari audit dan riview terjadi dalam area: administrasi/manajemen, Anggota SMF/individual, unit pelayanan rawat inap, dan pelayanan klinik khusus.

Kata Kunci: audit kematian, kematian tidak beralasan, mutu pelayanan rawat inap.
1) RSD KOL. ABUNDJANI BANGKO, KAB. MERANGIN. PROVINSI JAMBI
2) BAPELKES GOMBONG
3) PROGRAM PASCA SARJANA IKM FK UGM

EVALUASI MUTU PELAYANAN RAWAT INAP MELALUI AUDIT KEMATIAN
DI RSD KOL. ABUNDJANI BANGKO PROVINSI JAMBI TAHUN 2005

Pendahuluan

Peningkatan angka kematian yang terjadi di Rumah Sakit Daerah Kol. Abundjani Bangko (RSKA), Kabupaten Merangin Provinsi Jambi dari tahun 2002-2005 memerlukan tindakan evaluasi kritis, karena kematian dapat dijadikan salah satu penyebab diperlukannya atau dapat menjadi topik pelaksanaan audit medik bagi rumah sakit.1 Angka kematian merupakan salah satu indikator yang berhubungan/mengacu dengan aspek pelayanan medik. Total kematian pasien > 48 jam dapat menggambarkan bagaimana mutu pelayanan di rumah sakit dan bagaimana tenaga profesional melaksanakan standar dan prosedur-prosedur pelayanan, baik secara klinik maupun secara administrasi kepada pasien.2
Berbagai kegiatan untuk mendukung manajemen mutu telah dilakukan RSKA tetapi belum mempengaruhi adanya perbaikan jika dilihat dari peningkatan angka kematian > 48 jam dan masih adanya pasien instalasi rawat inap yang dirujuk ke rumah sakit lain antara tahun 2002-2005. Jika dihubungkan dengan mutu pelayanan, hal tersebut dapat memberikan gambaran masih tingginya angka mortalitas, tingginya angka mortalitas dapat memberikan asumsi rendahnya mutu pelayanan rumah sakit. Kematian pasien secara klinik dapat disebabkan oleh gagalnya tahapan menegakkan diagnosa penyakit, tidak lengkapnya anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dan dapat pula sebagai akibat dari informasi yang dibutuhkan dokter tidak dapat diberikan oleh pasien dan atau keluarganya sehingga upaya pelayanan dapat saja tidak tepat sasaran dan tidak adekuat. Catatan medis pada fase kritis menjelang kematian pasien dari rekam medik merupakan informasi dan komponen penting dalam manajemen mutu di rumah
sakit.
The American College of Surgeons (ACS) memformulasikan standar untuk pekerjaan profesional di rumah sakit, antara lain ada 5 (lima) butir yang penting yang berhubungan dengan kematian, serta ada batas ambangnya dan tidak terlalu sulit untuk mengumpulkan datanya, mencakup: angka kematian kasar; angka kematian pasca bedah; angka kematian anastesi; angka kematian persalinan dan angka kematian bayi.4 Standar Kualitas Pelayanan Medik dapat dilihat dari tinggi rendahnya angka kematian di rumah sakit dan sebagai indikatornya angka berikut yang merupakan acuan umum: angka kematian kasar 3-4%; angka kematian pasca bedah 1-2%; angka kematian anastesi < 1%;
angka kematian persalinan 1-2‰ dan angka kematian bayi 15-20‰.2 Departemen Kesehatan mengharuskan rumah sakit melakukan audit medis, diharapkan rumah sakit bertanggung jawab untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan standar yang tinggi sesuai dengan kondisi rumah sakit sehingga terwujudnya pelayanan medik prima di rumah sakit. Aspek mutu pelayanan medik di rumah sakit berkaitan erat dengan masalah medikolegal 5.
Permasalahan pokok yang ingin diketahui dalam penelitian ini adalah: penyebab kematian di instalasi rawat inap RSKA dari tahun 2002-2005; persentase kematian yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan dengan harapan hasil penelitian dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan perbaikan mutu pelayanan.

Bahan dan Cara Penelitian.

Audit termasuk penelitian jenis kualitatif, dengan metode retrospektif riview. Peneliti menggunakan “Daftar Tilik Analisis Penyimpangan Mortalitas” untuk mengetahui alasan kematian > 48 jam tahun 2002-2005 di RSKA.
Hasil Penelitian
Hasil audit ditemui distribusi kematian menurut tahun kejadian kematian, menurut nomor kode SMF yang merawat, menurut biaya perawatan, menurut kelas perawatan, menurut kelompok umur, menurut jenis kelamin, menurut bulan kejadian, menurut kesaksian, menurut penjamin biaya. Sedangkan untuk kematian tidak beralasan dideskripsikan sebagai berikut:
a. Diagnosa terlambat.
Satu kasus kematian dengan diagnosa Decompensatio Cordis + Malaria Falsiparum yang terjadi karena keterlambatan penegakan diagnosa dengan kode RM 002-12. Hasil audit menunjukan bahwa diagnosa Malaria dan tindakan untuk mengatasi Malaria baru diberikan setelah hasil laboratorium diketahui pada hari ketiga perawatan. Sebenarnya sudah terdapat kecurigaan adanya Malaria pada hari pertama karena pada saat itu telah terdapat hasil pemeriksaan darah Malaria, namun masih diragukan. Dokter umum yang merawat berkonsultasi dengan dokter ruangan pada hari kedua tetapi tidak dapat dihubungi karena berada di luar kota.
b. Diagnosis tidak tepat
Terdapat 7 (tujuh) kematian yang disebabkan karena ketidak tepatan dalam penegakkan diagnosa. Contoh kasus dengan kode RM 002-1, dimana diagnosa pada hari pertama yakni Malaria tanpa komplikasi ternyata tidak sesuai dengan bukti yang ada. Bukti menunjukkan bahwa seharusnya hari pertama sudah dapat ditegakkan diagnosis Malaria dengan komplikasi Ilius Paraltik cc Obstruksi.
Hasil audit memberikan jawaban bahwa bukti adanya Ilius Obstruksi pada hari pertama masih dinilai lemah, konsul medis spesialistik dijawab keesokan harinya karena perawat tidak menemukan dokter konsulen dan juga karena hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi tidak mendukung tegaknya diagnosa yang sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Saran untuk puasa menjelang pemeriksaan radiologi tidak diikuti pasien, pasien makan bubur pagi harinya. Penyebab utama laboratorium dan radiologi tidak mendukung tegaknya diagnosa yang sesuai dengan penyakit yang diderita pasien.
c. Pencegahan tidak adekuat
Terdapat 5 (lima) kasus kematian karena penyebab kematian tidak dicegah dengan baik. Contoh kasus ini adalah RM 004-5 yaitu kasus kematian akibat depresi susunan saraf pusat akibat kejang demam berulang. Tindakantindakan untuk mencegah kejang berulang dinilai tidak diambil dengan cara yang memadai dan tidak juga tepat pada waktu, yaitu: tidak dilakukannya kompres dingin, tidak ada terapi ulang pemberian anti kejang supositoria perrectal, pemasangan IVFD tidak dengan Vena Sectio sehingga intervensi pemasangan IVFD ulang akan merangsang jangkitan kejang. Diskusi
menyimpulkan bahwa tindakan pencegahan tersebut tidak diambil dengan cara yang memadai dan tepat waktu karena tidak ada instruksi dokter, dokter tidak memperbaharui instruksi pada hari-hari perawatan berikutnya.
d. Penyebab tidak diketahui
Terdapat 8 (delapan) kematian karena penyebab kematian tidak diketahui, tidak diketahui dapat disebabkan oleh komunikasi yang terbatas, tidak dilakukan pemeriksaan catatan perkembangan, tidak melakukan pemeriksaan vital sign, hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi meragukan dokter utama, Contoh kasus ini adalah RM 002-1 yaitu kasus kematian karena masih menduga pasien sesak napas sebagai akibat Penyakit TBC Paru yang diderita pasien. Pencatatan adanya gejala sepsis dilakukan, pengobatan diarahkan pada diagnosis utama. Hasil diskusi ditemui bahwa tidak adanya hasil pencatatan perkembangan pasien yang dikomunikasikan dan adanya
keraguan terhadap hasil pemeriksaan Malaria dan angka leukosit serta hasil biakan kultur, sedangkan dokter utama juga tidak dapat dihubungi.
Dari uraian di atas terdapat beberapa penyebab terjadinya kematian yang tidak beralasan kemudian penyebab tersebut dikelompokkan dalam area penyimpangan manajemen pelayanan kesehatan seperti tertera pada tabel berikut ini.

Tabel Area Penyebab Kematian Tidak Beralasan

NO Penyebab dari Hasil Audit Area Penyebab Utama Jumlah
1 1. Peralatan kompres tidak tersedia
2. Suppositoria rectal tidak ada
3. Kebijakan untuk keberadaan dokter jaga ruang rawat belum ada
4. Kebijakan SMF mengatur bila dokter spesialis meninggalkan tempat tugas belum ada
5. Selang oksigen sering lepas
6. Perawat terlatih hanya dinas pagi
7. Peralatan belum siap pakai saat dibutuhkan
8. Anggota keluarga banyak menunggu
9. Ketersediaan darah segar
10. Dokter jaga ruang rawat belum ada
11. Diklat internal bagi staf klinik belum maksimal
12. Advokasi RSKA PMI belum ada hasil
Administrasi/manajemen
RS: terkait dengan fasilitas, peralatan, insentif, kebijakan, kepemimpinan,12
2 1. Hari pertama pasien dirawat dokter umum
2. Konsultasi medis spesialis dijawab oleh dokter umum setelah mendapat penjelasan dokter utama Staf/Bagian/Pelayanan Medis;2
3 1. Dokter tidak menulis instruksi
2. Dokter tidak menulis instruksi dengan jelas dan benar
3. Pemasangan NGT pada hari ketiga setelah ada keluhan kembung
4. Dokter hanya menuliskan idem, terapi teruskan
5. Melaksanakan hak cuti besar
6. Konsultasi medis spesialis dijawab keesokan harinya
7. Perawat tidak menemukan dokter konsulen
8. Pasien dirawat dokter umum pada hari pertama dirawat
9. Hasil malaria diragukan Anggota SMF/individual:9
4 1. Belum adanya Protap dan standar pelayanan laboratorium
2. Hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi belum mendukung tegaknya diagnosa
3. Pemeriksaan biakan belum maksimal hasilnya
4. Hasil malaria meragukan Pelayanan Klinik Khusus: laboratorium, radiologi, elektromedik, anastesi, tindakan operasi, dan lainnya 4
5 1. Peralatan belum siap pakai saat dibutuhkan
2. Diklat internal bagi para staf klinik dengan pengalaman yang masih rendah belum berfungsi maksimal
3. Selang oksigen sering lepas
4. Rehidrasi tidak menggunakan Venasectio
5. Anggota keluarga banyak yang menunggu di ruangan
6. Menggunakan spalk dari kardus
7. Mangkok air tersedia hanya untuk tempat cuci tangan dokter dan cuci tangan perawat
8. Persiapan catater sebagai bahan habis pakai habis
Unit pelayanan: rawat inap, rawat jalan, UGD, dsb 8
6 1. Perawat yang terlatih vena seksi tidak mudah dihubungi
2. Kurangnya pengetahuan Perawat tentang anatomi dan fisiologis sistem pernapasan
3. Selang oksigen sering lepas
4. Perawat tidak melakukan pencatatan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital
Perawat/individual 4
7 1. Instruksi dokter 1 liter/menit, perawat memasangnya 3 liter/menit
2. Tidak ada instruksi dokter Pelayanan Terapi Bukan Oleh Dokter 2
8 1. Menolak perawatan intensif
2. Pemasangan kateter cateter bukan sesaat setelah instruksi dokter dibuat
3. Saran untuk puasa menjelang pemeriksaan radiologi tidak diikuti pasien
Kondisi dan atau ketidaktaatan pasien 3
9 1. Anggota keluarga banyak yang menunggu di ruangan
2. Keluarga masih mencari donatur darah
3. Pasien belum membeli peralatan dan bahan yang dibutuhkan Faktor masyarakat 3
10 1. Keraguan terhadap hasil pemeriksaan darah untuk malaria
2. Perawat tidak melakukan pencatatan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital
Sesuatu yang memerlu kan penelitian lebih lanjut. 2

Terdapat beberapa area penting yang perlu diintervensi untuk memperbaiki pelayanan dirawat inap yang diharapkan nantinya dapat menurunkan jumlah kematian yang tidak beralasan. Dua Belas penyebab kematian berada dalam area administrasi/kebijakan RSKA yang terkait dengan fasilitas pelayanan, ketersediaan peralatan, kebijakan insentif, kebijakan pelayanan, kebijakan SDM, advokasi dan kepemimpinan.
Kebijakan SDM sebagai contoh, yang belum menunjang struktur proses diantaranya adalah pelatihan perawat mahir anak yang baru dimulai pada tahun 2004 dan yang diberangkatkanpun baru 2 (dua) orang, saat penelitian berlangsung satu orang diantaranya telah lulus PNS dan ditempatkan di Puskesmas di Kecamatan Muara Madras dan tidak ada program serupa dalam Dokumen Anggaran Satuan Kerja RSKA tahun 2005 tetapi ada dalam Rencana Anggaran Satuan Kerja RSKA tahun 2006. Seorang yang lain adalah kepala ruang rawat sendiri.
Jika kebijakan SDM RSKA menunjang mutu struktur proses pelayanan, maka sebelum ujian penerimaan PNS mereka diberikan rekomendasi dan penyampaian surat permohonan penempatan mereka kembali ke RSKA jika mereka lulus. Penempatan kembali mereka yang lulus akan tetap memberikan kontribusi atas ketersediaan tenaga terlatih yang diharapkan akan lebih berkompetensi lagi dengan adanya perubahan status kepegawaian mereka dalam memberikan pelayanan kesehatan di rawat inap. Upaya kepemimpinan dengan komunikasi antar pimpinan instansi daerah yang jika dilakukan akan memberikan kontribusi dalam manajemen SDM guna peningkatan kemampuan pemberi pelayanan. 6
Sembilan penyebab kematian berada dalam area anggota SMF/individual terkait faktor individual. Penyebab penyimpangan yang dijadikan contoh adalah dokter utama tidak menulis instruksi atau jikapun menulis instruksi tidak dengan jelas dan benar sehingga pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan oleh perawat perlu berkonsultasi lagi yang membutuhkan waktu dan mengesampingkan kesempatan memberikan pertolongan kepada pasien tepat pada waktunya. Riview terhadap RM kode SMF 003 catatan perkembangan dan terapi pasien telah menerakan S-O-A-P-I-E pada setiap kali visit. Mengapa 3 (tiga) dokter utama lainnya tidak menerapkan model yang populer tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Tidak menuliskan intruksi berakibat pada tidak adanya informasi pasti bagaimana pengobatan hari ini terhadap pasien yang kondisi penyakitnya berubah dari hari pertama dirawat. Menurut Kathie dalam tulisannya memastikan bahwa pendokumentasian berbagai informasi tentang pasien sekecil apapun manfaatnya akan dapat mereduksi kesalahan data pasien, mereduksi kejadian medical error dan meningkatan dokumentasi keperawatan.7
Keraguan atas pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan fisik yang terjadi dapat saja terjadi pada dokter yang berada di daerah sehubungan dengan akses yang terbatas untuk mendapatkan informasi mutakhir.
Diperkirakan dokter umum yang ingin meng-update pengetahuannya harus membaca 19 artikel dalam jurnal perhari selama 365 hari setahun, faktanya dokter rata-rata hanya menyempatkan membaca jurnal kurang dari 1 jam perminggu selanjutnya dikemukakan bahwa sebagian terbesar praktik kedokteran dilaksanakan dengan menafikkan perkembangan ilmu, penelitian yang telah menyerap banyak sumber daya manusia, waktu, biaya, bahkan pengorbanan pasien, hasilnya sebagian dibiarkan mubazir. 8
Atul, mengemukakan kisah tentang keputusan pengobatan dan tindakan diambil dari ketidakpastian terhadap pasien dengan sellulitis yang akhirnya dipastikan menderita Fasiitis Nekrotikans. Awal terapi dilakukan dengan pemberian antibiotik, anti tetanus, pereda nyeri; ruam merah menyebar setelah beberapa hari kemudian padahal ada kecurigaan Fasiitis Nekrotikans sehari setelah pasien masuk RS. Keputusan penanganan diambil setelah mempertimbangkan jawaban dari 2 (dua) dokter residen senior, pasien masih muda dan hubungan pasien dengan orangtuanya sangat begitu mesra sesuatu yang sangat jarang terjadi di Amerika.9
Delapan penyebab kematian berada dalam area unit pelayanan seperti instalasi rawat inap, instalasi gawat darurat, kamar operasi dan ICU. Penyebab penyimpangan yang dijadikan contoh pembahasan adalah pendidikan dan pelatihan (diklat) internal yang menjadi tanggungjawab Gugus Kendali Mutu RSKA belum berjalan maksimal. Diskusi lebih lanjut menyimpulkan jika program Diklat sekali dalam seminggu terhadap perawat berlangsung dengan baik dan berkesinambungan maka perawat akan memiliki pengetahuan yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan diri dalam pemberian pelayanan.
Peralatan sebagai unsur dalam manajemen pelayanan kesehatan dengan kriteria tersedia dan siap pakai berbeda maknanya dengan ada yang dapat saja tidak siap untuk dipakai. Ketersediaan adalah tercukupi jika penggunaannya sesuai dengan jumlah pasien yang membutuhkan, tidak harus menghentikan penggunaan ventilator pada seseorang yang mulai mereda gangguan pernapasannya jika dibutuhkan oleh orang lain yang baru mengalami gangguan pernapasan. Dibutuhkan anggaran untuk pemeliharaan,10 orang yang melakukan pemeliharaan dan jadwalnya serta prosedur lainnya agar peralatan tersebut
selalu dalam keadaan siap pakai. Kondisi seperti ini dapat membantu pelayanan
dan dapat mereduksi terjadinya medication error yang dapat berakibat pada kematian pasien.11

Kesimpulan

Kematian pasien > 48 jam tercatat 413 orang dan RM yang diaudit berjumlah 102 set RM. Persentase kejadian kematian tertinggi terhadap total kematian terjadi pada tahun 2005 sedangkan terhadap jumlah pasien terjadi pada tahun 2004. kematian terbanyak berdasarkan kode dokter 002 baik terhadap total kematian maupun terhadap jumlah pasien. Enam puluh persen kematian menelan biaya dibawah Rp. 3.000.000,oo sedangkan menurut kelas perawatan terbanyak terjadi di kelas perawatan intensif. Kematian yang terjadi diusia > 45 tahun berjumlah 49% dengan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan, sedangkan waktu kejadian kematian meningkat pada bulan September dan Desember dan perawat paling sering menjadi saksi dalam kematian pasien ini. Keluarga pasien menjadi penjamin biaya perawatan pasien selama dirawat sampai meninggal.

Dari audit kematian ditemui kematian tidak beralasan yang terdiri dari:
1. 8 kematian terjadi karena kejadian penyebab tidak dikenal;
2. 7 kematian karena diagnosa tidak tepat;
3. 5 kematian terjadi karena pencegahan yang dilakukan tidak adekuat; dan
4. 1 kematian karena diagnosa utama terlambat ditegakkan

Penyebab-penyebab kematian > 48 jam yang tidak beralasan berada dalam semua area penyimpangan dengan rincian area: administrasi/manajemen RS dengan 12 penyebab, Anggota SMF/individual 9 penyebab, unit pelayanan dengan 8 penyebab, pelayanann klinik khusus 4 penyebab, dan perawat/individual dengan 4 penyebab, sedangkan kondisi dan atau ketidak taatan pasien dengan 3 penyebab, faktor masyarakat dengan 3 penyebab, sesuatu yang memerlukan penelitian lebih lanjut dengan 2 penyebab dan. 2 penyebab termasuk dalam area Staf/Bagian pelayanan medik.

B. Saran

Pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien terdiri dari serangkaian proses-proses dari beberapa sistem, sistem ini berhubungan dengan unsurunsur manajemen seperti peralatan, manusia, kebijakan, dan anggaran.
Penyimpangan dalam area-area penting manajemen pelayanan kesehatan yang menyebabkan kematian tersebut, memerlukan tindakan terstruktur dengan manajemen resiko dan manajemen mutu.

Menginvetarisir akar penyebab masalah dari faktor internal yang mempengaruhi kualitas layanan kesehatan dan administrasi RM terutama dalam bidang: faktor pendidikan SDM, faktor pelatihan dan tambahan pengetahuan, faktor masa kerja dan lama Jabatan, faktor beban kerja, faktor fasilitas dan peralatan, faktor Standart Operating Procedure dan atau instruksi kerja, faktor administrasi dan alur layanan, faktor pengendalian dan evaluasi, faktor manajemen rawat inap dan faktor staf medis fungsional.

Dianjurkan pula langkah-langkah umum sebagai berikut untuk pemecahan masalah mutu dan efisiensi dan efektifitas pelayanan rumah sakit:
1) Memecahkan struktur masalah yang sudah teridentifikasi kedalam komponen-komponennya, menganalisis komponen-komponen itu sehingga ditemukan akar masalah. Akar masalah adalah penyebab paling dasar dari masalah etika yang terjadi. Ia dapat berupa kelemahan pada manusia, kepemimpinan, manajemen, budaya organisasi, sarana, alat, sistem, prosedur, atau faktor-faktor lain; 12
2) Melakukan analisis lebih dalam tentang akar masalah yang sudah ditemukan (root cause analysis), untuk menetapkan arah pemecahannya;
3) Menetapkan dan memilih alternatif untuk pemecahan akar masalah;
4) Memantau dan mengevaluasi penerapan upaya pemecahan yang sudah dilaksanakan;
5) Melakukan tindakan koreksi jika masalah etika belum terpecahkan atau terulang lagi terjadi. Tindakan koreksi yang dapat menimbulkan masalah etika baru adalah jika manusia sebagai penyebab akar masalah yang berulang-ulang dikeluarkan dari rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA:

1. Depkes, (2005) SK Menkes No: 496/MENKES/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medik di Rumah Sakit. http://www.depkes.ri.go.id/
2. Depkes, (2002) Standar Asuhan Keperawatan. Dirjen RSU dan Pendidikan. Jakarta.
3. Wiyono, (1999) Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan: Teori, Strategi dan Aplikasi. Airlangga University Press, Surabaya.
4. Soejadi, (1996) Siregar, P. (2001). Hubungan Audit Rekam Medis, Insentif, Beban Kerja dengan Kepatuhan Dokter dan Perawat Dalam Pengisian Rekam Medis di RSUD Purwodadi. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Jogjakarta.
5. Moeloek, (2005) Perlukah Audit Medik Di Rumah Sakit, Kompas On Line.
6. Guwandi,. J,. (2005) Medical Error dan Hukum Medis. Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
7. Johnson, Kathie et al, (2006) A Nurse-driven System for Improving Patient
Quality Outcomes. J. Nurs Care Qual, Vol 21. No 2 pp 168-175. Lippincott. William & Wilkins, Inc
8. Sastroasmoro, Sudigdo. (2000) Logika dalam Kedokteran: Dari Hippocrates, Ibn
Sina, hingga Wacana “Evidence-Based Medicine”. Pidato pada Pengukuhan sebagai Guru Besar Tetap dalam Ilmu Kesehatan Anak pada FKUI, Jakarta.
9. Gewande, Atul, (2005) Komplikasi, PT Serambi Ilmu Semesta. Jakarta
10.Colaizzo,. Dominic. A (2003) Introducing to Risk Financing, Risk Management
Handbook For Health Care Organizations, Roberta Caroll, editor,4th Edition, Americans Soceity for Healthcare Risk Management, AHA Press.
11.Stiles, R.E. (1997) What Is the Cost of Controlling Quality? Activity-Based Cost
Accounting Offers an Answer. Hospital & Health Services Administration. Academic Research Library, 42,2, p. 193.
12. Kizer, Kenneth. W & Stegun, Melissa,. B, (2002) Serious Reportable Adverse
Events in Health Care, Advances in Patient Safety Vol 4. p. 339-352